Makna nafsu


Salah satu sifat negatif yang ada pada diri manusia adalah marah. Secara alamiah, orang yang berpuasa terlatih untuk mengendalikan sifat marahnya. Bahkan secara khusus Rasulullah mengajarkan kepada orang yang sedang berpuasa, bila ada yang mengajaknya bertengkar, maka sebaiknya ia menolak secara halus. Pertengkaran yang dimaksud ini boleh berupa adu mulut, lebih-lebih lagi adu kekuatan.

Suatu hari Rasulullah kedatangan tamu orang Badui. Ia bertanya kepada Rasulullah tentang Islam. Rasulullah menjawabnya dengan sangat singkat, “jangan marah.” Tampaknya Rasulullah tahu bahwa salah satu sifat menonjol pada orang Badui tersebut adalah mudah marah. Ia sangat mudah naik darah. Darahnya mendidih jika menghadapi suatu persoalan.
Orang yang marah cenderung mengabaikan sesuatu yang besar. Orang yang sedang marah merasa semua persoalan itu kecil. Bagi dirinya apa yang menyebabkan kemarahannya itulah persoalan besar.
Itulah sebabnya, jangan hairan bila mendapati orang yang marah mengambil suatu keputusan dengan sangat mudah. Suami isteri yang sedang dilanda kemarahan bisa dengan mudah dan ringan saling memutuskan untuk bercerai. Padahal demi jalinan cinta kasih mereka selama ini telah mengorbankan segala-galanya. Akan tetapi kemarahan menyebabkan pengorbanan itu tidak ada artinya apa-apa lagi. Semua menjadi kecil. Yang besar adalah kemarahan itu sendiri.
Seorang ayah dengan sangat mudah membanting peralatan rumah tangga, karena jengkel terhadap ulah salah satu anggota keluarganya. Padahal untuk mengumpulkan benda-benda tadi ia butuhkan waktu yang snagat panjang. Mungkin bertahun-tahun. Tapi semua itu bisa lenyap seketika hanya karena kobaran api kemarahan.
Orang yang sedang marah, sering ringan tangan dan mulutnya. Tangannya mudah sekali digerakkan untuk menyakiti orang lain. Demikian juga mulutnya. Mereka tak segan-segan mengeluarkan kata-kata kasar, yang menyinggung bahkan menyakitkan hati ramai orang.
 Menempeleng, memukul, menendang, bahkan sampai membunuh menjadi suatu hal yang sangat ringan pada saat kepala dikuasai nafsu amarah. Pandangan dan pertimbangan mereka menjadi sangat pendek. Yang ada dalam fikirannya keinginan balas dendam. Padahal dalam keadaan biasa, boleh jadi untuk melakukan hal serupa itu diperlukan waktu berbulan-bulan untuk menimbang dan berfikir.
Pertengkaran besar atau kecil biasanya didahului dengan adu mulut. Kemarahan seseorang boleh dilihat dari seberapa jauh tingkat kekasaran dan kekerasan ucapannya. Semakin marah, semakin kasar, jika sudah tidak tertahankan, maka adu mulut itu berkembang menjadi adu kekuatan, perkelahian. Dari perkelahian kecil boleh berkembang menjadi pembunuhan.
Melihat bahaya yang boleh ditimbulkan oleh sifat marah ini, maka Islam memberikan arahan kepada ummatnya untuk menahan diri.
Cara menahan diri daripada marah
Caranya adalah dengan diam. Jangan banyak bercakap, sebab bercakap itulah yang biasanya memanaskan suasana. Demikianlah Rasulullah berpesan sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad.
Tutup mulut rapat-rapat sampai emosi boleh dikendalikan, suasana kembali tenang dan situasi tidak tegang. Dalam suasana seperti ini baru boleh berbicara, baik dalam rangka  memberi penjelasan ataupun melakukan pembelaan.
Yang dianjurkan untuk diam serbenarnya tidak hanya mulut, tapi juga anggota tubuh yang lain. Jika seseorang marah sedang ia dalam posisi berjalan, hendaknya ia menghentikan langkahnya. Jika ia sedang berdiri, hendaknya duduk. Jika dalam keadaan duduk masih juga memendam kemarahan yang tak boleh ditahan, maka dianjurkan untuk berbaring.
Akan lebih baik lagi apabila orang yang sedang marah itu mengambil air wudhu’. Insya Allah dengan cara seperti ini kemarahan yang sudah memuncak itu boleh didinginkan lagi. Air, kata Rasulullah boleh mendinginkan perasaan. Untuk itu bila sedang marah, cepat-cepatlah ke bilik mandi. Ambil air wudhu’, bahkan jika mungkin mandi sekaligus.
Sepertinya penyelesaian ini sederhana, tapi pelaksanaannya tidak semudah yang kita bayangkan. Seorang yang sedang marah, cenderung mendekati musuhnya. Untuk menghentikan langkah merupakan suatu perjuangan yang tidak mudah.
Malah mereka cenderung untuk berdiri, bila sebelumnya ia duduk manis. Lihatlah di sekitar kita, termasuk di persidangan ataupun di forum-forum diskusi. Pengacara yang asalnya duduk baik-baik, jika sudah marah, tiba-tiba berdiri, menyampaikan hujahnya dengan berapi-api. Jika hanya pengacara yang marah itu masih belum seberapa, tapi jika hakimnya juga tak mau kalah, maka sungguh sangat berbahaya. Untuk itu hakim yang sedang marah tidak boleh memutuskan perkara.
Sebenarnya tidak hanya hakim saja yang tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan emosi, tapi semua orang dalam keadaan apapun tidak boleh mengambil keputusan pada saat seperti itu. Apakah saat itu seseorang sedang dalam jawatan sebagai guru, polisi, pentadbir, atau bahkan sebagai suami, isteri, maupun anak. Dalam keadaan bagaimanapun jika sedang marah, jangan mengambil keputusan. Boleh jadi keputusan itu aka sangat tidak tepat. Tidak banyak pertimbangan. Sangat dangkal, dan merugikan pihak-pihak lain, bahkan dirinya sendiri.
Sebagai manusia biasa, Rasulullah juga pernah marah. Tapi beliau mampu mengendalikannya. Kemarahannya tidak sampai membahayakan orang lain, baik melalui kata-kata maupun tindakannya. Tak satupun keputusan, baik berupa tindakan maupun ucapan yang dilakukan Rasulullah pada saat seperti ini. Beliau memilih diam. Bahkan jika marah, beliau justru mengganti kemarahannya dengan amalan atau imbalan hadiah kepada orang yang menyebabkan kemarahannya.
Imbalan kemarahan malah diberi hadiah? Barangkali hal ini tidak terbayangkan oleh kita, bagaimana mungkin orang yang kita marahi malah diberi hadiah. Tapi Rasulullah telah melakukannya sebagai bukti kedewasaannya. Hanya orang-orang yang sudah matang yang boleh melakukannys
NAFSU LAWAMMAH
Dikaitkan dengan sesuatu sifat jiwa manusia yang lebih banyak kecendurangannya kepada sifat-sifat untuk memenuhi keperluan lahiriah sahaja. Sama halnya dengan sifat-sifat binatang yang hanya memikirkan tentang makan, minum, jimak berenak-enak dan bersenang lenang dengan dunia sekelilingnya sahaja. Manusia seperti ini, tidak pernah memikirkan tentang alam lain dan keperluan-keperluan ruhaniah mereka malah mereka hanyut dengan kekalutan dunia yang fana ini.
Pada peringkat nafsu Lawamah manusia telahpun dapat menguasai satu perasaan semacam melarang seseorang manusia itu melakukan sesuatu kesalahan kezaliman dan apa saja yang ditegah oleh syariat.
Perasaan ini timbul pada sudut-sudut hatinya pada setiap ketika mereka melakukan sesuatu kesalahan, maka bisikan di dalam hati mereka inilah dinamaan Lawamah.Nafsu lawwamah ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri bila berlaku suatu kejahatan dosa atas dirinya. Ianya lebih baik sedikit dari nafsu amarah. Kerana ia tidak puas atas dirinya yang melakukan kejahatan lalu mencela dan mencerca dirinya sendiri. Bila buat silap dia lebih cepat sedar dan terus kritik dirinya sendiri. Perasaan ini sebenarnya timbul dari sudut hatinya sendiri bila buat dosa, secara automatik terbitlah semacam bisikan dilubuk hatinya. Inilah yang di katakan lawwamah. Bisikan hati seseorang akan melarang dirinya melakukan sesuatu yang keji timbul secara spontan bila terqosad sahaja dihatinya. Cepat rasa bersalah pada Allah Rasulullah atas keterlanjurannya. Ianya ibarat taufik dan hidayah Allah untuk memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan jalan yang lurus.
 Rasulullah s.a.w bersabda:“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan untuknya penasihat dari hatinya sendiri”
“Barangsiapa yang hatinya menjadi penasihat baginya, maka Allah akan menjadi pelinding ke atasnya.”

