Surat dari sahabat 2


Buat renungan sesama kita yang memang berminat tentang Hakikat, agar dapat difikirkan dengan perlahan-lahan agar mencapai matlamat yang sebenar ..

Makrifat
Makrifat adalah suatu topik yang sangat sukar untuk difahami, banyak orang tidak mengerti tetapi beranggapan faham,.. mereka beranggapan ilmu makrifat itu adalah Makrifat Ilmu… tidak sedikitpun menyentuh Makrifat, kerana apa,… kerana ilmu adalah yang berkaitan dengan alam. … alam yang dijadikan Tuhan dan alam bukan Tuhan . Sedangkan Makrifat adalah yang bersangkutan dengan Dzat Allah Yang Mutlak , iaitu Tuhan Semesta Alam. Sungguh jauh perbezaannya, contohnya orang yang mempunyai ilmu tentang kereta, sebut saja tentang kereta ia sangat faham tentang kereta,..tetapi malangnya dia sendiri tidak ada kereta, hendak pergi ke mana-mana pun terpaksa sewa teksi atau bas. Beginikah yang dikatakan Makrifat, tentu sekali tidak… Makrifat adalah berkaitan dengan pengalaman , hal, dzauk,..tetapi bukan yang berkaitan dengan ilmu. Seseorang yang bermakrifat, yang sungguh-sungguh dalam  Makrifatnya kepada Allah, bukan sekadar teori semata, tetapi telah benar-benar meresapi Makrifat itu, …. malahan telah menjadi SATU dalam pandangan Tauhid Maka,  jika mereka mati, sesungguhnya mereka tidak mati, tetapi mereka hidup di sisi Allah dan mendapat Rahmat Nya. Allah mengharamkan cacing-cacing dan ulat-ulat tanah daripada memakan jasadnya yang telah dikuburkan itu,…walaupun telah dikuburkan beratus-ratus tahun,  jasadnya masih tetap tidak binasa, malahan masih seperti baru dikebumikan. Segar tidak hancur dan tidak mengalami perubahan, kelihatan seperti orang yang dilamun mimpi indah dalam tidur. Sebahagiannya yang lain mendapat Rahmat Tuhan, dengan apa yang disebut “terbang burung terbang sangkar”, jasad dan ruh mereka kembali kepada Tuhan yang dikasihinya.

MAKRIFATULLAH: 

Mengenal Allah SWT, pada Zat-nya, pada Sifat-nya, pada Asma-nya dan pada Af’al-nya. AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya : Awal agama mengenal Allah. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya: Tidak sah  shalat tanpa mengenal Allah. MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya: Barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya. ALASTU BIRAB BIKUM QOLU BALA SYAHIDNA  Artinya: Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 7:172) AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Artinya: Manusia itu RahasiaKu dan akulah Rahasianya.
WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya: Di dalam dirimu mengapa kamu tidak melihat. ANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya: Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu. LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya: Aku tidak akan menyembah Allah apabila aku tidak melihatnya terlebih dahulu. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH Pada malam Ghaibul Ghaib iaitu dalam keadaan antah-berantah hanya Dzat semata. Belum ada awal dan belum ada akhir, belum ada bulan dan belum ada matahari, belum ada bintang belum ada sesuatu pun. Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah, maka dalam keadaan ini, Diri yang punya Dzat tersebut telah mentajalikan diri-Nya untuk memuji diri-Nya. Lantas tajalilah  Nur Allah dan kemudian tajali pula  Nur Muhammad (Insan Kamil), yang pada peringkat ini dinamakan Anta Ana, (Kamu, Aku) , (Aku,Kamu), Ana Anta. Maka yang punya Dzat bertanya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba. Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, Aku ini Tuhanmu ? Maka dijawablah Nur Muhammadyang mewakili seluruh Roh, Ya…Engkau Tuhanku. Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf 7:172:
ALASTU BIRAB BIKUM, QOOLU BALA SYAHIDNA. Artinya : Bukan aku ini Tuhanmu? Betul engkau Tuhan kami, Kami menjadi Saksi. Selepas pengakuan atau persumpahan Roh itu dilaksankan, maka bermulalah era baru di dalam perwujudan Allah SWT. Seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya:“Aku suka mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan akuperkenalkan diriku. Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini dijadikan daripada Nur Muhammad tujuan yang punya Dzat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri. Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian yang bernama : Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia, atau Rohani. Firman Allah dalam hadis Qudsi:
AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU Artinya : Manusia itu RahasiaKu dan Akulah yang menjadi Rahasianya. Jadi yang dinamakan manusia itu ialah karena ia mengenal Rahsia. Dengan perkataan lain manusia itu mengandung Rahasia Allah. Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya, dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal Tuhannya, sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada Yang Punya Diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT. Iaitu tatkala berpisah Roh dengan jasad. (Tambahan Hajrikhusyuk: kembali kepada Allah harus selalu dilakukan semasa hidup, masih berjasad, contohnya dengan solat, kerana solat adalahmikraj oang mukmin atau dengan ‘mati sebelum mati’). Firman Allah An-Nisa 4:58:
INNALLAHA YAK MARUKUM ANTU ABDUL AMANATI ILAAHLIHA. Artinya: Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang berhak menerimanya. (Allah). Hal tersebut di atas dipertegas lagi oleh Allah dalam Hadits Qudsi : MAN ARAFA NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU. Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada Langit, Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanyatidak sanggup menerimanya.  Seperti firman Allah SWT Al Ahzab 33:72. INNA ‘ARAT NAL AMATA, ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL FA ABAINA ANYAH MILNAHA WA AS FAKNA MINHA,WAHAMA LAHAL INSANNU. Artinya : Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tetapi mereka enggan memikulnya dan merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya. Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang punya Rahasia. Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Batin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam dilahirkan untuk bagi memperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu abad  ke satu abad, diri satu generasi ke satu generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT  DAN RAHASIA ITU  KEMBALI  KEPADA ALLAH. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN. Artinya : Kita berasal dari Allah, dan  kembali kepada Allah.
Hakikat perkataan
adalah alif, (alif adalah satu huruf dalam tulisan jawi, kalau tulisan rumi.. mestilah ‘a’ ), manakala hakikat alif pula adalah noktah, dan hakikat noktah adalah dakwat. Jikalau dikaji selanjutnya maka hakikat dakwat pula adalah cecair, sedangkan hakikat cecair adalah debu-debu, dan hakikat debu-debu adalah unsur-unsur (atom) dan hakikat unsur adalah Cahaya Allah.
Sedangkan Gelap (tidak diketahui) ialah Cahaya Dzat, dalam gelap itulah adalah ‘Air Kehidupan’ (Yang Menghidupkan). Sebagai misalan, jika anda melihat kepada dakwat, maka dengan sendirinya huruf hilang, dan jika anda melihat huruf , maka dakwat hilang…dan jika anda melihat huruf , maka dakwat hilang…
Sejajar dengan itu cuba difikirkan pula: Jika aku ada.. Dia tiada, dan jika  Dia ada… aku  pula tiada…
Hakikat Penghambaan
Ini berlaku apabila ego dan kecintaan terhadap diri sendiri terhapuskan, dan yang tinggal hanyalah Allah dan perbuatanNya. Ego dan kecintaan diri terhapus apabila berlaku tajali Dzat, sebelum tajali ini berlaku, kita tidak akan mencapai tahap kefanaan dan melebur dalam Dzat Allah.. dan dalam kefanaan ini kita akan hilang kecintaan terhadap diri sendiri.
Selama kita belum mencapai fana dzat , maka kita belum terlepas dari cinta ego sendiri, dan kepahitan hidup. Bagaimanapun untuk mencapai fana dzat ini bukan lah satu perkara yang mudah.  Ada orang , sehingga sampai hayatnya pun masih belum mencapai makam ini,  ia memerlukan ketabahan hati dan kekuatan jiwa yang paling kuat untuk mencapai matlamat,  tetapi matlamat  yang dihajati itu sebenarnya adalah satu anugerah, berapa banyak kita berusha pun  belum tentu  mendapatinya, selagi anugerah itu belum diberikan.
Kita perlu banyak bersabar dan menanggung segala penderitaan dan ujian yang diberikan, semoga dengan itu Allah bermurah hati untuk mencapaikan matlamat yang kita hajati itu.
Fana adalah satu kesadaran
Fana adalah apabila ego tiada lagi, ia telah larut di dalam Dzat Allah.
Contohnya, sebagaimana yang digambarkan oleh Sufi terkemuka, Jalaludin Rumi: Aku ini ibarat tenggelam di dalam air, dan dikuasai air, segala gerak dan kata-kata bukan daripada ku… tetapi daripada air, kehadiran ku hanyalah sebagai hijab kepada yang Hak. Fana bukan satu objek, yang dapat dicari, seperti kita mencari sebuah rumah.. tetapi ia adalah satu kesadaran yang disisipkan oleh Tuhan ke dalam hati hamba-hamba yang dikasihi Nya, yang telah berusaha tanpa jemu untuk menghampirkan diri kepada NYA.
Ia adalah satu rasa, yang mana tiada lain yang ada hanya DIA dan segala yang berlaku atas perbuatan NYA. Apabila seseorang bertanya tentang diri Nya maka DIA akan menjawab dengan perbagai jawaban, bergantung kepada tahap kefahaman orang itu, contohnya, Dia berkata, “Aku dekat, aku lebih dekat daripada urat leher mu”,  ataupun Dia berkata,”Tiada antara, antara Aku dan engkau,” ataupun Dia akan berkata,”Aku ini Engkau.” Keadaan ini berlaku bergantung kepada kedudukan orang yang bertanya itu, ketika ia bertanya. Pada masa yang sama seseorang itu boleh berada pada makam Kesatuan atau makam kejamakan. Makam kesatuan adalah adalah alam ketuhanan, di sini hanya ada DIA, dan ego seseorang itu telah lebur dalam keesaan dengan Nya, manakala makam kejamakan adalah yang mana ego seseorang itu masih belum lebur, dan ia menggangap dirinya itu ada. Tuhan dengan hamba tidak sama. Tuhan tetap tuhan dan hamba tetap hamba. Tidak mungkin Tuhan menjadi hamba dan hamba menjadi tuhan. Yang baru tidak sesekali bercampur dengan yang kekal, yang baru tetap binasa dan yang kekal akan tetap kekal. Yang penting di sini adalah bagaimana kita menempatkan diri kita, sama ada yang baru atau yang kekal, tepuk dada tanya selera.
Insan dan Sirr
Mengadakan dua wujud itu adalah perkara  yang  syirik, kerana Dia adanya dengan sendirinya. Jikalau begitu, bagaimana pula  ada insan itu  adalah dengan Dia….?   Soalnya di sini siapakah insan itu..? ‘Cobalah cari jawabannya sendiri kerana jawapan yang didapati dengan usaha sendiri itu adalah lebih bermakna. Selanjutnya, Wujud itu bermaksud Ada, maka yang Ada itu adalah Dzat, dengan itu Wujudnya itu adalah bagi menyatakan Dzatnya. Sedangkan  pun Wujud  insan dapat dilihat pada Sifatnya, kerana  wujud   insan  adalah dengan Dzatnya. Dan Dzatnya itua dalah Sirr kepada insan. Dia berfirman, Insan itu rahsiaku  (sirr) dan Aku rahsia insan, dan lagi kataNya, Sifat ku adalah sifat Insan. Oleh itu, perjalanan salik adalah satu proses,  salik perlu mengenal dirinya, siapa mengenal jasadnya maka mengenal ia nyawanya, siapa mengenala nyawanya maka mengenal ia Sirrnya, dan lagi siapa mengenal Sirnya maka mengenal  ia akan Tuhannya. Insan  adalah Rahsianya, dan Sirritu adalah Dzatnya.
Siapakah aku 
Al Quran dan hadis adalah sebagai pegangan umat Islam supaya tidak tersesat dan mendapat keredaan Allah, tetapi kedudukan Al Quran dan Hadis tidak dapat menggantikan kedudukan Allah dan Rasul Nya. Ini seharusnya jangan dilupakan kerana terdapat orang yang lebih mengutamakan Al Quran dan hadis berbanding Allah itu sendiri. Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha Menghidupi dan Yang Hadir, Rasul Nya juga adalah yang hidup atau sang diri (Ruh) yang juga disebut sebagai Muhammad, iaitu dzat yang terpuji. Dalam pencarian kita kepada Allah diri inilah (Muhammad) yang harus kita kenali dan jumpai dahulu, kerena diri inilah yang akan membawa seseorang itu kepada Allah. Di dalam kehidupan kita seharian  sang diri ini telah terselubung dengan perbagai selubung, sehingga tidak dapat lagi kita melihatnya, apatah lagi untuk mengenalinya. Diri ini hanya akan dapat disaksikan apabila segala selubung itu dapat dibuang dan apabila kita (nafs) telah dapat berhubung dengan diri kita sendiri (ruh), maka akan terjadilah  gerakan dua arah dari diri kita itu. Yang pertama gerakan dari diri kita itu (ruh) kepada badan jasmani dan yang kedua gerakansang diri (ruh) menuju Tuhan Yang Maha Esa. Badan (nafs) yang dihidupi menerima daya hidup dari sang diri (Ruh), kerana sang diri telah terbebas daripada hijab atau selubung, maka sang diri akan menerima limpahan daya dari Allah. Apabila hubungan ini tidak tersekat lagi oleh hijab dan kotoran batin, maka jasad kita merupakan manifestasi dari Maha Pencipta, pada peringkat ini sang hamba benar-benar dicintai Allah. Hatinya benar-benar terserap oleh cinta sejati Maha Penciptanya.

