Untukmu satu


Wahai ………. ahli warisku,

Sungguh berat bebanmu dan berat pula tantanganmu, besar nilaimu dan besar pula perjuanganmu.
Engkau lahir dan terlahir :
Di alam buana yang tua renta, disaat redupnya cahaya menjelang sirnanya cahaya,
Di saat semarak tipu daya, di tengah gemerlapnya congkak dan aniyaya,
Di saat jayanya angkara, di tengah bara gemerlapnya angkara murka,
Di saat menjulangnya jaman kebébasan, di tengah kehidupan yang menyempitkan,
Di saat bertahtanya keanéka ragaman nafsu raga, di tengah menjelang runtuhnya tauhid dan ambruknya juhud.

Wahai jiwa ….!.
Yang hidup dengan penuh tantangan dan rintangan ……,.
Yang hidup dengan penuh kesulitan, perjuangan dan pengorbanan .…,
Yang hidup dengan penuh ketelitian dan kewaspadaan …….

Angkatlah kepalamu sebagai harapan ………., bukannya kecongkakan,
Tundukkanlah jiwamu sebagai penantian……, bukannya ketakutan,
Rendahkanlah hatimu sebagai penyerahan …, bukannya rendah diri,
Sujudkanlah jiwa ragamu sebagai pengabdian, bukannya kemunafikan.

Berdirilah dengan yakinmu, dan bersimpuhlah dengan kesungguhanmu
Terlentanglah dengan penyerahan diri, dan bersujudlah dengan kerendahanmu,
Berjalanlah dengan dzikir dan do’a, dan berlarilah dengan hati dan dan pikiranmu.
Berpakaianlah dengan mahkota kebesaran takwa, dan berkendaraanlah dengan agamamu,
Berpeganglah dengan tongkat syahadat,dan bersandanglah dengan keris pusaka keimananmu,
Bersabdalah dengan cahaya hikmah karomah, dan berlindunglah dengan cahaya ilmu sejatimu.
Tegaklah dengan tauhidmu, berbuatlah dengan juhudmu dan bertindaklah dengan adab kesejatianmu

Bangkitkanlah mayat dalam jiwa mu, dengan dzikir dan do’amu,
Ramaikanlah rumahmu dengan tasbihmu, dan hiasilah makam-mu dengan budi pekertimu,
Terangilah kuburanmu dengan ilmu sejatimu, dan ketuklah nuranimu dengan fatwa dan wasiatmu,
Kejarlah percikan cahaya yang terbentang dihadapanmu,dan raihlah mustika permata dalam dirimu,
Lawanlah Fir’aun yang ada dalam dirimu, dan perangilah dajal yang menguasai kehidupanmu,
Lumpuhkanlah tipu daya dalam pikir dan hatimu, dan kembalilah dengan hijrah keharibaan Dzat
Yang Mahatahu.

Wahai ………. ahli warisku,

Sambungkanlah lidahku dengan sabdamu, dan selesaikanlah tanganku dengan perbuatanmu,
Lanjutkanlah petualanganku dengan langkah kaki kehidupanmu, dan raihlah keinginanku dengan
niat dan tekadmu,
Benahilah tapak ragaku, uruslah tapak jiwaku, peliharalah tapak sukmaku, jagalah tapak akmaku, dan amankanlah tapak nyawaku,
Peliharalah adab tauhid darma juhud ragamu , jiwamu, sukmamu, akmamu dan nyawamu,
Peliharalah adab kesejatian syaré’at ( jiwa raga ) perjalanan tauhid darma juhud satria awal jagat – Ahmad bin Abdullah, yaitu “ Syari’at Muhammad ,”
Jagalah adab kesejatian hakékat ( akma-sukma ) perjalanan tauhid darma juhud satria tengah jagat –
Imam Mahdi Sang Waruga Jagat Raya , yaitu “ Hakekat Muhammad “,
Janganlah kau sentuh yang bukan adabmu, kecuali atas kuasa dan kehendak Yang Mahakuasa.
Yaitu adab kesejatian ma’rifat ( nyawa ) perjalanan tauhid darma juhud satria akhir jagat – Insan
Sang Agung, yaitu “ Ma’rifat Muhammad “,
Engkaulah ahli warisku yang menjadi silsilahku, dan rangkaian perjalanan tauhid darma juhudku,
Engkaulah cita dan harapanku dan dan engkaulah buah hati idamanku.

Hati selalu berharap, jiwa berdo’a, raga berusaha, kepada Sang Maharaja Penguasa Jagat Raya,
Agar kasih sayang dan kecintaanku, kelembutan dan kasarku, marah dan diamku, baik dan jelékku,
kebohongan dan kepura-puraanku, masabodoh dan perhatianku,
Senantiasa menjadikan engkau … :
Santri sejati, yang rendah hati dan tahu diri, haus dengan cahaya dahaga dengan permata,
Gembalaan setia, yang patuh terhadap tuannya, mengerti terhadap majikannya,
Pengembala mulia, yang tegar dan kukuh memegang tongkat pusaka bermakna cahaya,
Petualang sejati, yang rajin menelusuri diri, menyelami arti, mencari hakekat diri sejati,
Pengembara sejati, yang mampu melewati persinggahan adab bangunan kesejatian-Nya,
Sastrawan sejati, yang pandai menulis arti dalam diri membaca makna dalam jiwa,
Seniman sejati, yang mampu mengukir arti, memahat makna, melukis misil, menggambar siloka,
melantukan dzikir menyanyikan do’a, menyuara kan kepada diri sejati raga bernyawa,
Hartawan sejati, yang kaya akan harta Mutiara dan Permata Cahaya Jiwa,
Ahli sejati, yang ahli menguasai diri, mengerti arti , menguasai makna, mengerti kata mengenal sabda,
Ulama sejati yang memahami rahasia alam semesta, mahluk tercipta dan sang Pencipta dalam diri,
Wali sejati, yang memegang tahta Mustika Permata Cahaya,
Pemimpin/ khalifah sejati, yang mampu pemimpin diri.

Aku selalu menanti, di tempat penantian di alam penuh harapan,
Menunggu untuk bersatu, menyatu, dan manunggal menjadi satu,
Berkumpul bersama saudara para sejati di depan Mahasejati,
Untuk tegak berdiri sesama tinggi duduk bersimpuh sesama rendah, bersujud bersama di makom
Mahasejati.

* * * * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s