Tapi bila seseorang itu meningkat ke martabat nafsu lawwamah tapi tidak mematuhi isyarat lawwamah yang memancar di hatinya, maka lama-kelamaan isyarat ini akan padam dan malap. Hingga jatuhlah kembali pada tahap nafsu amarah kembali. Sebab itu kadang-kadang kita tengok sekejap orang tu baik, sekejap berubah jahat kembali. Kemudian berubah balik. Inilah bolakan hati yang di sebabkan oleh keadaan nafsunya yang berubah-ubah.Firman Allah:“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti (suruhan jahat) mereka setelah datang ilmu (isyarat lawwa-mah) kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim”

“Sesungguhnya petunjuk Allah ialah petunjuk yang sebenarnya.Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan (jahat dan keji) mereka , setelah ilmu diperolehi (datang kepadamu) maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

Pada tahap lawwamah ini masih lagi bergelumang dengan sifat-sifat mazmumah tapi jumlahnya mulai berkurang sedikit. Keinsafan memancar. Sekiranya dia terus mematuhi isyarat lawwamah yang ada, sedikit demi sedikit sifat-sifat keji dapat dihapuskan. Pada peringkat ini dia banyak meneliti diri sendiri dan merenung segala kesilapan yang lampau. Bila perasaan menyesal datang, orang-orang pada peringkat sangat mudah mengeluarkan air mata penyesalan. Kerap menangis dalam solat, atau bila sendirian, sewaktu berzikir, bersolawat. Air matanya bukanlah disengajakan tetapi berlaku secara spontan. Inilah dikatakan sebagai tangisan diri. Pada peringkat ini mula banyak mengkaji dan meneliti alam dan kejadian. Malah sentiasa membandingkan sesuatu dengan dirinya. Mereka juga menjadi gila untuk beribadat dan cenderung kepada perbincangan berkaitan soal mengenal diri dan mula jemu dengan persoalan yang tidak berkaitan dengan agama. Perubahan ini boleh jadi mendadak sekiranya kita terjun ke alam tasauf.

Rasulullah s.a.w bersabda:

“Bahawasanya orang-orang mukmin itu perhatiannya pada solat, puasa dan ibadat dan orang munafik itu perhatiannya lebih kepada makanan dan minuman seperti halnya binatang”

“Sedikit taufik adalah lebih baik dari banyak berfikir dan berfikir perkara duniawi itu mendaruratkan dan sebaliknya berfikir perkara agama pasti mendatangkan kegembiraan”

Pada tahap ini sudah mementingkan akhirat dari dunia. Namun begitu walau nak dibandingkan dengan amarah ia lebih tinggi sedikit, namun sekali-sekala ia tidak terlepas juga dari jatuh kedalam jurang dosa dan kejahatan.Imannya masih belum kuat.Namun ia cepat sedar dan cepat beristigfar minta ampun kepada Allah.

Sebagai contoh kalau tertinggal sembahyang terdapat perasaan kecut hati dan cepat menyesal sehingga terus pergi kadha.
Nafsu Lawwamah ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri atau mencela diri sendiri apabila berlaku suatu kejahatan, atau dosa ke atas dirinya.