Tidak ada lagi bentuk (sosok) diri yang terlihatkan, bahkan ia melihat dan menemukan Allah di segala tempat, (sudah tentu termasuk dirinya sendiri). Nah,,, Sekarang coba kita lihat pula siapa yang dikatakan “aku”. Jelas banyak orang bertanya siapa aku itu. Semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup, maka Aku itu tampil pada diri junjungan Nabi kita itu, iaitu seorang bangsa bercirikan arab. Tetapi dapatkah Aku itu tampil kepada bangsa yang bercirikan bukan arab, seperti Melayu, Jawa, India  dan sebagainya. Kerana di dalam Al Quran Surah At Thaha 20:14: ada disebutkan: Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tiada Tuhan selain Aku, maka dirikanlah solat untuk mengingati Aku. Jadi perintah untuk mengikuti Aku ini tetap berlangsung hingga ke hari ini, walaupun Nabi Muhammad SAW  telah wafat.   Sebenarnya yang dimaksudkan aku adalah  Aku sebagai manifestasi AKU.   Maksudnya  Aku  adalah tajali atau manifestasi  Tuhan yang ada di dalam diri manusia. Jadi Aku adalah suara hati atau hati nurani. Setiap orang pasti memiliki hati nurani, tapi bagi kebanyakan orang, hati nurani ini telah terkalahkan oleh hawa nafsu, aduh..sungguh malang sekali, bagi diri seumpama itu.
Manusia dan Allah
Hakikat hubungan manusia dengan Allah. Jikalau kita perhatikan hubungan hakikat manusia dan hakikat Allah,  ia suatu hubungan yang sangat erat dan amat mesra,  seolah-olah dua nama bagi menunjukkan satu wujud.
Hubungan yang amat erat itu, umpama hubungan yang terjalin antara ruh dan jasad, sangat eratdan tidak dapat dipisahkan. Kerana eratnya hubungan itu, kewujudan Allah tidak akan diketahui tanpa wujudnya manusia, dan manusia tidak akan ada  jikalau tidak wujud Allah. Manusia adalah maujud (yang menunjukkan) kepada yang wujud. Dengan itu kewujudan manusia adalah bagi menunjukkan kewujudan Allah, dan Allah menjadikan manusia untuk menunjukkan keadaannya dan dan Kekuasaannya. Persoalannya  mengapa Allah yang menjadi Tuhan dan Nur Muhammad (ruh) menjadi hamba, ini kerana ia telah termaktub di dalam perjanjian yang telah dibuat antara Allah dan Nur Muhammad,  yang mewakili sekelian ruh.

Perjanjian itu yang dibuat di Alam Ruh, ia adalah bersifat kekal dan tidak boleh ditukar-tukar  lagi. Semasa di Alam Ruh, ruh telah berjanji dengan Allah, atau perjanjian  antara Nur Allah dan Nur Muhammad, atau perjanjian antara Dzat dengan Sifat. Dalam perjanjian itu Nur Muhammad telah memperakui Dzat sebagai Tuhan dan Nur Muhammad sendiri sebagai hamba. Perjanjian itu QS  Al A’raf 7:172: Bukankah Aku ini tuhanmu?…Ya,, kami menjadi saksi. Apabila Nur Muhammad memperakui Dzat adalah Tuhannya, maka secara semula jadi ruh  perlu mengingati (berzikir) kepada Allah. Itulah sebabnya ruh diberi jasad supaya dapat menzahirkan diri Rahsia Dzat, diri yang sebenar-benar diri, iaitu diri batin kepada manusia. Pentingnya perjanjian itu adalah, tanpa perjanjian itu ruh tidak akan mempunyai  jasad dan Dzat Allah tidak akan wujud dalam ingatan (dzikir). Oleh itu ruh perlu mengingat Dzat, yang Zahir memuji yang ghaib (Batin). Jikalau manusia tidak berzikir atau mengingati Allah, maka kewujudan Allah tidak akan nyata, Dzat akan ‘hilang’ dalam keghaiban denganbegitu sahaja. Allah berfirman QS Al Baqarah 2:152: Ingatlah kamu kepadaKu nescaya Aku ingat kepada mu… berterima kasihlah kepada Ku dan jangan kamu mengkufuri nikmat KU.

