Untukmu dua



Wahai ……… Saudaraku……… !
Syare’at adalah kehidupan, aturan dan permainan; kenyataan, kekuatan, dan keharusan; jembatan,
jalan dan kendaraan; darma, perbuatan dan amalan.
Negara adalah wadah, rumah dan tempat tinggal; arena, gelanggang dan ladang; garapan, kerjaan dan kebutuhan, keharusan dan keperluan.
Bangsa adalah penghuni, pengisi, pribumi dan gembalaan; tujuan, kejaran dan pencapaian; kumpulan,
himpunan dan gabungan; kesatuan, kebersamaan dan kemanunggalan.
Sejati adalah jati diri dan bangunan kesejatian; nilai, harga dan kehormatan; harkat, derajat dan
martabat; cita, ide dan hakekat.

Syare’at akan sirna bila diabaikan, dan negara akan hancur bila dibiarkan,
Bangsa akan hilang bila dicampakan, dan sejati akan sirna bila dilupakan.
Mengabaikan syare’at, kiamat datang menjelang. Membiarkan negara, kerusakan datang bertandang.
Mencampakan bangsa kelenyapan datang menjemput. Melupakan sejati kelenyapan datang menjelang.

Yang satu tak dapat diabaikan …yang lain tak dapat dibiarkan,
Yang satu tak dapat dilupakan …yang lain tak dapat di masabodohkan,
Yang satu tak dapat dikesampingkan … yang lain tak bisa dihilangkan
Yang satu tak dapat dilenyapkan …yang lain tak dapat dihilangkan,
Yang satu tak dapat dianggap enteng… yang lain tak dapat diremehkan,
Semua merupakan kesatuan, kemanunggalan, kesejatian dan kesempurnaan.

Wahai … Saudaraku … !

Tidakkah engkau ingat, bahwa kita adalah bangsa yang besar ?
Dibesarkan :
Dari perjalanan panjang melelahkan dan jaman yang saling bergantian,
Dari masa yang menghimpit dan kepahitan dan kehidupan yang bergelombang,
Dari kebodohan yang menggelapkan dan bara yang menghanguskan,
Dari gejolak yang menerjang berganti an dan perbudakan yang menyakitkan.

Engkaulah bangsa :

Yang tercabik karena kebodohan dan terhempas karena keserakahan,
Yang lemah karena kealpaan dan hanyut karena kelalaian,
yang tenggelam karena kegelapan,

Kebodohanlah yang membawa kita .…… kepada perbudakan dan keserakahan,
Keserakahanlah yang mengantarkan kita …. kepada bercerai berai dan pertentangan,
Kealpaanlah yang menggiring kita …… kepada ke sombongan dan kecongkakkan,
Kelalaianlah yang mengantarkan kita … … kepada kepahitan, duka dan nestapa,
Kegelapanlah yang menghantarkan kita … kepada terbelenggu, mati dan kaku.

Wahai …….. Kiranya …. !

Kita tak mampu bercermin bening karena bersemayam sombong dan congkak,
Kita tak bisa berpikir jerih………karena terbelenggu kebodohan,
Kita tak dapat berindra jelas…karena terlena dengan angkara,
Kita tak mampu merasa peka karena tertutup serakah dan gulita,
Kita tak mampu berkarya nyata . karena tak miliki daya,
Kita tak bisa ngaji diri…… .karena padamnya cahaya suci.
Kita habiskan waktu dengan nafsu …padahal waktu terus melaju,
Kita sia-siakan masa dengan nista …., padahal kala terus berlalu,
Kita abaikan jaman dengan kebodohan, padahal kehidupan berjalan bergantian,
Kita campakkan sejarah dengan kecongkakan, padahal sejarah terus bergelombang,
Kita buang kala dengan kegelapan, padahal kehidupan perlu lentera penerang.

Kapankah kiranya kita menjadi besar …, padahal waktu selalu ditempuh,
Kapankah kiranya kita menjadi jaya …., padahal masa selalu menjemput,
Kapankah kiranya kita menjadi perkasa , padahal jaman selalu menghadap,
Kapankah kiranya kita menjadi bahagia., padahal dunia selalu menghampiri.

Wahai ….. Ibunda Pertiwi …. !