 Seperti firman Allah:
“Dan Aku (Allah) bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri/ lawwamah)…..(surah al-Qiyamah: 2)
Nafsu ini lebih elok dan tinggi sedikit darjatnya daripada nafsu ammarah kerana ia tidak puas hati di atas dirinya yang melakukan kejahatan lalu ia mencela dan mencerca dirinya sendiri. Namun tabiatnya sekali sekala tidak terlepas dari melekukan maksiat dan kejahatan, lalu ia cepat-cepat beristigfar kepada Allah serta menyesal atas perbuatannya
Contoh sifat-sifat ahli nafsu lawwamah ialah mencela atas kesalahan diri sendiri, bertabiat berfikir (bertafakur), terdapat perasaan takut bila melakukan kesalahan, terdapat perasaan mengkritik terhadap apa jua yang dikatakan kejahatan, bersangka dirinya lebih baik (ujub)dan bersikap riak, memperdengar kpd orang tentang kebaikan yang dia lakukan sendiri supaya mendapat pujian.
Martabat nafsu lawwamah ini terletak pada kebanyakkan orang awam. Syurga untuk orang martabat ini masih tidak terjamin kecuali dengan keampunan dan rahmat dari Allah swt, kerana dihati mereka masih terlekat sisa-sisa sifat kotor yang perlu dihakis habis sperti riak, ujub dsb.
Mereka ibarat perak bercampur tembaga dan nilainya tinggi sedikit dari tembaga berkarat tadi. Jadi untuk mengikis segala sifat-sifat buruk mereka haruslah mengikis habis-habisan dari lubuk hati mereka dengan penawar jalan kesufian.
Antara sifat nafsu lawwamah adalah:
1. Mencela diri sendiri
2. Bertafakur dan berfikir
3. Membuat kebajikan kerana ria
4. Kagim pada diri sendiri yakni ‘ujub
5. Membuat sesuatu dengan sum’ah -agar dipuji
6. Takjub pada diri sendiriSesiapa yang merasa berdegup di hati sifat seperti di atas masih lagi berada pada tahap nafsu lawwamah. Ianya adalah terdapat pada kebanyakan orang awam .
Harus kuat berzikir lagi untuk menembus dan menyucikan sisa-sisa karat hati. Zikir pada peringakat nafsu ini masih lagi dibibir tetapi kadang-kadang sudah mulai meresap masuk ke lubuk hati tapi dalam keadaan yang tidak istiqamah. Pada peringkat ini memang sudah timbul gila beribadat sehingga kadang-kadang merasa dirinya ringan dan melayang, kadang-kadang macam hilang dirinya. Rasa semacam semut berderau diseluruh tubuhnya terutama pada bahagian tulang belakang dan tangannya. Keadaan beginilah menimbulkan keasyikan yang menyeronokkan dengan amalan zikir dan ibadat lain.

Pada pringkat ini sudah boleh menerima sedikit ilham hasil dari zauk dan kadang-kadang mengalami mimpi yang perlu ditafsir kembali oleh guru. Bila berterusan dengan petua dan amalan yang diberi oleh guru InsyaAllah nafsunya lawwa-mah ini akan meningkat kepada tahap seterusnya.
Sesungguhnya Lawamah ini bolehlah diibaratkan seperti lampu isyarat (Alarm) di dalam sebuah kereta di mana lampu ini akan menyala berwarna merah/kuning bila kereta tersebut kehabisan minyak dan mengisyaratkan tuannya supaya mengisi minyak baru sebelum bahaya merempuh datang dari hadapan. Bagi mereka yang mempunyai Lawamah (isyarat larangan) dan mereka pula mematuhinya dengan penuh rasa tanggungjawab, maka mereka akan terselamat dari bahaya yang datang dari gejala-gejala nafsu Amarah yang masih berdaki laput di dalam jiwanya.
Sebaliknya jika seseorang itu yang telah meningkat ke martabat nafsu Lawamah tetapi tidak mematuhi isyarat larangan Lawamah, maka lama-kelamaan isyarat tersebut akan padam dan akan kembali lah mereka kepada nafsu Amarahnya.

Zikir mereka pada martabat nafsu Lawamah biasanya masih melekat di bibir tetapi kadang-kadang mulai telah menyerap masuk ke dalam hatinya dan keadaan tersebut tidak tetap. Maka haruslah seseorang itu meneruskan zkirnya sebagaimana yang dipetuakan oleh gurunya dengan tabah.
Mereka pada martabat ini masih lagi bergelumang dengan daki sifat-sifat Mazmumah tetapi ianya mulai menurun ke satu tahap minima. Sifat-sifat seperti gelojoh, marah, lekas melenting, hasad dengki dan lain-lain sifat terkeji mulai mengurang hasil kepatuhannya terhadap isyarat Lawamah yang terbit dari sudut hatinya. Kekusutan fikirannya telah pun menurun dan mereka mulai merasa segan untuk melakukan sesuatu dari sifat Mazmumah malahan mereka sering menyesali di atas sikap-sikap zalim yang pernah dilakukan oleh mereka dahulu.
Seperti firman Allah di dalam Al-Quran :

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri”
(Surah Al-Qiyaamah – Ayat 2)

Maka dengan ketekunan mematuhi isyarat serta kuat pula berzikir maka tingkatan nafsu mereka akan meningkat ke martabat nafsu ketiga yang dinamakan Nafsu Mulhamah.
Pada peringkat nafsu Lawamah seseorang itu telahpun dapat menerima ilmu Ghaib melalui Laduni pada peringkat NUR atau mimpi di dalam tidurnya dan kadang-kadang pula dapat menerima ilmu Laduni di peringkat tajalli. Oleh yang demikian maka seseorang itu haruslah pula berusaha dengan tekun dan sabar mengikuti petua-petua gurunya dan jangan sekali leka, semoga peningkatan martabat nafsunya akan tecapai.

