Untukmu lima


Wahai … Tuan ra-ja na-ga-ra jatidiri dewa-ta … … !

Tuan dikata wali na-ga-ra , karena kuasa cahaya. Dan di kata ra-ja, karena ra-hayat,
Tuan disebut pemimpin, karena yang dipimpin. Dan dikata kepala, karena ekor,
Tuan disebut di depan, karena yang di belakang. Dan dikata atasan karena bawahan,
Tanpa rakyat, tuan tak layak dikata raja. Dan tanpa yang cacah, tuan tak layak dikata penguasa,
Tanpa yang kecil, tuan tak layak dikata besar. Dan tanpa yang di bawah tuan tak layak tinggi,
Tanpa yang lemah, tuan tak layak dikata perkasa. Dan tanpa yang apes tuan tak layak dikata jaya,

Wahai … Tuan wali ra-hayat jatidiri pa-ra Dewa(n) … … !

Tuan duduk bersimpuh karena dipisepuh. Dan berbicara sepuh, karena dijadikan sesepuh,
Tuan dikata wali ra-hayat, karena kuasa nyawa. Dan dikata wakil ra-hayat karena penyerahan para nyawa Sang Maha Bijaksana,
Tuan duduk dikursi dewa, karena kehormatan para nyawa. Dan tuan beteduh digedung dewa karna kemuliaan para nyawa Sang Maha Mulia
Tuan bersabda dewa, karena daulat ra-hayat. Dan tuan bertanda jasa anggota dewa karena darah dan air mata para nyawa Sang Mahakuasa.

Wahai … para ra-ja na-ga-ra jatidiri dewa-ta dan para wali ra-hayat jatidiri pa-ra dewa( n) !

Dalam dagingmu ………….., melekat wasiat para nyawa,
Dalam tulangmu ……tersimpan niat dan tekad para jiwa raga anak bangsa,
Dalam darahmu ………..…, mengalir amanat para jiwa raga,
Dalam nadimu _bergetar derita dan derai air mata raga para nyawa anak bangsa,
Dalam nafasmu ………..…, tersimpan harapan para nyawa,
Dalam jantungmu ………berdenyut dzikir dan do’a para jiwa raga anak bangsa,
Dalam karyamu ………..…, tersimpan harta pusaka para nyawa,
Dalam darmamu ……….…, terpendam harta karun para jiwa raga anak bangsa,
Dalam silsilah keluargamu…, terukir harta pusaka amanat para jiwa raga,
Dalam silsilah keturunanmu.., terlukis wasiat harta karun pusaka para nyawa anak bangsa,

Engkaulah para dewa agung…, pemegang wasiat para nyawa anak bangsa,
Engkaulah para dewa mulia…, pemegang amanat para jiwa raga anak bangsa,
Engkaulah para khalifah……, pemegang tongkat kuasa darma para nyawa anak bangsa,
Engkaulah para pengembala…,pemegang tahta kuasa pengelola pusaka para nyawa Sang Mahakuasa,

Keluar dari amanat para jiwa raga ….., engkau layak dikata dewa laknat,
Dan keluar dari wasiat para nyawa …., engkau layak dikata dewa keparat,
Keluar dari keduanya ………………, engkau layak dikata dewa laknat keparat,
Dan engkau bisa menjadi kendaraan dajal dalam pertualangan darma kenistaan.

Duduklah sebagai sri paduka, berdirilah seperti dewa-ta dan berbuatlah sebagai dewa-sa,
Duduklah dengan keagungan, berdirilah dengan kuluhuran dan berbuatlah dengan kemuliaan,
Bersimpuhlah dengan ketulusan, berdiri tegaklah dengan ketegaran, berbuatlah dengan ketegasan,
Duduklah dengan ketetapan, berdirilah dengan perasan dan berbuatlah dengan kelembutan,
Duduklah dengan kebijakan, berdirilah dengan keadilan dan berbuatlah dengan kearifan,
Berjalan luruslah dengan tumpuan dan harapan, berlari kencanglah dengan rasa, karya, karsa, Dan berdarmalah sebagai Ksatria

Tengoklah ke belakang dengan harapan, bukannya dengan putus asa,
Tengoklah ke depan dengan keyakinan, bukannya dengan angan-angan,
Tengoklah ke kiri dengan adil dan bijaksana, bukannya dengan kedzaliman,
Tengoklah ke kanan dengan timbangan dan keseimbangan, bukannya dengan kemungkaran,
Tengoklah ke atas dengan rendah hati, bukannya dengan rendah diri dan ketakutan,
Tengoklah ke bawah dengan rendah hati, bukan dengan tinggi hati, angkuh, sombong dan congkak,
Berbuatlah dengan kepastian dan keberanian, bukannya dengan keraguan dan kebimbangan.

Janganlah tuan campakkan nyawanya dan jangan pula sia–siakan hidupnya,
Janganlah tuan hinakan harga dirinya dan jangan pula tuan perlakukan tak wajar,
Janganlah tuan nodai kehormatan dirinya dan jangan pula tuan hianati ketulusannya,
Janganlah tuan pilah – pilah jatidiri-nya dan janganlah tuan pilih kasih akan bangunan kesejatiannya,
Mereka punya ada karena nyawa, punya arti karena hati, punya harta karena karya,
Meréka punya tahu karena ilmu, punya ilmu karena pikiran, punya kaya karena darma,
Mereka punya harapan karena miliki keinginan,dan punya angan–angan karena keyakinan,
Mereka punya kemauan karena miliki hidup, dan punya harga diri karena miliki nurani,
Mereka punya martabat karena miliki harkat dan miliki derajat karena keturunan.

Dudukanlah …
Semua perkara pada tempatnya tuk peroleh ketenangan dan semua urusan tuk peroleh kedamaian,
Semua kesibukan pada keharusan tuk peroleh kesejahteraan dan kehidupan tuk peroleh kemenangan,
Semua pengetahuan pada tempatnya tuk peroleh keunggulan, pemahaman tuk peroleh keseimbangan,
Semua pengertian pada keharusan tuk peroleh kebijaksanaan dan perasaan tuk peroleh kesenangan,
Semua hati pada kepekaan tuk peroleh kearifan, dan keadilan tuk peroleh kejayaan.

Ingatlah kiranya… … !

Kerusakan..…. disebabkan karena kesibukan yang tidak mengenal adab – adaban
Kebinasaan.… disebabkan karena urusan yang tidak pada tempatnya,
Kehancuran…. disebabkan karena kegelapan yang tak mengenal sinar,
Kebinasaan … disebabkan karena perbuatan yang tak dijiwai akal,
Kiamah …….. disebabkan karena keadaan yang sudak tidak bisa dipertahankan.
Yang sudah tidak bisa dipertahankan

Do’aku senantiasa menyertaimu..……, sepanjang nafasku, sepanjang kebenaran,
Restuku senantiasa menyertaimu……., sepanjang hayatku, sepanjang keadilan,
Dukunganku senantiasa menyertaimu.., sepanjang perjalananku, sepanjang kebijaksanaan,
Pengabdianku senantiasa menyertaimu, sepanjang petualanganku, sepanjang kearifan,
Penyerahanku senantiasa menyertaimu, sepanjang pengembaraanku,
sepanjang kejayaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s