Sang enam



Ibnu Hajar Al’Asqalani

Rasulullah Saw. bersabda:
Enam perkara menjadi terlantar di lingkungannya 
Masjid di antara masyarakat yang tak mau jamaah di dalamnya
Mushaf di rumah orang yang tak mau membacanya Al-Qur’an dalam hafalan orang yang durhaka
Istri salehat dalam naungan laki-laki aniaya
Suami saleh dalam buaian istri tuna susila
Dan ilmuwan di tengah masyarakat yang tak menghiraukannyaRasulullah Saw. bersabda:
Enam orang akan kulaknati
Dilaknati Allah dan para Nabi
Pertama, orang yang memalsu Kitabullah
Kedua, orang yang mendustakan qadar Allah
Ketiga, orang yang mendewakan harta berlimpah
Keempat, orang yang menghalalkan larangan Allah
Kelima, orang yang menghalalkan darahn keluarga Rasulullah
Dan keenam, orang yang ingkar akan Sunnah

Abu Bakar r.a. berkata:
Di depanmu ada setan yang mengajakmu tanggalkan iman
jika seseorang di antaramu mengikuti ajakannya maka sirnalah agamanya
Di samping kananmu ada nafsu yang menggiringmu pada perilaku tabu
jika seseorang di antaramu mengikuti arusnya maka sirnalah cahaya kemanusiaannya
Di samping kirimu ada hawa yang membawamu pada perilaku nista
jika seseorang di antaramu menurutinya maka sirnalah akal pikirannya
Di belakangmu ada dunia yang merayumu untuk menguasainya
jika seseorang di antaramu tergiur rayuannya maka sirnalah bagian akhiratnya
Dalam dirimu ada anggota tubuh yang menyeretmu untuk berbuat dosa
jika seseorang di antaramu terbawa alirannya maka sirnalah bagian surganya
Dan di atasmu ada Sang Mahakuasa Yang menuntunmu pada maaf dan surga
jika seseorang di antaramu mematuhinya maka sirnalah dosa kejahatannya

Umar r.a. berkata:
Enam keistimewaan
Allah rahasiakan dalam enam keadaan
rahasiakan ridha di dalam taat
rahasiakan murka di dalam maksiat
rahasiakan lailatul qadar di bulan Ramadhan
rahasiakan kematian dibalik kehidupan
rahasiakan para wali di antara manusia dan rahasiakan shalat utama di antara shalat lima

Utsman r.a. berkata:
Setiap insan beriman,tentu dihinggapi enam ketakutan
takut kepada Allah untuk mencabut imannya
takut kepada malaikat untuk mencatat amal buruknya
takut kepada setan untuk meleburkan amal salehnya
takut kepada pencabut nyawa untuk merenggut nyawanya
takut kepada dunia untuk merasa tentram di dalamnya
takut kepada keluarga untuk rnenyibukkan nya hingga lupa pada Tuhannya

Ali r.a. berkata:
Jika seseorang mampu menjaga enam perilaku niscaya dirindukan surga dan dijauhi neraka
pertama, iman kepada Allah dan menaati-Nya
kedua, tahu akan setan dan menentangnya
ketiga, mengerti akhirat dan bersiap diri menujunya
keempat, mengenal dunia dan rela meninggalkannya
kelima, mengetahui kebenaran dan mengikutinya

keenam, memahami kebatilan dan menjauhinyaAli r.a. berkata:
Nikmat sejati adalah beragama islam,
berkitab al-Qur‘an 
ber-Rasul Muhammad, 
hidup berkecukupan
tertutupi aibnya dan 
tidak bergantung pada sesama insan

Yahya bin Mu’adz ar-Razy mengatakan:
Paham itu kuncinya ilmu,
ilmu itu pertanda amal
akal itu pengikat darma,
hawa itu perahu dosa
harta itu sangkurnya orang yang besar kepala dan
dunia itu sebagai pasarnya alam baka

Bazru Jumhur mengatakan:
Enam perkara samai isi dunia
makanan lezat, anak yang taat, istri setia,
fatwa yang berguna, akal sempurna dan kesehatan raga