NAFSU MULHAMAH

Adapun yang dimaksudkan dengan nafsu tersebut adalah nafsu Mulhmah. Pada peringkat nafsu ini seseorang itu telahpun dapat menyingkir sebahagian besar daripada sifat-sifat yang dikeji oleh Allah swt. Jiwa mereka pada masa ini telah pun mulai berkembang sifat-sifat tenang, lapang dadanya dan mereka telah pun dapat pengajaran ilmu ghaib melalui jalan Laduni, diperingkat Nur dan Tajalli daripada Tuhannya. Tetapi manusia diperingkat ini masih wujud lagi terkadang-kadang siat-sifat Mazmumah yang dikeji oleh Allah swt. Jiwa mereka kadang-kadang tenang dan ada masanya fikirannya gelabah, gelisah dan sebagainya. Pendek kata sifat-sifat Mazmumah itu masih lagi melanda jiwa mereka.Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwamah, Mulhimah merupakan nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui ujian dan latihan sufi/ tariqat/ amalan guru dan lain-lain baik lahir maupun bathin yang mempunyai sanad dari Rasulullah SAW, kesucian hatinya telah menyebabkan segala lintasan kotor atau khatar-khatar syaithoni telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari Allah melalui Khatar Maliki atau Rabbani,

firman Allah:  ‘Maka diilhamkan Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah (celakalah) orang yang mengotorkannya (nafsu)”  (QS As-Syams: 8-10)  
Maka makam nafsu ini juga dikenali dengan nafsu syamiah, pada peringkat ini Allah mentajjalikan amalannya yang baik sudah mengatasi amalannya yang kejahatan, sifat mazmumah telah mulai diganti dengan mahmudah, sikap beribadat telah tebal dan amalan guru terus diamalkan dengan lebih tekun lagi.   Zauk pada penyesalan pada peringkat sebelumnya (lawwamah) terus teringat di dalam jiwa, isyarat dan tanda-tandanya sentiasa lekat dalam ingatan, taubat orang pada nafsu mulhamah ini adalah ‘taubatan nasuha’ tidak hanya dimulut tetapi hakiki.   Dalam kehidupan sudah terbina satu sikap dan akhlaq yang baik, tabah menghadapi ujian, bila terlintas sesuatu yang mendorong ke arah maksiat, ia senantiasa memohon perlindungan Allah.  
Firman Allah:  ‘Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka saat itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan.’  (QS Al-A’Raaf: 201) 
 Sabda Rasulullah S.a.w: 
‘Barangsiapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa susah (gelisah) dengan kejahatan yang dilakukan, maka itu orang-orang mukmin’ 
Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwa-mah.
Nafsu mulhamah ini ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi/ tariqat/ amalan guru lainnya yang mempunyai sanad dari Rasulullah s.a.w.Kesucian hatinya telah menyebabkan segala lintasan kotor atau khuatir-khuatir syaitan telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari malaikat atau Allah.
Firman Allah:

“Demi nafsu (manusia) dan yang menjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah (celakalah) orang yang mengotorkannya(nafsu) 
“Makam nafsu ini juga dikenali dengan nafsu samiah. Pada pringkat ini amalan baiknya sudah mengatasi amalan kejahatannya. Sifat mazmumah telah diganti dengan mahmudah. Sikap beibadat telah tebal dan amalan guru terus diamalkan dengan lebih tekun lagi.Pada penyesalan pada peringakat lawwamah tadi terus bersebati di dalam jiwa. Isyarat lawwamah sentiasa subur. Sesungguhnya taubat orang peringkat mulhamah ini adalah “taubatan nasuha”. Bukan shaj di mulut tetapi hakiki.

Dalam kehidupan sudah terbina satu skap yang baik,tabah menghadapi dugaan, bila terlintas sesuatu yang ke arah maksiat cuba-cuba memohon kepada perlindungan dari Allah.

Firman Allah:

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa , bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketiak itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan.” 
Sabda Rasulullah S.a.w:
“Barangsiapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa susah (gelisah) dengan kejahatan yang dilakukan, maka itu orang-orang mukmin”
Zikir
pada tahap ini telah menyerap kedalam lubuk hatinya bukan sekadar berlewa-lewa dibir sahaja lagi. Malah sudah menerima hakikat nikmat zikir dan zauk. Bila disebut nama Allah rindunya sangat besar, berderau darahnya dan gementar tubuhnya tanpa disengajakan.
Firman Allah:“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, bagi mereka apabila sahaja disebut nama Allah, nescaya gementarlah seluruh hati mereka” Perasaan ini terus menjalar sehingga bertemu kekasihnya.

Di dalam masa mereka menerima zuk di dalam zikirnya serta dapat pula mereka merasai nikmat zikirnya, maka seseorang itu diperingkat Mulhamah pula akan menerima satu lagi penyampaian ilmu ghaib melalui Laduni di peringkat Sir iaitu di mana seseorang itu akan dapat mendengar satu suara ghaib yang mengajar dirinya tentang ilmu ghaib melalui telinga batin.
Biasanya suara Ghaib itu adalah suara guru ghaib yang terdiri daripada wali-wali Allah yang Agong yang mengajar seseorang itu dengan terang dan jelas.

Allah berfirman:

“Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah.Ingatlah hanya dengan berzikir kepada Allah sahajalah hati menjadi tenteram”.