Ya..Tujuan Allah memberikan jasad kepada ruh adalah untuk mengingatkan manusia tentang DzatNya, iaitu Tuhan semesta alam. Dan untuk mengingatkan bahawa setiap yang wujud di dunia ini adalah berasal daripadaDzat Allah.
Tanpa adanya Diri Rahsia Allah (maka Ku tiupkan RuhKu) pada manusia adalah mustahil manusia  wujud seperti yang ada sekarang ini. Kesimpulannya kita beribadah dan  berzikir (mengingati Allah) adalah untuk mengingatkan diri kita sendiri (manusia) bahawa ruh kita ini sebenarnya berasal dari Dzat Allah,  dan dengan itu perlu mengingati Dzat Allah, iaitu Diri yang sebenar-benar Diri.
‘Tetapi,  walaupun telah mencapai makam Keesaan, hamba tetap hamba, kerana Tuhan tidak suka kepada yang menyombong diri.

Rahasia sholat
Sholat adalah jalan bagi seseorang hamba untuk menemui Penciptanya. Dalam satu rakaat solat yang kita lakukan itu terdiri daripada tujuh gerakan atau perbuatan iaitu: Takbir Berdiri Rukuk Iktidal Sujud pertama Duduk iftirasi (antara dua sujud) Sujud kedua. Tahapan-tahapan gerakan di dalam solat itu sebenarnya adalah tahapan pengembaraan ruh menuju langit yang ketuju. Apakah yang dikatakan langit ketujuh itu..?
Dalam pengajian martabat tujuh dan kajian sufi, terdapat tujuh peringkat tajalli Tuhan, bermula dari Ahdah hinggalah ke Alam Insan. Jadi langit ketujuh mengikut sufi adalah Alam Lahut atau Ahdah. Semasa solat berlaku dua kefanaan, fana yang pertama adalah fana kepada Rasul, iaitu semasa sujud yang pertama, dan fana yang kedua adalah fana kepada Dzat Allah, semasa sujud kedua. Dalam fana Rasul kefanaan tidaklah total, kerana hamba mungkin masih sadar tentang hal-hal dunia semasa solat. Fana Rasul atau Nur Muhammad ini adalah perjalanan menuju langit ke enam (Wahdah), manakala pada langit ketujuh (Ahdah), gerakan sujud kedua itu, adalah puncaknya seorang hamba  menghamba diri kepada Allah, iaitu dengan kefanaan yang luar biasa (tidak satupun yang tinggal hanya Allah) Bagaimanapun, tidak mungkin hamba dapat bertemu Allah tanpa menzakatkan diri (mati sebelum mati). QS Al Baqarah 2: 110: Kerjakanlah solat dan berzakatlah. Bagi kaum sufi hakikat zakat adalah mengorbankan diri (mati sebelum mati).  Qs An Nisa 4:66: Korbankanlah dirimu dan keluarlah dari kampungmu. Pasti solat adalah alat yang dapat menemukan hamba dengan  Penciptanya,  jadi sangat hairan,  seseorang yang telah makrifatullah, tetapi masih tidak solat, tidak mungkin orang makrifatullah tidak solat. Cobalah fikirkan..
Wajah Dia
Dia (Allah) dapat dilihat pada setiap waktu dan pada setiap ketika, dan di mana saja, tetapi bukanlah semua orang yang dapat memandangNya demikian,hanya mereka yang bertuah dan bernasib baik, yang telah makrifatullah, yang dapat memandangNya demikian. WajahNya dapat dilihat melalui sifat-sifat alam, terutama pada sifat diri salik sendiri. Jikalau penglihatan itu dapat difahami oleh kebanyakan orang, sudah pasti lebih ramai orang dapat melihat WajahNya dengan terang dan nyata, semasa masih hidup di dunia ini juga lagi, sudah pasti lebih ramai yang akan makrifatullah. Dia atau WajahNya dapat kelihatan apabila sesuatu itu tidak lagi berupa alam atau makhluk, tidak lagi bernama, bersifat,  berkelakuan dan tidak lagi dengan dzat makhluk, tetapi telah binasa atau fana, kembali kepada keadaan asalnya. Setelah itu, barulah apa yang kelihatan itu akan berwajah Dia, dan di situ jugalah keadaan, yang mana,  yang memandang dan yang dipandang itu,  adalah Dia yang Esa,  Dia melihat Wajah Nya sendiri. Di ketika pandang memandang itu, jikalau salik sudah faham dan yakin, segala sesuatu selain Dia telah fana, itulah tandanya hati salik itu telah mencapai tahap makrifatullah, tahap mengenal Dia dengan sebenar-benar perkenalan. Ya.. Apabila telah fana sifat makhluk dan sifat salik sendiri ke dalam wajahNya, maka WajahNya akan dapat kelihatan,  di kala itu sifat makhluk atau sifat salik telah kamil dengan WajahNya. Sebagai analogi, umpama garam,yang kelihatan sekarang adalah asinnya, tapi garam sudah binasa.
Haqul yakin
Keyakinan pada tahap makrifat (haqul yakin) adalah berkonsepkan, contohnya, tiada yang memberi dan tiada yang menerima, tiada yang menyembah dan tiada yang disembah, tiada sifat engkau dan tiada sifat aku, semua itu adalah semata-mata Yang Maha Berkuasa dan Meliputi. Yakin pada tahap makrifat adalah yang berdasarkan kamil atau sejati atau sebati. Kamil yang tidak membawa maksud bersatu mahupun bercerai. Kamil yang dimaksud kan di sini adalah yang bermaksud satu. Yaitu keyakinan yang tidak membawa makna aku dan tidak juga engkau, keyakinan yang berlaku pada peringkat ini, adalah pada makam wahdah, ataupun hakikat muhamad. Keyakinan ini telah melampaui makam fana bahkan ia telah berada di makam baqa. Keyakinan pada peringkat baqa adalah satu keyakinan yang tidak berubah-rubah lagi, salik itu yakin dengan sepenuh-penuh yakin, tiada satupun yang dapat menggugat keyakinannya. Berkekalan pada perpaduan yang  sebati buat selama-lamanya, yang tidak berpisah antara nafi dan isbat. Berkekalan sifatnya sebagaimana sifat api dan dengan sifat asap, sebagaimana matahari dan cahaya matahari, sebagaimana bayang-bayang dengan tuan yang empunya bayang-bayang. Berkekalan sebagaimana tiada lagi yang menyembah dan tiada yang disembah, melainkan semata-mata Tuhan semesta alam, yang mutlak pada hakikatnya.
Berkekalan sifat manusia sebagai sifat makhluk, dan berkekalan sifat Tuhan sebagai sifat ketuhanan, bagaimanapun di antara sifat insan dan sifat penciptanya, tidak bercerai dan tidak bersatu, sebagaimana tidak bersatu dan tidak berpisahnya isbat dan nafi. Konsep keyakinan peringkat makrifat ini  adalah berlandaskan wahdah atau keesaan dalam  wajah Maha Pencipta. Yang wujud (yang menjadikan), yang ujud (yang ada), dan yang maujud ( yang dijadikan) hanya adalah wajah Pencipta yang satu. Tahap keyakinan kamil ini bukanlah sama dengan apa yang dikatakan konsep hulul (bersatu dengan Allah), dalam pengertian ringkasnya hulul itu adalah bergabung dua iaitu hamba dan tuhan menjadi satu, konsep ini adalah konsep yang tidak benar, tidak sama dengan konsep yang dibawa Rasulullah,  kerana Islam berlandaskan konsep fana, iaitu tiada yang lain hanya Allah.

Konsep kamil boleh dianalogikan seperti berikut, tiada angka dua  dan angka tiga dalam bilangan satu, angka dua, angka tiga, dan angka yang ke sejuta, dan angka yang ke sekian kalinya itu adalah tercantum dalam bilangan satu. Bagi orang makrifat walaupun seberapa banyaknya angka satu itu digandakan, ia tetap berwajah satu, walaupun begitu banyak manifestasi dzat dalam alam semesta, tetapi dzatnya tetap satu. Sekali lagi dinyatakan, salik yangberada di makam haqul yakin adalah berpegang kepada keyakinan peringkat wahdah, esa, atau tunggal. Allah itu satu (esa) dalam sifat-nya, nama-Nya, a’fal-Nya dan dzat-Nya, yang bersifat itu hanya sifat bagi Allah, yang bernama itu hanya nama bagi-Nya, yang berkelakuan itu hanya kelakuan bagi-Nya dan yang berdzat itu hanya dzat bagi-Nya. Bagaimanapun Dia tetap satu itu jua.