Hasan al-Bashri mengatakan:
Andai tak ada Wali Abdal, pengganti niscaya runtuh cakrawala dunia
Andai tak ada insan berbakti niscaya binasa orang-orang durhaka
Andai tak ada para ulama niscaya manusia layaknya hewan piara
Andai tak ada para Raja niscaya manusia saling memangsa sesama
Andai tak ada orang tua lanjut usia niscaya bumi telah binasa
Dan andai tak ada tiupan angin niscaya alam menjadi busuk menjijikkan

Seorang filosuf mengatakan:
Apabila seorang hamba tidak takut pada Allah takkan selamat lidahnya dari cela
Apabila seorang hamba tidak takut bertemu Allah takkan selamat hatinya dari riba
Apabila seorang insan mengharap pada sesama niscaya sifat tamak akan menghinggapinya
Apabila seorang insan tidak menjaga amal salehnya niscaya ia dihinggapi sifat riya
Apabila seorang manusia enggan berdoa agar dijaga hatinya niscaya hasud akan melingkupinya
Dan apabila manusia enggan belajar darma niscaya ujub tak dapat dihindarinya

Hasan al-Bashri mengatakan:
Enam perilaku membuat hati membatu
berbuat dosa di saat mengharap rela
memperoleh ilmu tanpa mengamalkannya
berbuat bakti dengan setengah hati
meraih rezeki dan tak pernah mensyukuri
tak menerima pada kodrat Ilahi dan sering menguburkan orang mati,
namun tak pernah belajar mawas diri

Hasan al-Bashri mengatakan:
Jika manusia memilih dunia dan lupa alam baka niscaya Allah akan menyiksanya dengan enam pidana.
tiga di dunia, yakni angan-angan tiada henti, keserakahan yang tiada pernah terpenuhi,
dan tak pernah merasakan manisnya berbakti.
tiga di akhirat, adalah kebingungan di hari Kiamat,
hisab amal yang berat,
dan sesali diri setiap saat

Ahmad bin Qais mengatakan:
Tak ada penolakan atas kodrat Ilahi
Tak ada ketentraman bagi pendengki
Tak ada kehormatan bagi pendusta
Tak ada tipu daya bagi penderma
Tak ada tepat janji bagi penguasa
dan tak ada kedaulatan bagi pemimpin durjana

Seorang filosuf ditanya:
Apakah seorang hamba mengerti,adakah tobatnya diterima ataukah tidak?
Ia menjawab: Tidak pasti
Namun. setidaknya ada tanda-tanda jika tobatnya diterima
Pertama, jika seseorang melihat dirinya tak mampu terlepas dari dosa
Kedua, jika seseorang merasa merana dan kegelisahan selalu menghantuinya
Ketiga, jika seseorang dekat dengan orang-orang bijaksana dan jauh dari para durjana
Keempat, jika seseorang telah merasa cukup baginya sedikit harta
Kelirna, jika seseorang merasa kewajiban Tuhan inenyibukkannya sementara anugerah Tuhan tak dihiraukannya
Keenam, jika seseorang hati-hati dalam berpikir dan berkata, serta tiada henti introspeksi dirinya

Yahya bin Mu’adz mengatakan:
Enam penipuan seorang hamba yang takkan termaafkan oleh Tuhannya
Ketika ia memohon ampun atas dosanya tanpa menyesali dan tanpa upaya untuk berhenti
Ketika ia mendambakan dirinya dekat dengan Ilahi namun tanpa pernah mau berbakti
Ketika ia berharap memanen surga sementara ia menebar benih neraka
Ketika ia inginkan taman nirwana sambil tetap saja berlaku durjana
Ketika ia dambakan pahala, sambil enggan jalani darma
dan ketika ia harapkan anugerah, namun tak tahu arah ibadah

Ahnaf bin Qais pernah ditanya:
Kebaikan apa yang diberikan Allah pada seorang hamba?
Ia menjawab: lalah akal yang sempurna
Kalau tidak diberi akal yang sempurna? la diberi perilaku yang mulia
Kalau tidak diberi akal dan perilaku mulia? Ia diberi sahabat karib yang setia
Kalau tidak diberi sahabat karib yang setia? Ia diberi hati yang sabar
Kalau tidak diberi hati yang sabar? Ia diberi sikap diam yang penuh makna
Kalau tidak diberikannya? Terakhir kali Ahnaf menjawab:
Datangnya ajal lebih baik baginya

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s