Dalam konteks ilmu pula mereka bukan sahaja menguasai ilmu qalam malah sudah dapat menguasai ilmu ghaib menerusi tiga cara laduni iaitu nur, cara tajalli dan cara laduni di peringakat sir. Yang dimaksudkan dengan laduni peringkat sir ialah menerusi telinga batin yang terletak ditengah-tengah kepala yang biasanya dipanggil bahagian tanaffas. Suara yang diterima amat jelas sekali. Tak ubah seperti mendengar suara telefon. Pada masa yang sama pendengaran zahir tetap tidak terganggu walaupun masa menerima laduni sir itu ada kawan berbual. Biasanya suara ghaib itu adalah waliyulah atau ambia yang merupaka guru-guru ghaib yang bertugas mengajar ilmu ghaib pada mereka yang diperingkat mulhamah. Tapi perlu ingat guru murysid zahir kita tetap guru. Malah Guru mursyid kita sebenarnya telah berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru-guru ghaib ini. Sebab tu kalau tak ada murysid kita akan terpedaya dengan syaitan dan jin yang menyamar. Pembukaan telinga batin ini pada awalnya berlaku seakan suatu bisikan suara yang dapat dibahagian dalam anak telinga, dimana pada permulaannya merasa berdesing. Kemudian barulah dapat dengar jelas.
Antara sifat-sifat yang bernafsu mulhamah:
1. Sifat-sifat ketenangan,lapang dada dan tidak putus asa.
2. Tak sayangkan harta
3. Qanaah.
4. Berilmu laduni
5. Merendah diri/ tawwadu’
6. Taubat hakiki
7. Sabar hakiki
8. Tahan ujian dan menanggung kesusahanMereka pada tahap ini mulai masuk ke sempadan maqam wali yakni kerapkali mulai mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat (syuhud) tetapi belum teguh dan kemungkinan untuk kembali kepada sifat yang tidak baik masih ada. Kebanyakan orang cepat terhijab pada masa ini kerana terlalu asyik dengan anugerah Allah padahal itu hanyalah ujian semata-mata.

NAFSU MUTMAINAH

Inilah peringkat/ martabat nafsu yang pertama yang benar-benar direhai Allah Yang layak masuk syurga Allah. Maknanya siapa sampai pada maqam ini bererti syurga tetap terjamin, InsyaAllah.

 Hakikat inilah yang difirmankan Allah:
“Wahai orang yang berjiwa / bernafsu mutmainnah,pulanglah kepangkuan Tuhanmu dalam keadaan redhai meredhai olehNya dan masuklah ke dalam golongan HAMBAKU dan masuklah ke dalam syurgaKU”. (Surah Al-Fajr – ayat 27-30)Pada peringkat ini jiwa mutmainnah merasakan ketenagan hidup yang hakiki yang bukan dibuat-buat. Tidak ada lagi perasaan gelisah. Semuanya lahir dari tauhidnya yang tinggi dan mendalam. Tauhid yang sejati dan hakiki. Tidak ada lagi perbezaan senang dengan susah baginya sama sahaja. Pada maqam inilah permulaan mendapat darjat wali kecil.Antara sifat-sifat maqam ini adalah:
1. Taqwa yang benar.
2. Arif
3. Syukur yang benar
4. Tawakkal yang hakiki
5. Kuat beribadat
6. Redha dengan ketentuan Allah
7. Murah hati dan seronok bersedekah.
8. Dan lain-lain sifat mulia yang tidak dibuat-buat.

Setelah mencapai suatu martabat Mulhamah dan berjaya pula mengikut petua-petua gurunya serta dapat pula menerima zuk dan sir di samping hilang pula segala sifat mazmumah pada dirinya. Maka seseorang itu akan mendapat ketenangan, kelapangan jiwanya, hilang sifat-sifat resah gelisah hatinya.
Hatinya ketika itu mulai melekat rasa lamunan asih terhadap Allah swt dan mereka ini adalah dijamin 100% oleh Allah syurga, maka itu lah mereka yang telah berjaya mencapai ke martabat nafsu Mutmainah.Seperti firman Allah di dalam Al-Quran :-“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Alah itu tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat.”
(Surah Yunus – ayat 62 – 64)

Zikir mereka pada martabat ini telahpun melekat dihati dan terus bersama ingatan dengan Allah Taala pada setiap masa dan ketika. Dan pada peringkat ini mereka telahpun mendapat kalbun iaitu satu cahaya yang bergerak diantara atas dan bawah pada bahagian jantung yang bertindak sebagai dynamo untuk mengalirkan current ingatan kasih mesra, cinta rasa dengan Allah swt.

Pada peringkat martabat ini seseorang manusia itu bolehlah disifatkan telah mencapai martabat wali iaitu dinamakan oleh para ahli Tasauf sebagai Wali Kecil. Disamping telahpun mulai menerima Ilmu Ghaib (Laduni) melalui cara sirusir dan telahpun berjaya mendapat mata basir.

Pada peringkat nafsu Mutmainah ini juga, mereka telahpun dapat menerokai dengan pendengaran dan penglihatan mereka melalui telnga batin dan mata basir merekake alam barzah (alam kubur). Merea telahpun boleh melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana nasib suka duka seseorang itu yang telah meninggal dunia dan berada di alam barzah serta diberi peluang juga melawat ke alam lain (alam ghaib).

Pada peringkat ini, timbul lah sifat-sifat super yang tidak boleh dimiliki oleh orang-orang awam seperti keramat, mulut masin, berkat da sebagainya. Bagi mereka diperingkat ini sering dilamun perasaan pana akibat kuatnya gelora lamunan cinta terhadap Allah swt.

Pada maqam ini biasanya (walaupun tidak semestinya), akan adanya keramat-keramat yang luar biasa serta mendapat ilmu dengan tak payah belajar sebab sudah dapat mengesan rahsia-rahsia dari LohMahfuz. Adanya sifat lidah masin. Apa yang keluar dari mulut bukan sembarangan lagi bahkan menerusi yang dipanggil sebagai ‘inkisaf’.

 Mereka sudah menguasai ilmu peringkat nur, tajalli, sir dan juga sirussir, iaitu lebih tinggi dari maqam mulhamah. Yang dikatakan menerusi sirussir ialah cara penerimaan dengan telinga dan mata batin. Kalau mulhammah tadi baru terbuka dengan telinga batin tanpa mata batin. Dengan mata batin inilah dia berupaya melihat sesuatu yang ghaib yang tak mampu dilihat oleh mata biasa kita. Malah dapat melihat sesuatu yang akan berlaku pada masa akan datang. Betul-betul macam melihat TV. Malah siap boleh rewind lagi. Kalau guru kita nak lihat sejarah hidup kita yang lalu biasanya dia akan memrhati rakaman hidup kita dan mengesan dimana kesilapan kita dan memberi petua untuk membetulkannya. Kalau mencuri disuruhnya kita memulangkan kembali serta minta halal dan maaf, dan sebagainya lagi. Namun begitu dia tetap akan menjaga aib muridnya kepada orang lain. Perlu dingat pada peringkat ini dia tidak terganggu penglihatan dan pendengaran zahirnya pada masa sama melihat dan mendengar yang batin walaupun duduk di kedai kopi bersama-sama orang lain. Melalui penerimaan sirussir ini dia berupaya melihat alam barzakh, menjelajahi alam alam malakut. Keyakinan mereka sudah pada tahap ainul yakin dan haqqul yakin.Fana juga boleh berlaku yang dikenali sebagai “fana qalbi” iaitu merupakan penafian diri ataupun menafikan maujud dirinya dan diisbatkan kepada wujudnya Allah semata-mata.Inilah peringkat yang kita bincangkan dulu mengenai LAA MAUJUD ILLALLAH.
 Keadaan inilah yang digambarkan Allah:
“Semua yang ada adalah fana (tiada wujud hakikinya).Dan yang kekal(baqa) itu adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”
Namun fana qalbi ini tidaklah kekal.