Sungguh malang nasibmu ….,
Engkau besar tapi tak pernah menjadi besar, engkau kaya raya tapi melarat,
Engkau kuat tapi lemah dalam diri, engkau jaya tetapi hanya dalam kata dan cerita,
Ku tak sudi bila engkau hanya sekedar menjadi penjilat dan tak rela sekedar menjadi pengikat,
Ku tak mau bila engkau hanya sekedar menjadi pengemis, dan tak rela hidup terus meringis,
Ku tak sudi bila sekedar menjadi budak, dan tak rela bila engkau hanya sekedar menjadi pengikut..

Ingatlah …… wahai….. saudaraku ……. !

Negeri yang berdiri tegak ini, dibangun dengan gelora tekad dan semangat,
Negri yang berdiri jaya ini, dibangun dengan percikan darah dan serpihan nyawa,
Negeri yang berdiri perkasa ini, dibangun dengan rintihan duka dan nestapa ,
Negeri yang berdiri kokoh ini, dibangun dengan tetesan keringat dan derai air mata,
Negeri yang berdiri besar ini, dibangun dengan kebersamaan dan persaudaraan,
Negeri yang berdiri megah ini, dibangun dengan ketulusan, cinta dan pengorbanan.

Dari para jiwa sejati yang tahu diri dan rendah hati; yang mengerti arti, dan punya harga diri; yang telah pergi mendahului,
Yang ada dan terhampar diseluruh nusa, sebagai amanat, wasiat, kemauan dan harapan,
Yang ada dan tersebar diseluruh negri, sebagai warisan, peninggalan, kasih sayang dan ketulusan.

Wahai ….. saudaraku ………. !

Sejati adalah sejati, suci dan murni, lahir dari dalam diri, tumbuh dari harga diri, dibesarkan nurani,
Yang lahir di seluruh negeri tidak terkecuali, menyerahkan jiwa dan raganya untuk pertiwi,
Jangalah kita campakkan, kita hinakan, kita sia-siakan, kita abaikan, dan kita hempaskan
Mereka adalah sejati yang melahirkan banyak arti, sejati yang melahirkan diri sendiri,
Mereka sejati yang melahirkan pertiwi, sejati yang berdiri di atas nurani.

Wahai … para sejati , leluhur silsilah negeri …… !

Aku lahir dan terlahir karenamu … dan ku-kan menjemputmu,
Aku menghadap kepadamu ………. dan mohon do’a restumu,
Aku harus berjalan sepertimu dan meneruskan riwayatmu, berdiri sepertimu menghidupkan sejatimu,
Aku harus bersandar sepertimu, menegakan harga dirimu, bernafas sepertimu menghidupkan nurani.

Aku kan membisikan saudaraku … …, memohon darah dan jiwanya,
Aku kan membangunkan saudaraku.., tuk membangunkan harga dirinya,
Aku kan menghidupkan saudaraku …, agar dapat melanjutkan,
Aku kan mengasuh saudaraku …. …., agar tau arah jalan,
Aku kan memapah saudaraku ……., agar sampai ke tujuan,
Aku kan menghisap saudaraku……, agar tak menghisap kesejatianmu,
Aku kan mengubur saudaraku .….., agar tak merusak nadi jantungmu,
Aku kan menghancurkan saudaraku , agar tak mengubur kesejatianmu.
Dengan hati bukannya dengan dendam membara dan fikiran bukannya dengan nafsu angkara,
Dengan cahaya bukannya dengan kegelapan dan akal bukannya dengan kebodohan,
Dengan jiwa bukannya dengan indra dan karya bukannya dengan kata,
Dengan cita bukannya dengan angan-angan dan harapan bukannya dengan kesombongan,
Dengan ketulusan bukannya dengan kecongkakan dan keyakinan bukannya dengan sandaran.

Wahai para sejati ……. , leluhur silsilah ibunda pertiwi
Wahai para pahlawan pertiwi, pembéla tanah air, pengantar dan pembangun negri…….. !

Hiduplah engkau selamanya ……
Dalam kedamaian, dalam kesunyian, dalam ketenangan,
Dalam keridhaan, ketulusan, dalam harga diri. Dalam kejayaan dan keabadian cahaya Mahasejati,

Aku dan saudara sejatiku….,

adalah sejarah yang engkau lahirkan dan harapan yang engkau inginkan,
adalah bukti yang engkau kerjakan dan sejati yang engkau perjuangkan,
Aku, saudara sejati, para sejati dan Mahasejati… adalah satu,
Satu dalam cita, dalam rasa, dalam jiwa, dalam ide, cinta dan nilai,
Tetapi sejuta dalam karya… dan sejuta dalam keanékaragaman nyata.