Dzikir
Dzikir dalam ilmu hakikat ada beberapa tingkatan bacaan seperti menggunakan lisan atau mulut..ini adalah tingkatan paling rendah.. kemudian diikuti dengan yang lebih tinggi iaitu dzikir hati…selepas itu tingkatan dzikir yang lebih halus… iaitu dzikir rasa danperasaaan kemudian  beberapa tingkat lagi di atas nya, hanya dapat dimasuki dengan banyak latihan.. dan banyak berzikir… seperti pada tingkatan ”Aku menurut sangkaan hambaKu”…
Ruh
Kebanyakan orang tidak mahu mengetahui tentang ruh. Mereka berpendapat ruh adalah urusan Tuhan, hanya sedikit tentang ruh yang diketahui oleh manusia, tetapi bukan maklumat tentang ruh  yang sedikit,  tetapi hanya sedikit orang yang mengetahui tentang ruh. Setidak-tidaknya kita mestilah tahu serba sedikit tentang ruh, kerana ia sangat penting, ruh adalah kita, dengan ruhlah kita kembali kepada Allah. Secara kasarnya ruh mempunyai beberapa sifat: ia bersifat suci, ia bersifat tahu atau bashirah dan ruh lah  yang kembali kepada Allah,… bukan jasad dan bukan nafsu. Suci adalah sifat ruh, manakala tahu atau bashirah adalah pekerjaannya dan kembali kepada Allah adalah tugasnya. Bagaimanakah kita boleh mendapat kesadaran tentang ruh yang suci ini,  caranya tidak lain, kita perlulah bersedia untuk mengikut ruh kembali  ke  Allah. Kembali ke  Allah adalah satu jalan yang memberikan kebaikan kepada ruh dan jiwa manusia itu sendiri.
Kembali,  dalam erti pulang ke Allah dengan meninggalkan tubuh atau jasad. Kenapa kita perlu meninggalkan tubuh, jawapanya adalah jelas kerana nafsu berada pada tubuh. Secara amnya ada dua cara untuk meninggalkan tubuh..  (tapi ingat jangan bunuh diri ya..hehehe..). Yang pertama dengan ibadah puasa, dan ia bersesuaian benar, kerena secara kebetulan kita akan berpuasa Ramadan tidak lama lagi. Dalam ibadah puasa kita meninggalkan jasad dengan tidak memberi jasad makan dan minum, mengekang nafsu atau syahwat, menghindari maksiat lahir dan batin dan sebagainya.
Cara yang kedua untuk meninggalkan jasad ialah dengan sengaja untuk meninggalkan tubuh seperti dalam solat , kerana  solat itu adalah mihraj orang mukmin. Selain daripada itu seperti dalam tafakur mengingati Dzat Allah. Seperti maksud hadis Rasullullah, tafakur sesaat hangga sampai kepada Dzat Allah itu adalah lebih baik daripada beberapa amal-amal sunat yang dilakukan.

Perlukah kita mencari ruh, sebenarnya ruh tidak perlu dicari, dengan sendirinya ia akan aktif dan bergerak, jikalau jiwa seseorang itu mengingati Allah. Aktifnya ruh akan dapat dirasakan apabila hati dan jasad kita bergetar. Sesuai dengan firman Allah: Bagi orang yang beriman, apabila disebut nama Allah maka hati dan jasadnya akan bergetar. Inilah tanda orang beriman dan ini jugalah tanda ruh itu aktif. Kembalikan ruh kita kepada Allah, maka dengan itu kita akan merasa ketenangan, … selalulah kembali ke Allah dan sehinggakan ia menjadi satu perjalanan yang semula jadi kepada kita,… boleh dilakukan setiap saat dan di mana-mana saja.

Pulang ke Allah
Hai jiwa-jiwa nan tenang kembalilah kepada Ku (Allah) dengan reda dan diredai, maka masuklah hamba Ku, masuklah ke dalam surga Ku. (QS Al Fajr 89:27-30). Sebenarnya untuk kembali kepada Allah itu sangat mudah,.. semudah memejamkan mata atau menarik nafas. Setiap saat pun kita boleh kembali kepada Allah. Di mana sahaja kita boleh kembali kepada Allah, hanya yang diperlukan adalah keyakinan, keikhlasan dan kerelaan. Kita tidak perlu mempunyai ilmu yang banyak,  bahkan tanpa ilmupun kita boleh kembali kepada Allah. Tetapi nampak nya kita tidak percaya untuk kembali kepada Allah itu sangat mudah, Kita tidak menerima bahawa kembali kepada Allah  itu pekara mudah, oleh itu kita mencari berbagai ilmu,  yang sesungguhnya telah menghijab kita dari perjalanan kita menuju Allah. Ilmu itu adalah hijab,  pada satu ketika ilmu itu harus ditinggalkan untuk sampai kepada Allah.
Sekali lagi, malangnya kebanyakan orang tidak percaya kembali ke Allah itu mudah. Mereka dihijab ilmu, untuk sampai kepada Allah mesti mempunyai ilmu yang banyak, contohnya mesti lulus ilmu Kalam, ilmu  Wahyu dan berbagai macam ilmu lagi. Mereka ini lah orang-orang yang telah terhijab oleh ilmu, jikalau mereka tidak sadar mereka tidak akan maju, untuk sampai kepada Allah. Di zaman Rasullulah dahulu, tidak adapun berbagai ilmu yang ada seperti sekarang.  Umat di zaman Rasullulah diberikan kefahaman tentang Tawakal, Yakin, Ihsan, dan Ridho dan kebanyakan mereka telah berjaya kembali kepada Allah semasa mereka masih hidup lagi, semasa mereka masih berjasad lagi.

Kembali kepada Allah bukan dengan amal, bukan dengan ilmu, bukan dengan apa-apa pun,cukuplah hanya dengan Penyerahan Diri dan Kerelaan untuk kembali kepada Allah. Allah lah yang akan memperjalankan kita, …  kita hanya berserah diri kepadan Nya,  … selanjutnya mengikut apa yang dikehendaki Nya.
Allah tidak perlukan ilmu kita, amal kita, harta kita, tetapi ia mahukan Kerelaan kita, Penyerahan Diri kita kepadanya secara keseluruhannya. Sememangnya, Allah tidak terjangkau oleh akal fikiran dan imaginasi,tetapi Allah Maha Meliputi, dan ia lebih Hampir dari urat leher kita sendiri, Oleh itu, kembalilah kepada Nya dengan Ridho,…..dengan Penyerahan Diri secara total…hanya untuk- NYA.

Prasangka
Allah berfirman: Sesungguhnya Aku menurut prasangka hambaku.
Sesuai dengan itu dipaparkan kata-kata seorang ahli Makrifat dalam bentuk pengajaran..
Tolong ambilkan aku buah pohan di sana itu.
Seseorang menjawab: Ini dia buahnya yang mulia.
Belah dualah buah itu.
Sudah terbelah yang mulia.
Apakah yang kamu lihat ?
Saya melihat biji yang amat kecil.
Belah dualah salah satu daripadanya.
Sudah terbelah yang mulia.
Apakah yang kamu lihat di dalamnya ?
Tidak ada suatu apapun yang mulia.
Ahli Makrifat berkata:

Yang Halus, yang tidak kelihatan itu ialah yang hidup. Yang tidak kelihatan itu, yang sebenarnya lebih kelihatan. Dari Yang Halus itulah sebenarnya Yang Ada. Yang daripadanya sekelian ini terjadi. Itulah kenyataan yang sejati, dan pandanglah dengan keheningan Hakikat, engkau akan melihat biji benih itu tumbuh bergerak menjadi besar,sel-sel tersusun, menjadi akar, menjadi batang, menjadi ranting, menjadi daun, menjadi bunga berwarna merah, dan menjadi buah. Lalu mati, terurai menjadi zat-zatyang tergabung dengan alam sekitarnya. Itulah zarah atau atom-atom yang bergerak mengikut Yang Hidup dan Yang Abadi. Yang menggerakkan segala sesuatu, menghidupkan dan mematikan. Engkau akan melihat kenyataan sebenarnya bahawa segala benda hanyalah mengikut gerak, sehingga ia bergerak, mengikuti gerak, sehingga ia bergerak mengikut Yang Hidup sehingga ia hidup. Apabila engkau menfanakan keberadaan alam ini, maka engkau akan melihat Yang Batin itu menjadi Yang Ad Dzahir , Yang Hidup itu meliputi segala sesuatu….Dia lebih nyata daripada apa yang kelihatan…