NAFSU RADHIAH Maqam ini dinamakan radhiah karena perasaan keridhaan pada segala ketentuan dan hukuman Allah. Pada maqam ini sudah tidak ada rasa takut dengan pada bala Allah dan tak tahu gembira dengan nikmatNya. Sama saja. Yang penting Allah redha padaNya. Itu kalau sakitpun tak mau berobat, sebab bagi dia sakit itulah nikmat karena dia merasa makin dekat dengan Tuhannya. Uang Dolar sudah sama dengan daun kayu. Emas sama dengan tanah. Dunia sudah dipandang kecil , malah sudah tidak dipandang lagi sebaliknya dunia yang datang kepadanya.

Mereka sudah berjaya mencapai kejernihan hati yang teguh. Bukan senang mencapai maqam nafsu ini kerana ia bukanlah sebarang benda yang boleh disumbatkan ke dalam hati jika tidak ada kesungguhan yang hakikidalam perjuangan mujahadah dan ibadat dalam mencapai maqam nafsu yang mulia ini. Tabiat mereka adalah luar biasa kerana mereka tidak takut pada bala Allah dan tidak gembira pada nikmat yang diberikan Allah. Yang mereka tahu hanyalah keredhaan pada Allah dan hukumannya. Bagi mereka bala atau nikmat itu sama saja. Nafsu mereka sudah terkikis dari akar umbi kesemua sekali dan muncul pula sinaran nur syuhud yang membawa pada makrifat, datang bertalu-talu masuk ke dalam hati nurani mereka.
Maqam ini digelarkan wali Allah dalam martabat orang khawas. Mereka ibarta emas bermutu lapan dan syurga memang terjamin kerana sifat mereka yang zuhud, warak, ikhlas dan segala sifat terpuji yang tiggi-tinggi…
Firman Allah:
“Sesungguhnya wali-wali Allah itu tak rasa ketakutan dan tak pernah rasa kerungsingan di atas mereka”. 
Ini karena nur syhuhud sudah merasuk dalam jiwa mereka. Alam sekeliling seperti cermin. Ini adalah maqam musyahadah tahap ihsan seperti hadis Rasulullah s.a.w:
Hendaklah kamu menyembah Allah sebagaimana kamu melihatNya…” 
INi adalah maqam wali dalam martabat khawas.
Pada masa inilah apa yang diisyaratkan oleh rasulullah s.a.w:
“Takutilah akan firasat orang mukmin, bahawasanya orang-orang mukmin itu melihat dengan Nur Allah”. 
Pada tahap radhiah ini ,ia melihat melalui basyirahnya, merenung dengan kasyafnya , bertindak melalui perintah ilmu laduninya.Mulutnya dan doanya sangat mustajab.’Barang dipinta barang jadi”
Orang dimaqam ini kadang-kadang perbuatannya menyalahi syariat.Percakapan kadang-kadang menyinggung orang biasa yang tak faham tapi dikeluarkan tanpa sengaja.Masih lagi mengalami fana qalbi.tapi tidak menentu.Hidupnya ibarat dilambung gelora cinta seolah terapung bersama-sama Allah.Hanya memandang dan menyaksikan sesuatu bahawa tiada suatu yang wujud di dunia ini melainkan wajah Allah semata-mata:
Firman Allah:
“Di mana saja kamu menghadap, maka disitulah wajah Allah
Itu yang terjadi pada Al Junaid: Tiada apa dalam jubahku, melainkan Allah.
Mereka sudah memandang yang banyak kepada satu.Keadaan inilah boleh menimbulkan fitnah, malah kadang-kadang orang akan anggap gila. Inilah maqam Ana’al Haq-Mansur Al-Hallaj.
Zikir pada peringkat ini adalah secara ‘khafi’ yang telah meliputi seluruh anggota zahir dan batinnya. Pada peringkat inilah kulit berzikir, daging berzikir, tulang berzikir, malah semuanya berzikir. Tu yang jadi darah Al-Hallaj membentuk tulisan Allah lalu keluar zikir, malah kematian wali-wali seperti Tok Ku Paloh, masih lagi terdengar zikir di dadannya. Kadang-kadang mereka dijemput menjelajah alam ghaib kubra yang diluar akal manusia. Malah mereka di ajar ilmu tinggi yang lebih canggih dari manusia biasa yang boleh dicapai oleh zaman moden ini. Mereka boleh buat perhubungan secara langsung dengan para rasul, nabi, ambia dan waliyullah yang lain. Mereka menuntut ilmu dengan aulia macam berbincang dengan kawan melalui handphone, malah boleh berinteraksi beramai-ramai walaupun masing-masing berada di berbeza tempat.
Sifat-sifatnya:
1. Ikhlas
2. Warak
3. Zahid
4. Dan lain-lain lagi yang baik yang ada pada maqam sebelum ini
Maqam ini adalah yang tertinggi dari maqam radhiah kerana percakapan atau kelakuan mereka adalah diredhai Allah dan diakui Allah. Jiwa mereka, perasaan mereka, lintasan hati mereka, gerak geri mereka, penglihatan, pendengaran, pancaindera, penumbuk penerajang mereka kesemuanya diredhai Allah. seperti di dalam hadis Qudsi ;
“Sentiasalah hambaKu berdamping diri kepadaKu, dengan megerjakan ibadat sunnat hingga aku kasihkan dia, maka apabila Aku kasihkan dia nescaya dalah aku pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia dengar dengannya, pertuturan lidahnya yang ia bertutur dengannya, penampar tangannya yang ia tampar dengannya, berjalan kakinya yang ia berjalan dengannya, dan fikiran hatinya yang ia fikir dengannya.