Wahai…. Saudara-saudraku …… !

Sampai kapankah kita kan terus memakai pakaian kebesaran nafsu angkara, berhias cahaya
kemunafikan, berdandan dendam membara, berkarya darah dan air mata sia – sia, berpandang dengan
kegelapan, bercengkrama dengan kesombongan dan kecongkakan, berjemur dengan sinar
kegelapan. Hidup dengan duka dan nestapa, suka dengan menjual harga diri, bangga dengan
kebodohan dan perbudakan, senang dengan penjilatan menjual diri, bahagia dengan tawaan dan cercaan, senang dengan pegadaian dan penjualan, suka dengan nafsu tak tergembalakan, puas
dengan pengrusakan dan penghancuran ..?

Di manakah nilai sejatimu…? Di manakah nilai harga dirimu …. ?
Kita mengemis karena dunia, di tengah kekayaan yang melimpah ruah,
Kita menangis karena dunia, di tengah hamparan pijakan yang luas,
Kita tercabik dengan nafsu, di tengah badai yang menerjang terjang,
Kita bercerai- berai dengan dendam, di tengah ancaman serigala yang siap menerkam,
Kita bersebrangan karena keserakahan, di tengah ancaman yang menyesatkan.

Wahai …. Saudaraku ………. !

Aku tak rela sejati dijual karena angkara durja dan harga diri digadai karena nafsu angkara,
Aku tak rela martabat ditukar karena kebodohan dan keadilan dicabik-cabik,karena kegelapan,
Kita harus miliki sikap, sebagai sejati dari negeri ini dan sebagai harga dari bangsa ini,
Kita harus punya tekad sebagai arah dan tujuan, miliki sikap sebagai senjata tuk mempersatukan,
miliki tekad, sebagai kekuatan tuk berperang dan kuasai sikap sebagai senjata tuk menghancurkan.

Wahai kiranya,
Iblis, adalah cahaya merah menyala, bangunan bara yang bernyawa, menitis di alam ma’rifat jatidiri
nyawa, membuahkan kekuatan nafsu darma béngkok dalam bangunan kehidupan nyawa adam.

Sétan, adalah cahaya merah bangunan api kesejatian nafsu yang nyukma dialam hakékat lahir batin, membuah kekuatan kedoliman darma kerusakan bangunan kehidupan akma sukma adam.

Dajal, adalah kesejatian kerusakan yang mengembang (meraga) di alam syaré’at batin jatidiri jiwa,
mengeras membuahkan darma kenistaan dalam bangunan kehidupan jiwa adam makhluk bumi.

Kenistaan, yaitu kasajatian dajal yang mengembang (meraga) di alam syaré’at lahir jatidiri raga,
membatu membuah darma perbuatan kiamah dalam bangunan kehidupan raga adam makhluk bumi.

Kiamah, yaitu kehancuran yang lahir dari perbuatan nista amparan kezaliman, bangunan kabéngkokan, amparan nafsu angkara bangunan bara api kesajatian iblis yang hidup dalam nyawa,
membuahkan neraka bagi hidup dan kehidupan umat manusia; meraga dan menjiwa dalam wujud najis, beban, kotoran dan kekeruhan, porak poranda dan reruntuhan, keakuan dan bercerai berai;
melahirkan tetesan darah dan linangan air mata raga saripari hidup acining hurip darma naraka;
membuahkan sakit, pahit, perih, pedih, pilu, derita dan sengsara. Menjadi jembatan pintu pembuka
jalan hilangnya nilai kesejatian, runtuhnya jatidiri, robohnya bangunan kasajatian.
Maka sirnalah kahormatan, hilang harga diri sebagai abdi kaula adam, hamba dan agama, sebagai
kaum anak bangsa dan negaranya, sebagai umat manusia dan bumi yang menjadi ladang garapan kehidupan anak cucu adam.