Sang Pencinta
Seorang pencinta akan berusaha sedaya upaya untuk mencari apa yang dicintainya. Begitu juga mereka yang mencintai Allah. Segala usaha ditumpukan untuk memahami tentang kekasihnya,….Allah. Mereka pergi berguru, banyak bertanya dan membaca dan sebagainya. Ini semua adalah kerana ransangan ingin tau, ingin mengenal diri dan mengenal Allah. Mereka berpegang kepada phrasa-phrasa atau ayat-ayat tersentu,….seperti Allah itu lebih dekat dari urat leher,.. ke mana sahaja kamu hadapkan wajahmu di situada Wajah Allah, tiap-tiap sesuatu itu akan lebur kecuali Wajah Allah, tidak bergerak sesuatu zarah kecuali dengan izin Allah. Dan banyak lagi kata-kata yang seumpama itu,… yang mendorong mereka berusaha mencari Allah, yang amat mereka kasihi. Seorang pencinta adalah seorang kekasih nan sejati.  Apabila pencinta mula mencari Allah,  maka janganlah berputus asa, kerana banyak ranjau duri yang akan ditempuhi di dalam perjalanan. Hanya mereka yang cekal,… insyallah akan berjaya. Tetapi walaupun pahit, bagaimana seksa sekali pun,  ia perlu dilaksanakan kerana inilah fitrah sang pencinta,…. untuk mengenal Allah,… di dunia ini, semasa masih hidup bukan setelah mati.
Pada suatu ketika nanti dalam perjalanan nan suci itu,  sang pencinta  akan mengetahui bahawa tiada jalan atau kenderaan yang dapat digunakan untuk mencapai kekasih yang dikasihi, Allah. Dengan itu pencinta tidak akan lagi bersandar kepada ilmu yang diperolehinya, atau amal yang telah dilakukannya sekian lama. Apatah lagi untuk bersandar kepada ilmu dan amalan orang lain, walaupun martabatnya kelihatan tinggi dari pandangan matanya. Apabila telah sampai ke tahap ini, sang pencinta itu perlu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, bagaikan kayu mati dibawa arus sungai,… tiada daya dan upaya,.. hanya upaya arus sungai. Datanglah kepada Allah tanpa ilmu, tanpa amal, tanpa diri, tanpa makrifat,  tanpa segala sesuatunya,kecuali Allah semata-mata.
Ghaib
Tuhan adalah sesuatu yang ghaib, yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala dan dirasai oleh panca indera.  Jikalau demikian bagaimana kunci untuk sampai kepadaNya..? Sesuatu yang ghaib, maka untuk sampai kepada-Nya perlukan jalan yang ghaib pula, ….iaitu melakukan hubungan dengan alam ghaib. Untuk melakukan hubungan dengan alam ghaib tidak perlu pergi bertapa ke dalam hutan, gua, gunung atau ke tepi pantai dan sebagainya. Bahkan dalam kesebukan harian dalam keramaian,hubungan ini boleh dilakukan…yang diperlukan ialah keheningan Qalbu. Seseorang itu harus mampu mengheningkan Qalbunya dalan kesebukan yang dilaluinya. Keheningan ini adalah perbatasan antara alam nyata .. iaitu alam yang kita duduki sekarang  dan alam ghaib. Dalam keheningan inilah signal-signal dari alam ghaib dapat ditangkap,….yang berupa ilham, ilmu laduni  dan sebagainya…
Ad Dzahir
Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, yang tidak terjangkau oleh akal fikiran,  perasaan,  khayalan dan panca indera. Dzat adalah sebagai aspek Batin segala yang maujud, yang kelihatan di alam raya ini,  kerana Tuhan adalah Yang Maha Meliputi segala sesuatu. Bagaimana pun Dzat ini juga yang Dzahir, Yang Nyata, Yang Kelihatan, tetapi IA tidak dapat hendak dikatakan atau disifatkan, …mengapa ?  kerana ia tidak terjangkau oleh akal fikiran. Apabila segala sesuatu yang kelihatan ini menjadi Fana, maka Yang Batin telah menjadi Yang Dzahir, Yang Dzahir atau Yang Hidup itu meliputi segala sesuatu. DIA lebih nyata daripada sekeliah alam yang kelihatan ini,dan DIA lah menggerakan dan mengatur segala sesuatu. Maka sembahlah Yang Dzahir bukan alam atau makhluk…
Bersama mu.
Allah itu tidak terpisah oleh jauhnya jarak dan tidak terikat oleh ruang dan waktu . Jauhnya tidak berjarak, dan dekatnya tidak bersentuhan. Sungguh Maha Halus dan Allah meliputi segala sesuatu, sehingga tidak disedari bahawa Allah sentiasa meliputi dan menyertai sesiapa pun di mana jua mereka berada,dekat sekali bahkan lebih dekat dari urat leher. Ketika KESADARAN itu telah timbul pada seseorang,  maka pastilah ia tidak mencari-cari atau menghadirkan Allah lagi . Bagaimana Tuhan akan dapat dicari, sebab  Tuhan tidak jauh dari dirinya, dan Tuhan tidak tersembunyi dari dirinya. Bagaimana mungkin ia dapat menghadirkan Tuhan. Sedangkan Tuhan sentiasa Qadim, bahkan Tuhan sangat Maha Hadir di mana saja seseorang itu  berada. Allah sentiasa bersamanya  dimana saja dia  berada tidak kira siang atau malam.
Apakah daya kekuatannya  sehingga dia dapat menghadirkan Tuhan,  padahal dia  TIADA DAYA DAN UPAYA…Kesadaran,… ya tentu sekali KESADARAN yang  dapat merubah jiwanya  untuk merasakan kehadiran Allah yang meliputi segala sesuatu, dalam gerak mahupun diam, dalam tangis mahupun tawa, dalam sedih mahupun gemira, dalam sakit mahupun sihat, dalam ibadah mahupun di luar ibadah, dan sebagainya….Sungguh sangat mesra, dia yang telah tumbuh KESADARAN yang demikian, yang selalu bahagia bersama Tuhannya pada setiap waktu dan ruang dan kesadaran…
Saksi
Banyak yang tidak percaya Allah dapat dilihat di dunia ini, mereka percaya DIA dapat dilihat hanya di akhirat nanti, tetapi ingatlah firman Allah,  “Sesiapa yang buta di dunia ini, di akhirat kelak akan lebih buta”, (QS Al Israk 17:72),…bagaimanapun melihat itu bukan dengan mata kepala tetapi dengan Mata Hati,RASA. Perbicaraan tentang hakikat dan makrifat ini adalah sesuatu yang berat bagi jiwa-jiwa yang belum tercerahkan oleh Nur Illahi,…Nurun ala Nurin.. (Cahaya di atas Cahaya),  bagaimanapun ia perlu dilakukan kerana ia adalah fitrah manusia,matlamat manusia dilahirkan ke dunia ini untuk Mengenal Allah, yang belum tercerahkan itu, jangan tergesa-gesa, mohonlah kepada Allah, kerana Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
Tuhan dapat disaksikan atau dirasakan (dengan Mata Hati) oleh indera perasa yang dimiliki oleh Ruh Qudus, yang ada  pada setiap Insan Kamil, yang telah merdeka daripada nafsunya. Indera perasa ini dinamakan sebagai SIR atau Rahasia,…sebagaimana firman Tuhan, “ Manusia itu Rahasia KU, dan AKU adalah Rahasia NYA”. SIR inilah yang dapat berkomunikasi atau menangkap signal-signal Tuhan, … untuk sampai ke tahap ini bukanlah sesuatu yang mudah, terlalu banyak ranjau dan duri yang perlu diharungi dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Tidak semua yang menempuh jalan ini yang berjaya, tetapi hanya mereka yang mendapat pertolongan  daripada Allah. Setelah menyaksikan Tuhan haruslah menepati janji yang telah diucapkan, ..(Syahadah: Aku bersaksi tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan Rusul itu Pesuruh Allah), …Mulut dan Hati yang berjanji, manakala amal Perbuatan kita pula pihak yang melaksanakan janji,…Allah itu Tuhan kerana adanya Manusia……
Penyaksian
Syuhud adalah pandangan yang tidak ada keraguan di dalamnya, apa yang dilihat itu adalah benar-benar KEBENARAN .. yakin dengan sebenarnya,  jikalau masih ada ragu-ragu gemerlapan cahaya yang dilihat itu bukanlah Nur Ilahi. Sementara itu, apabila disebut musyahadah, .. ia bermaksud kehadiran Al Hak JUGA TANPA ragu-ragu… suatu KEBENARAN tanpa ragu-ragu, itulah penyaksian dengan HATI NURANI atau RASA …Musyahadah bi Dzauki. Penyaksian Al Hak tidak dapat digambarkan, dibayangkan dan dilukiskan kerana DIA , TIADA SUATU PUN YANG MENYERUPAINYA , ia adalah Dzat Wajibal Wujud, yang ada sendirinya, apabila DIA ADA, yang lain TIADA.
Bagaimana pun,  DIA hadir pada seseorang Salik, dengan Cahaya Keagungan Ilahi yang membias pada cahaya hati salik tersebut.. atau sesiapa saja yang dikehendaki NYA. Dan salik yang telah mampu melihat NYA  atau merasakan KEHADIRAN-NYA telahpun melampaui makam Takwa, …tetapi hadir dalam KE -ESAAN. ‘DIA hanya dapat diRASAKAN atau diILIHAT DENGAN MATA HATI,  ( siapa yang belum merasa belum ketemu ), dan hanya itulah kemampuan manusia atau pun ruh melihat Tuhan. Kita mampu merasakan KEBERADAAN atau KEHADIRAN NYA, tanpa mampu melihat wujud NYA. Hanya dengan anugerah NYA sahaja yang dapat melihatnya, bukan dengan usaha sendiri…. TIADA DAYA DAN UPAYA..
