Syair sembilan


Wahai … para mustika cahaya,
Yang berjiwa juhud dan mursyid, beraroma wewangi sejati,
Yang berjiwa lembut, cinta kasih dan kasih sayang,
Yang berjiwa perkasa, arif dan bijaksana,
Yang berjiwa pengembala, pengembara dan petualang cahaya,
Yang berjiwa darma membangun dan mendirikan cahaya membangun dan menabur wewangi sejati.

Sembah sungkem aku sampaikan, sebagai tanda hormat dan baktiku,
Aku hadapkan diriku, mohon kemurahan, ampunan dan restumu,
Atas kelancangan, kesombongan dan kecongkakanku,
Mengakui engkau sebagai guruku dan aku sebagai muridmu,
Mengakui engkau sebagai pembimbingku….dan aku sebagai asuhamu,
Mengakui engkau sebagai pewarisku ……dan aku sebagai ahli warismu.
Sungguh aku tahu diri juga tidaklah berani, aku tak rela dan tidaklah layak,

Sungguh jiwaku bergetar . … dan malu tersipu,
Tatkala kukatakan dan tuliskan engkau guruku aku muridmu, dan kau pewarisku aku ahli warismu,
Tatkala ku sebutkan dan akui engkau waliku dan aku ahlimu, dan kau pembimbingku aku asuhanmu,
Karena aku tahu, siapakah diriku dan siapakah dirimu.

Sungguh tak ada maksud lain, hanya karena aku miskin dengan kata dan bahasa,
Tak ada yang layak dikata untuk para nyawa yang telah menerangi gelap gulitanya hati, rendah dan bodohnya aku, kecuali itu,
Dengan sinar cahaya luhur, mulia dan keagunganmu,
Telah antarkan dan perjalankan aku kepada Aku, para Aku dan AKU,
Dan hanya karena jalanmulah, aku dapat mengenal diri, dan para diri, dan bangunan jati diri,
Mengetahui mutiara cahaya dan sajatining Mustika Permata Cahaya,
Memiliki nilai arti, makna, misil, siloka dan kerahasiaan-Nya.

Engkau yang senantiasa hadir mengantar perjalanan, mendampingi petualangan dan menyertai
pengembaraanku di setiap sudut pencarian dan tempat persinggahan adab kerahasiaan,
Kau terangi aku, dikala gelap gulita, dan kau tunjuki aku dikala aku tidak tahu,
Kau tuntun aku, dikala salah yang dituju, dan kau sirami aku dikala haus dan dahaga,
Kau temani aku, dikala sepi menyendiri, kau hibur aku dikala hati pilu, sunyi dan sepi,
Kau suruh aku, dikala jiwaku diam kaku membeku, dan kau hardik aku dikala aku mati dan kaku,
Kautangisi aku, dikala tersandung malu, dan kau bimbing aku dikala bimbang dan ragu,
Kau tolong aku, dikala terjerat tipudaya, kau tawai aku dikala tersandung nafsu terhempas angkara,

Engkaulah yang telah menyiram kasih dan mencurahkan sayang,
Engkaulah yang telah mewariskan cahaya dan mewasiatkan wewangian,
Kau berikan segumpal kalbu setumpuk rasa, kau sampaikan salam dan do’a restumu,
Kau curahkan cinta dan kasih sayang-mu, dan kau titipkan amanat wasiat bekal perjalananku,
Kau serahkan tongkat pusaka perjalanan tauhid-mu , dan kau wariskan keris pusaka darma juhud-mu,
Kau serahkan pakaian pusaka kebesaranmu, dan kau wariskan kendaraan pusaka petualanganku,
Kau serahkan pelita cahaya penerang hidupmu, dan kau wariskan ilmu perbekalan perjalananku

Mohon ampun …., atas kebodohan dan kelancanganku, Sungguh …,
Ku tak sanggup merendahkan harkat, derajat dan martabatmu, dan tak kuasa merendahkan keluhuran, kemualiaan dan keagunganmu,
Ku tak rela menodai kesucian, tak berani mengganggu kebesaran jatidiri dan bangunan kesejatianmu
Sungguh …, bukannya karena itu ….…, bukan karena itu,
Tapi hanya karena ragaku miskin dengan kata, bahasa dan pengetahuanku.