Perang ………., perang …………, perang……….. !
Perang besar .…, perang akbar…., perang total.
Prajurit sejati pantang mundur, patriot sejati pantang kalah, ksatria sejati pantang menyerah,

Bertempurlah menaklukan kekuatan dajal, mengalahkan keperkasaan nafsu sendiri, bukan merusak diri,
Bertempurlah menaklukan kekuatan fir`aun menguasai medan sendi kehidupan ambisi sendiri.
Prajurit yang gagah perkasa, adalah yang dapat menguasai keakuan sendiri,
Patriot yang gagah perkasa, adalah yang dapat menaklukan nafsu sendiri,
Ksatria yang gagah perkasa, adalah yang dapat mengalahkan ambisi sendiri,
Pahlawan yang berani mati, adalah yang mati karena menguasai diri dan menjaga diri,
Bukan pengrusakan, penghancuran dan pembinasan yang merugikan diri, bangsa dan negara sendiri,

Musuh besar adalah yang tak disadari, musuh jahat adalah yang tak diketahui,
Bahaya besar adalah yang tak dimengerti, musibah besar adalah yang tak mau mengerti, Yaitu,
Kezaliman yang senantiasa ada dalam diri dan kebodohan yang mengitari pikiran diri,
Kemunafikan yang senantiasa menguasai jati diri dan nafsu yang bersemayan dalam hati,
Kegelapan yang senantiasa menyelimuti nurani dan syetan yang keluar masuk urat nadi,
Kenistaan yang mengantarkan ke pada keserakahan, kerusakan,kehancuran, kiamah dan neraka.

Para sejati … yang rela mengorbankan darah dan nyawanya, rela menyerahkan jiwa raganya,
rela mengorbankan kehidupannya sebagai tumbal bangsa pakunya tiang negara….
adalah semua ukuran, tingkatan, lapisan dan keaneka ragaman bangunan jatidiri di seluruh negeri, dengan segala kekurangan dan kelebihannya
Para raga, jiwa, sukma, akma dan nyawa,
Para bocah, pemuda, pemudi, orang tua, lanjut usia, laki, perempuan,
Para birokrat dan politikus, prajurit, polisi, keamanan, guru, pendidik, profesi dan binaan, Para buruh, petani, pedagang, nelayan, dan para pelajar, mahasiswa, ilmuwan, cendikiawan,
Para rohaniawan, ulama, kyai, ustadz, da’i, santri sejati semua ajaran kebenaran, Para tokoh, petinggi, tetua, kesepuhan, rakyat, cacah, menak, ningrat, kepala, pemimpin, koordinator,
Para artis, seniman, sastrawan, wartawan, petualang, pengelana, pengembala, pengembara,
Para dermawan, hartawan, pemulung, peminta, pengemis, yatim, piatu, jompo, tunawisma, tunakarya,
Para relawan, preman, pencari peluang, pencuri kesempatan dalam kesempitan.

Nyanyikan irama perang …………., dendangkan tarian perang ….. !
Tabuhkan genderang perang ………., tiupkan terompet peperangan !
Kibarkan merah putih …, tancapkan bendera kemenangan…., amankan semua rampasan perang !
Bangunkan dan hidupkan para sejati di seluruh negeri tidak terkecuali !

Dari semua arah pintu gerbang ke anekaragaman lapisan, tingkatan, perjalanan, persinggahan dan petualangan,
Syare’at lahir, syaré’at batin, hakekat lahir hakekat batin dan ma’rifat sebatas kesanggupan,
Bangunan jatidiri raga, jiwa, sukma, akma, dan nyawa sebatas kemampuan,
Cucuran keringat, tetesan darah, gelak tawa dan linangan air mata,
Kekuasaan, kenegaraan, pembelaan, keamanan,kemasyarakatan, kesenian,
Perburuhan, pertanian, perdagangan, perburuan, pencarian, pendidikan, keilmuan dan ke ahlian,
Keagaman, kepercayaan , kerohaniawanan, keulamaan, keyakinan, ketauhidan dan kejuhudan,
Kekayaan, kedermawan, kesempatan dan kesempitan,

Dengan menghunus pedang meruncingkan senjata :
Akal dan pikiran, ilmu dan amalan, sabar dan tawakal, iklasan dan kerelaan,
Keyakinan dan kepasrahan, dzikir dan do’a, syukur dan harapan,
Cita dan kemauan,dari cinta, kasih sayang, kesadaran dan kebersamaan,
Niat dan itikad, tekad dan semangat, kemauan dan keuletan, kerja keras dan kekhusuan, Dari semua pintu yang memungkinkan untuk jadi ladang pertempuran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s