Sanubari atau Nurani
Kalau kita berkata tentang hati, kadangkala kita naik rimas, kenapa.?… kerana terlalu banyak istilah yang  menyangkut dengan hati. Seperti baik hati, hati mulia, hati suci, hati pemurah dan tidak kurang pula lawannya seperti hati busuk, hati berdendam, hati khianat dan sebagainya. Secara kasarnya sifat-sifat hati adalah positif dan hati negatif, …hati positif yang bersifat atau berkiblatkan langit manakala hati negatif,  yang berkiblatkan  dunia atau bumi. Hati yang manakah yang boleh kita buat panduan atau ikuti nasihatnya,…., sudah pasti hati positif, tapi bagaimnakah kita hendak mengetahui bilakah itu hati itu bersifat positif atau bersifat negatif. Secara tepatnya hati itu adalah …. Hati Sanubari dan Hati Nurani.
Hati Sanubari bersifat negatif, …seperti gundah- gulana, risau, tergesa-gesa, berdendam dan sebagainya, …jikalau sifat-sifat negatif ini ada, jadi jangannlah mengikut nasihat hati itu, …kerana ia akan membawa kepada kemusnahan dan kekecewaan. Hati ini berkiblatkan dunia, nafsu dan syaitan.
Hati Nurani pula adalah hati yang telah disinari cahaya Ruh, ia bersifat tenang, hening, tenteram, damai dan secara kasarnya bersifat positif, ..hati yang semacam inilah yang perlu diikuti apabila  ia memberikan nasihat, …. nasihatnya dalam bentuk  ilham, gerak hati, intuisi dan sebagainya. Hati ini berkiblatkan Ruh dan penciptanya, sudah pasti  Allah. Ikutilah hati ini apabila ia memberikan nasihat, pasti bermanfaat dan mensucikan. Maka oleh itu,…  hati-hatilah jangan tersalah pilih…
Kembali asal semula
Kita ini semuanya berasal dari Allah, maka kembalilah kepada Allah, bukan ke surga atau neraka, bak kata-kata bijak pandai “dari asal balik ke asal, dari tanah balik ke tanah”. Kalau  difikir-fikirkan kita pun hairan kerana ramai sangat yang hendak balik ke surga, dan tidak seorang pun yang ingin pergi ke neraka, .. pelik kenapa pelik.. kerana kita bukan berasal dari surga, tetapi berasal dari Allah maka kembalilah kepada Allah. Apabila berlaku kematian, kita sering mendengar orang berkata“Sesungguhnya kami datang dari Allah maka kepada Allah kami kembali”, tetapi apa yang diucapkan di lisan tidak sama apa yang tersemat di hati, hati bermaksud masuklah ke dalam surga Firdaus, nikmatilah kesenangan-kesenangan yang terdapat di dalam surga. Kita harus membetulkan matlamat, kita berasal dari Allah maka kembalilah semuanya kepada Allah… semuanya zahir dan batin.. diri hujung rambut sampai ke hujung kaki, … jangan satu pun yang tinggal, termasuk diri yang batin… semua pembatasan. Semuanya kembali kepada NYA. Apabila kesadaran ini telah diperolehi, maka itu bagi orang sufi disebut “Maqam laa maqam”  (Maqan yang tiada maqam). Dengan itu, kembalilah kepada Alllah semasa hidup lagi di dunia, jangan tunggu setelah jasad dimasukkan ke dalam kubur, baru ingin ketemu dengan Allah.
Luar biasa
Mulai masuk ke dalam diri mengolah hati nurani …(hati yang disinari ruh)…
Dalam penyerahan diri total kepada NYA…TIADA DAYA DAN UPAYA KU…… Masuklah ke dalam sebenar-benar diri… yang tidak berdaya dan apa-apa..
Kemudian perhalusilah getaran batiniah…. Kosongkanlah fikiran…. dengan mengfokuskan kepada…TIADA SATU PUN YANG MENYERUPAI NYA …
Insyallah…Maka sesuatu yang besar terjadi tanpa diusahakan… Kesadaran batiniah membungkus kesadaran lahiriah…
Ooooo…… Luar biasa
Pembebasan
Jikalau dirimu (ego) masih ada, kamu belum masuk dalam makam kehambaan, kamu hanya menyembah diri sendiri dan syaitan, dan sebenarnya kamu tidak menyembah Tuhan. Begitulah selama hati berada dalam kendalian syaitan dan nafsu, maka tempat penyembahan al-Hak dan tentera-tentera Ilahi terampas, peribadatan kepada al-Hak tidak terwujud di sana,  bahkan segala peribadatan kamu  menjadi untuk syaitan dan nafsu. Sejauh kamu keluar dari tentera-tentera syaitan, maka kamu akan memasuki wilayah-wilayah kekuasaan tentera-tentera Ilahi, sampai terjadi tiga penaklukan atau kemenangan seperti berikut:
1. Al-Fath al-Qarib (Penaklukan atau kemenangan dekat). Penaklukan wilayah-wilayah dengan mengusir tentera-tentera syaitan,  dan hasilnya adalah manifestasi Tauhid Perbuatan (at-Tauhid al-Af’ali). Firman Allah (QS ash-Shaff:ayat: 13). Pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat.
2. Al-Fath al-Mubin (Penaklukan atau kemenangan yang nyata) Penaklukan Kabah Hati dengan mengeluarkan syaitan-syaitan pembisik dari hati. Firman Allah (QS al-Fath:ayat 1): Kami telah memberikan kepada kamu penaklukan yang nyata.
3. Al-Fath al-Muthlaq (Penaklukan atau kemenangan mutlak) Ini melampau ritual-ritual lahiriah dan meleburkan takyunat-takyunat (pembatasan-pembatasan) yang nyata dan ghaib,…  Kesatuan dalam Ke-esaan. Firman Allah (QS an-Nashr:ayat:1): Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Hasil daripada ketiga-tiga kemenangan itu, …  maka  terbukalah seluruh Kekuasaan Ilahi dan … pemberian anugerah  kepada kamu.
Tuhan tetap Tuhan
Dengan terbatasnya akal fikiran mahu pun hati untuk menyingkap keberadaan Tuhan dan di manakah sebenarnya Tuhan berada…maka itulah fitrah manusia, yang menunjukkan bahawa Tuhan adalah Tuhan, dan hamba adalah hamba ..
tetapi sang hamba itu tidak lain, melainkan daripada Tuhan juga. Sehingga SIR  (alat perasa Ruhul Qudus)  yang ada pada hamba menjadi penghubung dengan Tuhan nya… ketika sang hamba diliputi RASA dan KESADARAN bahawa sang “AKU” , (yang bukan hamba), maka yang ada adalah “AKU” dan lenyaplah “aku”… dan ketika sang “aku” sadar akan fitrahnya adalah…..TIADA DAYA DAN UPAYA ..maka Sang “AKU menjadi SIR pada “aku “…dan oleh itu tidak terpisahlah…sang “aku” dengan Sang “AKU”… kerana (QS Al Hadid 57:4): AKU BERSAMA MU DI MANA SAJA KAMU BERADA …(untuk memahami ini perlukan KESADARAN yang tinggi, jangan tergesa-gesa insyallah Allah akan memberikan kefahaman.)
Alam
Manusia diberikan Allah dengan tiga zaman, yang secara umumnya dapat disebut sebagai Alam (zaman) Ruh, Alam Dunia dan Alam Akhirat. Zaman Dunia terbahagi pula kepada tiga kumpulan,  Alam Rahim (ibu), Alam kehidupan dunia dan Alam Barzah. Sementara itu pula Alam Akhirat terbahagi kepada Alam Masyar, Alam Hisab (perhitungan), Alam Mizan (timbangan), Alam Siratul Mustaqim dan akhir sekali alam akhirat (pada satu zaman tapi dimensi yang lain pula). Yang dimaksudkan dengan dimensi yang berlainan adalah seperti di Alam dunia, kita mempunyai alam kehidupan di dunia, seperti berjasad, bekerja dan melakukan sesuatu, sedangkan alam barzah adalah pada zaman alam dunia juga, tetapi dimensi yang berlainan kerana pada alam barzah, kita tidak lagi mempunyai jasad kasar, tetapi kerana kedua-duanya pada zaman yang sama maka manusia tertentu, yang diizinkan Allah dapat melihat alam barzah, seperti banyak cerita yang kita dengan tentang pengalaman orang koma, yang sadar kembali dan menceritakan pengalaman yang dilaluinya semasa koma, atau orang yang merasai sendiri pengalaman di alam kubur, orang yang disahkan telah mati tetapi hidup kembali kerana ajalnya masih belum sampai. Ini hanya segelumat dari perbendahara-an Allah, tetapi walaupun sedikit, sudah  cukup untuk menyadarkan bagi mereka yang tersentuh hatinya….
Mengapa…
Kadangkala kita terfikir juga, jika segala-galanya berasal dari Allah, sedangkan Allah itu adalah kebaikan dan tiada yang buruk datang dari NYA, mengapa kejahatan, sihir, gangguan jin, penyakit dan sebagainya wujud di dunia ini.
Dari manakah semua keburukan itu datang,  adakah dari Allah atau dari diri kamu sendiri. Tapi selalu kita dengar, bijak pandai sering berkata,  yang baik itu daripada Allah dan yang buruk itu daripada kamu sendiri. Benarkah begitu, jikalau tidak benar, masakan cerdik pandai berkata begitu. Keburukan itu sebenarnya berpunca daripada ketidak fahaman kita terhadap kehendak Allah , Allah berfirman aku jadikan manusia itu untuk beribadah kepada ku, tapi sangat ramai yang tidak mahu beribadah kepada NYA, (tapi ingat ibadah pun bertingkat-tingkat bukan hanya puasa dan sedekah sahaja), yang ramainya adalah yang mahu meminta-minta kepada Allah. Minta rumah besarlah, kereta mewahlah  dan sebagainya.