Maka timbullah perkara-perkara ajaib yang luarbiasa seperti berjalan di atas air, terbang di udara, pergi ke Makkah dalam sekelip mata dsb. Mereka digelar wali Allah dalam martabat Khawas al-khawadh yakni wali Allah dalam martabat yang istimewa daripada wali-wali yang tertentu. Mereka ibarat emas bermutu sembilan dan syurga adalah terjamin.
Mereka bersifat budi berkerti yang tinggi ibarat nabi-nabi, dan sentiasa berfikir tentang kebesaran Allah serta segala sifat terpuji yang tertinggi sekali.
Mereka yang telah sampai keperingkat nafsu mardhiah kelihatan lebih tenang dan
tenteram. Hati dan jiwanya telah benar-benar sebati dengan Allah. Rasulullah s.a.w.
bersabda yang bermaksud:“Apabila kamu sekalian melihat seseorang Mukmin itu
pendiam dan tenang, maka dekatilah dia. Sesungguhnya dia kan mengajar kamu
hikmat.” (Riwayat Ibnu Majah).
Orang yang berada di peringkat nafsu ini ialah apa saja yang mereka lakukan mendapat keredhaan Tuhan. Mereka inilah yang disebut dalam Hadis Qudsi: “Mereka melihat dengan pandangan Tuhan, mendengar dengan pendengaran Tuhan, ber­kata-kata dengan kata-kata Tuhan.” Kata-kata mereka masin, sebab itu mereka cukup menjaga tutur kata. Kalaulah mereka mengatakan celaka, maka celakalah. Karena kata-kata mereka, kata-kata yang diredhai Tuhan. Mereka meman­dang besar apa saja yang Tuhan lakukan.
Pada peringkat ini segala yang keluar darinya semuanya telah diridhai Allah. Perilakunya, kata-katanya, diamnya semuanya dengan keredaan dan keizinan Allah belaka. Akan keluar keramat yang luar biasa. Mereka sudah menanam ingatan pada Allah diteras lubuk hati mereka menerusi cara “khafi-filkhafi”, maknanya secara penyaksiaan ‘basitiah’ yaitu penyaksian sifat ma’ani Allah yang nyata dan dizahirkan oleh diriNya sendiri. Af’al diri mereka sudah dinafi dan diisbahkan secara langsung kepada af’al Allah semata-mata.Jiwa mereka betul-betul sebati, ingatan mereka terhadap Allah tidak sesaatpun berpisah darinya. Penyaksiaan terhadap hak sifat Allah jelas baginya sehingga hilang dirinya nya sendiri. Inilah dinyatakan sebagai Abu Yazib Bistami:“Subha Inni..”
“Pandanglah yang satu pada yang banyak”
Peringkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. Pada peringkat inilah suka mengasingkan diri,tidak suka bergaul lagi dengan makhluk.
Namun begitu ia mempunyai kesadaran dua alam sekaligus. Zahir dan batin. Dan ia akam kembali normal seperti biasa. Kalau peringkat sebelum ini mungkin sampai tak terurus.
Konsep perjalanannya lebih kurang dengan Radhiah.mereka berpegang kepada konsep:
Firman Allah:
“Apa yang di sisi kamu itu pasti lenyap dan apa yang ada di sisi Allah tetap kekal”. 
Perkataan syatahah sudah hilang.Mereka suka hidup nafsu nafsi.  Sabda Rasulullah s.a.w:
“Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang , maka dekatilah ia. Sesungguhnya dia akan mengajar kamu hikmah” 
Menyentuh tentang zikirnya, zikirnya adalah zikir rahasia, tidak lagi ada lafaz dengan lidah maupun hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin mengucapkan dengan zikir rahsia yang didengar oleh telinga batin di maqam tanaffas. Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir walaupun dia tengah bercakap atau buat apa sahajapun.
Firman Allah:
“Orang-orang berzikir kepada Allah sambil berdiri, sambil duduk dan dalam keadaan berbaring…” 
Bagi mereka di maqam ini setiap perbuatan, perkataan, penglihatan dan apa sahaja adalah zikir.
Pada tahap ini mempunyai kekeramatan yang amat luar biasan. Namun biasanya jarang sekali menzahirkannya kelebihannya itu. Dari segi ilmu, mereka sudah memperolehi ilmu semua peringkat sebelum ini iaitu nur, tajalli, sir, sirussir malah ditambah lagi dengan cara tawasul/yaitu secara jaga dengan ambia dan waliyullah. Kehadiran wali-wali kepada orang maqam mardiah ini lebih merupakan penghormatan dan ziarah sahaja. sambil berbincang-bincang. Mereka berpeluang menjelajah seluruh alam alam maya dan alam ghaib termasuk syurga, neraka dan sebagainya. Mereka berupaya melawat bermacam-macam tempat samada dengan pecahan diri batinnya atau dengan jasad sekali. Malah dalam satu masa boleh menjelma di pelbagai tempat. Ini dipanggil “Khawa Fulkhawaf”. Ianya berlaku tanpa sengaja dan tanpa dapat dikawal
Sifat-sifatnya:
1. Ridha dan rela dengan apa-apa pemberian Allah
2. Lemah lembut pergaulannya
3. Elok dan tingginya budi
4. Lain-lain sifat terpuji maqam sebelum ini.