Kita sering berkata ibadahku, hidupku dan matiku kerana Allah, tetapi ibadah itu kita lakukan untuk diri kita sendiri . Kita boleh menipu orang ramai, tapi mampukan kita menipu Allah,  yang maha mengetahui, dan tidak satu pun yang tersembunyi daripada NYA. Segala sesuatu yang wujud di dunia ini adalah daripada Allah , oleh kerana itu segala sesuatu yang terdapat di dunia ini hendaklah dikendalikan kerana Allah. Kejahatan, keburukan, penderitaan, dan gangguan makhluk halus itu adalah kerana sesuatu yang kita dikendalikan itu  bukan kerana Allah, tetapi kerana diri kita sendiri.
Secara tepat nya kejahatan, penderita-an dan sebagainya itu adalah kerana penyalahguna-an kuasa oleh kita sendiri, kita berbuat sesuatu kerana diri sendiri bukan kerana Allah. Oleh itu salahkanlah diri sendiri jangan salahkan Allah.

Berbaik sangka
Berbaik sangka dengan Allah dan jangan ragu-ragu sedikitpun terhadapnya, jikalau ada keraguan Allah akan menjauh daripada kita.  Lakukan saja apa yang ada dalam intuisi mu dan analisisnya kemudiankan saja. Ini sesuai dengan sebuah hadis yang pernah menyebut mulakan sesuatu itu dengan tangan  kanan,  padanya yang dimaksudkan tangan kanan itu adalah otak kanan, di mana letaknya intuisi atau ilham,  bahasa Tuhan dengan manusia. Mulakan sesuatu pekerjaan itu dengan penuh keyakinan dan sandarkan kejayaannya kepada Allah, kerana Allah itu amat dekat. Katanya,  pejamkan mata kamu, tapi kamu masih nampak saya dalam mata hati kamu,  saya masih ada di sini. Begitulah kita dengan Allah, Dia sentiasa ada bersama kita. Serba ke Allah dan Pasrah lagi kepada Allah. Saban hari begitu ramai orang meminta kepada Allah, umpamanya dalam solat ’tunjukkan  aku jalan nan lurus’  ini kalau tidak silap disebut sebanyak 17 kali dalam lima solat fardu setiap hari, tapi malangnya  tidak ada tindakan yang dilakukan untuk itu,  hanya memohon, memohon dan memohon tiada tindakan, jadi  bagaimana sesuatu itu akan berlaku. Perlulah melakukan sesuatu dengan bersangka baik terhadap Allah  insya Allah hasilnya akan positif.
Perkara-perkara yang negatif seperti gangguan jin, saka itu jangan difikirkan, kerana ia akan mengganggu perjalan kita kepada Allah, itu sebabnya kita disuruh berzikir mengingati Allah,  supaya benda-benda lain tidak dapat masuk ke dalam hati kita. Pasrah sahaja kepada Allah. Di samping itu solat adalah anugerah Allah yang paling berharga kepada kita, cuba fikirkan, solat tidak bolih ditinggalkan walaupun kita sakit, walaupun kita terbaring diatas katil kerana sakit, tiba waktu solat, kita harus solat. Tapi kalau ibadah lain seperti puasa jikalau kita tidak upaya ia boleh dikadakan. Solat itu adalah mikraj nya orang mukmin.

Berdoalah kepada Allah, “Aku bermohon menjadi saksi agar anak-anak ku berjaya dan diberkati di dunia dan di akhirat”  Berdoalah ketika kita sakit, Ya Allah izinkan aku memakai Kekuasaan Mu dan mohonlah agar sakit itu disembuhkan Allah. Insyaallah penyakit kita akan sembuh. Penyakit itu umpama gangguan jin yang menghalang kita dalam perjalanan kita kepada Allah. Secara kasarnya umat islam ini ada tiga kumpulan,  iaitu kumpulan kanan, kumpulan kiri, dan kumpulan tengah. Kumpulankiri menuju ke neraka, kumpulan kanan menuju ke syurga dan kumpulan tengah menuju Allah. Oleh itu sentiasa saja berzikir dan menuju kepada Allah,  jangan difikirkan kiri dan kanan. Sampaikan yang kita mahukan kepada Allah selepas itu tenang dengan yakin ia telah diterima Allah, dan hasilnya terpulang kepada Allah, sudah pasti positif. Jangan berteori sahaja tetapi perlulah beramali, orang dulu-dulu tidak banyak teori tetapi amali, amali akan menimbulkan keyakinan. Insya Allah.

Beragamnya rasa
Alam ruhani sangat berkaitan dengan rasa…..(pandangan mata hati). rasa jasmani seperti, pahit, manis, masam, masin dan sebagainya rasa ruhani…. seperti, sedih, gembira, bingung, kecewa, gembira dan sebagainya… rasa nurani…iaitu rasa yang dipenuhi Cahaya Ketuhanan , di disi tidak ada rasa pahit atau manis, sedih atau gembira, takut atau berani….dan sebagainya.. rasa inilah yang dicari… sebab di sinilah kebenaran… kebebasan… iaitu cinta kasih yang hakiki.
Laku prihatin
Dalam kehidupan kita setiap hari berlaku pertempuran yang sengit….antara tentera nafsu positif dan tentera nafsu negatif….dan  medan pertempurannya ialah di dalam Qalbu. Dalam tradisi Ilmu Kejawen terdapat kaedah yang dapat membantu tentera nafsu positif untuk menang… kaedah ini  disebut Laku Prihatin… yang mempunyai empat tahapan… Empat tahapan itu  disebut.. Neing…Ning…Nung…Nang.
1. Neng.. Melakukan semedi.. dengan menyerahkan diri (konsentrasi) kepada Allah..ini bertujuan untuk membangunkan kesadaran Ruh (batin)… dan mematikan kesadaran jasad…(jasad tidak dirasai lagi).. Dengan cara ini… jika dibuat dengan betul…  frekuensi diri akan setara dengan frekuensi Tuhan…..

2. Ning Mengheningkan akal dan nafsu agar dapat menyambung dengan Sir… Yang mempunyai kaitan dengan Cahaya Nan Suci…Tersambungnya akal dan Sir akan menghasilkan keadaan matinya jasad…(jasad tidak dirasai).. Dalam keadaan ini maka terciptalah keadaan batin…(jiwa..hawa..nafs) … nan hening dan khusyuk.. bagaikan di alam Ruh. Namun jiwa tetap jaga ..(jangan tertidur)..dalam kesadaran batin… Sehingga dapat menangkap pancaran-pancaran ghaib…

3. Nung Bagi sesiapa yang melakukan Neng (semedi) dan berhasil menciptakan Ning (mengheningkan akal nafsu), maka akan terpilih untuk mendapat anugerah daripada Allah.  Dalam Neng sejati akan datang cahaya dzat Allah melalui Sir,  lalu ditangkap oleh ruh dan seterusnya oleh jiwa untuk diolah oleh jasad untuk menjadi prilaku utama. Prilaku itu  selalu konstruktif dan kehidupan orang itu  selalu bermanfaat untuk orang ramai.

4. Nang Orang yang terpilih (nung) akan selalu terjaga dalam amal perbuatannya, ini merupakan kemenangan dalam Laku Prihatin. Kemenangan yang berupa anugerah kenikmatan dalam segala bentuk,… dan meraih kehidupan yang sejati. Kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk dan alam semesta. Orang itu  akan meraih kehidupan yang sejati, selalu merasa cukup, tenteram lahir dan batin, tidak dapat dianiaya orang lain dan selalu beruntung dalam kehidupannya di dunia ini.

Rasa
seperti melihat…tetapi bukan dengan mata kepala..
sebaliknya dengan hati….
iaitu rasa… contohnya….engkau rasa nafas mu keluar dan masuk…
nafas adalah dari ruhmu…. dan ruh mu adalah dari  Tuhan Semesta Alam…..
jadi seperti engkau melihat Allahdengan hati mu….
iaitu rasa mu……
Minta tolong
Wastainu bi sabri wa salah… Minta tolonglah dengan sabar dan solat… Setelah solat duduklah dalam keadaan Diam segala fiziknya santai,Tenang jiwanya dan batinya tenang tanpa sebarang gangguan dari luar, Wukuf..tumpuan penuh mengingat Dzat Nya…Dalam keadaan ini.. otak dan dada Salik akan berada dalam kedudukan yang selari dengan “otak” dan “dada”….kehendak Allah. Setiap kali dada mu sempit kembalilah dengan melakukan solat mikraj  dan dada mu akan menjadi tenang…Allah akan memberikan ilham jalan penyelesaian kepada jiwa-jiwa nan tenang Setiap kali kamu menghadapi masalah , jalan buntu , dan sesuatu yang mendebarkan dalam kehidupanmu seharian,Maka….kembalilah kepada NYA dengan mikraj… solat adalah mikraj bagi orang mukmim… Itulah caranya Allah membimbing salik-salik nya..(salik…mereka yang cintakan Allah) Apabila Allah telah ada DI SINI Dia juga telah MELIPUTI….kerana Allah itu Yang Maha Meliputi…dan Maha Mengasihani…
Rindu
Bagaimana kan dapat ku memadam rindu nan menyala…….semakin ku tenangkan ..rindukusemakin membakar…puas ku cari upaya …namun pedihnya yang ku rasai……seksa sekali.. hanya pertemuan……mengobat rindu….Kekasih Nan Abadi…Allah suatu matlamat atau tumpuan fikiran yang Wujud Nya sudah tidak dapat difikirkan lagi .Kosong…Hening…. NAn abadi….Namun kerana adanya perbagai berhala….fikiran…di dalam kepala…Maka…tumpuan fikiran tidak pernah sampai kepada Allah…. iaitu Dzat Mutlak yang tidak dapat difikirkan dan dibayangkan namun….. Maha Meliputi… Cinta lah…..agar mencapai matlamat…….Allah ….. yang ku kasih… tiada siapapun, tiada apapun, tiada fikiranpun, hanya Allah. Cinta atau keinginan itu datang dari diri Dzat Maha Mutlak… Kemudian terbitlah An Nur… iaitu Rasa Kesadaran Sejati… Dan menjadi Rahsia atau Sirr kepada insan… Inilah Hakikat Muhamadiah… Nurun ala Nurin….
Kekuatan keyakinan
Ada antara mereka berdoa sekali sahaja dikabulkan Allah , ….tetapi ada pula antara mereka yang berdoa banyak kali tetapi masih tidak dikabulkan permintaan mereka.. apakah yang membuatkan permintaan mereka mendapat reaksi yang berbeza daripada Allah. Banyak yang menyalahkan Allah kerana tidak mengabulkan permohonan mereka, tetapi sebenarnya mereka yang silap kerana salah teknik memohon. Bukan ayat yang dibaca itu yang sakti, tetapi pembaca itu , yang mempunyai keyakinan yang tidak berbelah bagi,  keyakinan yang kental itu akan menghasilkan kekuatan batin di dalam diri mereka…. kekuatan itu sejajar dengan keyakinan yang mereka punyai… kekuatan batin ini pula akan menghasilkan getaran Rahsia Allah (Sir) yang terdapat di dalam diri mereka,  hasil dari  pancaran Dzat Allah,  apabila getaran Dzat Allah telah wujud dalam diri mereka, … maka IA  dapat mewujudkan apa yang diminta.
Kunci makrifat
Apakah yang dikatakan kunci makrifat itu, pada umumnya sudah tentu kuncinya banyak dan bergantung kepada tahap kerohanian mereka itu.. Salah satu daripadanya ialah …. kecepatan mereka mengalihkan fokus perhatian mereka dari pada makhluk kepada Allah…banyak mereka yang lupakan Allah dalam kehidupan seharian…apa yang mereka lihat hanyalah yang zahir sahaja… pandangan mereka tidak tembus kepada sekenario di belakang apa yang kelihatan… mereka yang begini sudah tentu tidak mempunyai makrifat.. Bagi yang mempunyai makrifat sudah tentu, telah menikmati banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Yang Maha Pemberi, ..sudah tentu kenikmatan itu tidak terkirakan…bagaimanapun bagi memudahkan citra… secara umumnya ada tiga tanda-tanda yang dapat diperhatikan.. dan sudah pasti .. nanti yang diperolehi daripada yang tiga itu…lebih lagi…..

Pertama: anggota jasad mereka yang bermakrifat tenang… maksudnya tidak sakit….Kedua: kehidupan mereka aman.. iaitu tidak mengalaman stress dan angin ‘taufan’..dan yang Ketiga: kemenangan rohani dalam kehidupan mereka.. contohnya, syaitan dan jin tidak mengganggu mereka.. Mereka yang bermakrifat adalah mereka yang melihat Allah dengan mata hati ,iaitu merasakan Dzahir nya Allah… Mereka yang merasakan wujud Allah, …mereka itu berkekalan lebur dan tenggelam dalam merasakan NYA.
Percaya diri atau percaya Allah
Banyak pakar motivasi… yang  mahukan khalayaknya percayakan diri sendiri. kata mereka percayakan diri itu penting untuk mencapai kejayaan di dunia yang penuh mencabar ini. tetapi benarkah mereka yang percayakan diri itu akan mencapai kejayaan. ..kerana sering juga kita lihat mereka yang percayakan diri tetapi … akhirnya kecundang mengharungi hidup di dunia ini. Bagaimanakah diri yang kosong ini… yang tiada hakikatnya boleh dipercayai… bagaimana mempercayai mereka yang tidak ada… tidak mungkin dengan cara yang demikian mereka akan berjaya…mustahil… Sudah pasti yang paling nyata… yang paling ADA … adalah  Dzat Yang Mesti Wujud  (Allah), …

jikalau kita percaya kepada yang INI… sudah pasti kita akan berjaya kerena DIA pasti dapat melaksanakan sesuatu, … kerana IA memang ADA… yang ADA pasti dapat menghasilkan sesuatu… berbanding yang tidak ada… yang kosong… yang kosong mustahil dapat berbuat sesuatu.. Apabila kita makan,.., yakinlah bukan makanan itu yang mengenyangkan.. tetapi Allah,..apabila kita bekerja… yakinlah Allah lah yang menyempurnakan… kerja kita itu,…apabila kita meminta kepada NYA ,… yakinlah DIA akan memberikan apa yang kita minta itu.Latihlah diri begini selalu…agar ia menjadi kebiasaan,…bahawa kita hanya yakin kepada Allah,…bukan yang lainnya…

Qalbu hening
 Qalbu nan hening …tanpa gemersik…tenang seperti permukaan tasik…. yang tidak ditiup angin, dalam keadaan beginilah …. hati dan perasaan akan bergabung dan menjadi satu… Dari suasana nan hening begini jugalah ..
ilmu akan terpancar dari hati.. Apabila salik memandang kepada DZAT  NYA….
DIA  berkata…. ANA AL HAQ Tetapi… apabila salik memandang kepada diri nya… (hakikatnya tiada)…dia berkata HUA AL HAQ …. Salik  melihat… NYA.. melalui… DIRI NYA, salik yang beginilah yang mengenal… NYA
Perbuatan Nya
Apakah sebenarnya yang dikatakan perbuatan…perbuatan adalah niat di dalam hati…  bersama dengan kehadiran Nya …lahiriah yang kelihatan seperti, berjalan, bekerja, berbual dan sebagainya itu..adalah bentuk-bentuk perbuatan.. tetapi bukan perbuatan itu sendiri. Apabila anda  berkata-kata dari hati …. lahir-lahir makhluk akan tunduk… dengan perintah Nya.
Puncak tertinggi
Puncak tertinggi adalah mengenal Allah … Allah itu ADA.  Untuk mencari yang ADA,  seseorang salik itu perlu mati… “mati sebelum mati” … dengan itu tidaklah ia asyik dengan angan-angan kosong  dan khayalan sahaja. Salik dan dunia ini …hanya wujud dalam fikiran…. bagaimana pun ia tiada hakikatnya… kedua-suanya semata-mata …KOSONG. Sesuatu  yang kosong tidak dapat menyampaikan  kepada yang ADA. Oleh itu… mencari yang ADA … daripada sesuatu yang tidak ada.. adalah sesuatu yang sia-sia… kerana yang tidak ada.. tidak berupaya menzahirkan yang ADA. Sebaliknya …Yang ADA lah yang mewujudkan segala sesuatu “yang tidak ada”… KOSONG.. kepada yang ADA. Dzat yang ghaib lagi ghaib itu… selama-lamanya tidak akan ada kenyataannya…. tetapi ada penzairan sifat-sifatnya.. terutamanya kepada salik yang mukmin.. salik yang mengenal NYA.  Si salik hanya menjadi pernyataan … tajali… Dzat yang ghaibul ghaib. Daripada AHDAH.. timbul pula…WAHDAH.. iaitu kenyataan kesempurnaan Sifat NYA.. inilah pintu untuk mengenal yang ADA…. yang tiada …KOSONG… tidak mungkin boleh bertukar menjadi Yang ADA… DIA lah yang ADA,  DIA lah Yang Zahir…Yang Batin…Yang Awal.. dan Yang Akhir…Oleh yang demikian wujud NYA lebih terang dan nyata daripada wujud-wujud yang lain .. DIA lah Yang Melihat dan Yang Di Lihat.. Wujud kamu…. hanya tidak ada…. KOSONG….semata-mata.

3 responses to “Surat dari sahabat 2

  1. masya allah,,,sy mhn keikhlasan&ridha tuan kpd sy yg fakir in utk menerima&mempelajari ats sbgian ilmu allah ta’ala yg dcurahkn melalui pengarang kitab hingga kpd tuan hingga spai kpd sy yg fakir in utk mengamalkn ats diri hamba dgn karunia&rahmad allah smg allah meridhoi amal&ibadah kta smua&diakui sbgai umatNYA oleh rasulullah saw,,amiin ya rabbal alamin,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s