NAFSU KAMALIAH 

Adapun yang dimaksudkan dengan Kamaliah ini adalah keadaan telah berkamil atau bersebati kelakuan diri zahir dengan kelakuan diri batin pada kontek dirinya dengan Allah swt. di dalam hidupnya.Pada martabat ini, apa saja kelakuan diantara diri batin dan jasad adalah sama dan tidak bercerai tanggal diantara satu dengan yang lain. Dimana setiap perlakuan yang dilahirkan oleh mereka di martabat ini direstui dan diredhai oleh Allah Taala secara spontan. Keadaan ini dinamakan Kata Jadi ( Kun Fayakun ). Pendek kata, barang kata barang jadi, mereka ini nak dikatakan sakit, amat sakit, kalau keramat amat keramat, kalau alim teramat alim dan mereka mempunyai segala kelebihan yang tidak boleh sekali diterokai oleh manusia awam.

Maqam ini adalah tertinggi. Maqam ini digelar sebagai “baqa billah”, Kamil Mukamil”, Al Insan kamil kerana ia dapat menghimpunkan antara zahir dan batin, yakni ruh dan hatinya kekal kepada Allah tetapi zahir tubuh kasarnya tetap dengan manusia.
Hati mereka kekal dengan Allah tak kira masa dan tempat, tidur atau jaga sentiasa mereka bermusyahadah kepada Allah. Ini adalah maqam khawas al khawas. Semua gerak geri mereka sudah jadi ibadat. Hatta berak kencing mereka, tidur mereka dan sebagainya.Ilmu mereka adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ghazali, ilham dan ilmu mukasyafah yang diterima nya tidak bukan adalah sama dengan istilah wahyu semuanya datang terus dari Allah. Cuma kalau Rasul dan Nabi di panggil Wahyu dan manusia biasa yang kamil di panggil Ilham.Saya rasa sekadar ini lah yang termampu oleh saya. Mungkin ada kelemahan dan ketinggalan dalam istilah atau pengertian. Wahai Tuan -tuan sila perbetulkan dan tambah lagi mana-mana yang kurang.Mengenai kaedah zikir pada maqam-maqam saya rasa ada saudara yang akan menghuraikanya berpandukan kaedah tariqat masing-masing.InsyaAllah.

Orang yang hendak mencapai nafsu kamil ini mestilah ia melalui dahulu proses perjalanan nafsu-nafsu satu demi satu dari nafsu yang terendah sekali iaitu ammarah hingga sampai ke maqam nafsu yang tertinggi iaitu nafsu kamil. Maqam nafsul ini adalah tertinggi dan teristimewa sekali dari maqam wali-wali yang ada di muka bumi ini. Kerana mereka dapat menghimpunkan antara batin dengan zahir atau antra hakikat dengan syariat.


Sesiapa saja yang tercapainya ke martabat nafsu ini (Kamaliah) mereka boleh berpeluang pula menerima ilmu syahadah iaitu Ilmu Allah yang paling tertinggi yang dapat melalui guru yang dinamakan guru batin.Bagi mereka yang telah mencapai martabat nafsu Kamaliah, mereka hendaklah pula berusaha mengembalikan dirinya ke martabat nafsu orang mukmin iaitu nafsu Mutmainah. Mereka tidak harus tinggal lama di martabat nafsu Kamaliah. Mereka harus menjadikan diri mereka kembali kepada orang awam, bergaul berniaga, berpolitik dan menjadi khalifah di alam maya tetapi jiwa raganya tetap bersama Allah buat selama-lamanya sehingga darjat dirinya payh ditelah oleh orang ramai dan ini boleh disebut sebagi orang alim tidak alim, orang jahil tidak jahi. Pendek kata sifa manusia yang sempurna dan sederhana dimiliki oleh mereka di martabat ini dan mereka mulia di dunia dan akhirat.Oleh itu wahai teman-teman dan anak-anak, tuntutilah Ilmu Tasauf sehingga tercapai martabat yang bapak coretkan ini, semoga kita bersama selmat di dunia dan akhirat.

“Berbahagialah engkau yang mencapai martabatnya”
Ruh mereka atau hati mereka kekal dengan Allah tetapi zahir tubuh kasar mereka bersama-sama dengan pergaulan orang ramai. Hati mereka kekal bersama Allah tidak kira diwaktu lena ataupun jaga mereka dapat musyahadah dengan Allah dalam setiap ketika. Tidak dapat dinilai dengan apa-apa walaupun duni dan seisinya kerana ia adalah khawas al-khawas. Segala kelakuan mereka adalah ibadat semata-mata. Syurga bagi mereka adalah yang teristimewa sekail.

Akhir sekali sama-samalah kita nilai dimanakah letaknya kedudukan hati kita, maqam hati kita dan nilai diri kita di mata Allah swt… Alangkah jauhnya untuk kita tempuhi jalan yang penuh onak duri ini…namun dengan kesungguhan, istiqamah yang berteusan, Biiznillah Allah akan beri peluang pada kita untuk kita menghampiriNya. Sesungguhnya Allah tidak akan menghampakan hambaNya yang ingin mendekatiNya….asalkan hati kita ikhlas…hanya kerana Allah bukan kerana ingin mendapatkan ilham, kasyaf, keramat, mahupun syurga… kerana hati yang ikhlas hanya pada Allah dan hanya kerana Allah semata-mata.
Makam nafsu yang tertinggi sekali. Mereka ini hidupnya didunia ini dengan jasadnya bergaul dengan orang ramai, namun jiwa, ruh dan batinnya tetap dengan Allah semata2. Mereka ini sentiasa berada di dalam fana kepada Allah. Makam ini dipunyai oleh wali2 besar, para2 nabi dan rasul.

Nafsu peringkat ke-5, ke-6 dan ke-7 adalah darjat atau pe­ning­­katan kepada nafsu mutmainnah tadi. Bagi nafsu kami­lah, manusia biasa tidak bisa sampai ke maqam ini. Kamilah hanya derajat untuk para rasul dan para nabi. Manusia biasa hanya sekedar peringkat keenam saja iaitu mardhiah. Ini sudah taraf wali besar.
Itulah 7 peringkat nafsu manusia. Jadi orang yang hendak mendidik manusia mesti faham peringkat-peringkat nafsu ini. Kemudian perlu faham bagaimana pula hendak mendidik setiap peringkat-peringkat nafsu tersebut supaya manusia menjadi manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s