Aku hormat atas harkat, derajat dan martabatmu, bangga atas kebesaran nama dan jatidirimu,
Aku junjung darma kaluhuran, ke muliaan, keagunganmu, dan pelihara atas amanat dan wasiatmu,
Aku lanjutkan perjalanan dzikir dan langkah do’amu dan aku teruskan petualangan sholatmu.

Aku senantiasa berharap……
Semoga diberi-Nya kuasa untuk itu, agar engkau tak kecewa karena aku,
Semoga diberi-Nya izin dan restu untuk itu ., agar engkau bangga karena aku,
Semoga diberi-Nya kehendak untuk itu ….…, agar engkau tenang tentram karena aku,
Semoga diberi-Nya ridha untuk itu ……, agar engkau senang dan bahagia karena aku.

Aku senantiasa berharap …, atas kebesaran dan keagungan-Nya,
Aku senantiasa berdo’a ….., atas ke murahan, kebesaran dan kemuliaan-Nya,
Aku senantiasa memohon …,atas kemurahan dan kasih sayang-Nya.

Semoga kiranya engkau tetap abadi bertahta dalam si nggasana agung dan mulia,
Singgasana kerajaan cahaya nyawa …di dalam kerajaan cahaya Kekasih Yang Mahamulia.

Wahai mustika cahaya pemegang tahta pewaris cahaya …. Sang Penghulu Cahaya …… !

Kubuka ketulusanku .…..…, tuk jalan dan perjalanan cahayamu,
Kubuka kelapanganku …….., tuk dilalui cahayamu,
Ku bersimpuh tulus …………, tuk meraih percikan cahayamu,
Kusujudkan khusyuk………, tuk menyerap percikanmu,
Kutegakkan niat dan tekad …, tuk menyelami cahayamu,
Kulangkahkan kehendak ……, tuk menaburkan benih cahayamu.

Cahayamu kubuka lebar,karena kebutuhan untuk jalan pembukakegelapan,
Cahayamu kutaburkan karena kewajiban untuk penerang kegelapan,
Cahayamu kusampaikan …karena keharusan untuk penebus kebodohan,
Cahayamu kuwasiatkan …, karena amanat untuk harta peninggalan,
Cahayamu kusampaikan …, ka rena wasiat untuk perbuatan,
Cahayamu kuberikan … …, karena keyakinan untuk pegangan.

Semua aku lakukan ;
Karena kemurahan, sebagaimana yang telah engkau buktikan,
Karena keharusan, sebagaimana yang engkau ajarkan dan pengakuan yang engkau yakinkan,
Karena kewajiban, sebagaimana yang engkau tugaskan, dan kasih sayang yang engkau contohkan,
Karena bagian, sebagaimana yang engkau lakukan, dan keinginan yang engkau wasiatkan.

Aku merupakan bagian yang meneruskan perjalanan, menerangi ke gelapan, memerangi kebodohan,
Aku hanya merupakan warisan…., yang melanjutkan tahta kebesaran tauhid darma kejuhudan,
Aku hanya merupakan titipan.…., yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan dari keyakinan.

Wahai para mustika cahaya pemegang tahta pewaris cahaya ….Sang Bangunan Cahaya …… !

Kumohon kelapangan tuk kusampaikan cahayamu .., sebagai kewajiban,
Kumohon ketulusan tuk kuberikaan cahayamu ……, sebagai amalan,
Kumohon pengertian, tuk ku titipkan cahayamu …, sebagai perbekalan,
Kumohon keridhaan, tuk ku wariskan cahayamu …, sebagai kekayaan,
Ku mohon kepahaman, tuk ku teruskan cahayamu …, sebagai keharusan.

Semua aku lakukan, … :
Karena kasih sayang yang engkau contohkan,
Karena kemurahan yang engkau buktikan, dan keharusan yang engkau ajarkan,
Karena pengakuan yang engkau yakinkan, dan kewajiban yang engkau tugaskan,
Karena bagian yang engkau lakukan, dan keinginan yang engkau ingatkan.

Aku merupakan bagian … yang meneruskan perjalanan,
Aku merupakan bagian … yang menerangi alam kegelapan, yang memerangi kebodohan,
Aku merupakan warisan … yang melanjutkan tahta kebesaran,
Aku merupakan titipan … yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan.

Wahai para mustika cahaya pemegang tahta ahli waris cahaya …. Sang Penabur Cahaya….!

Kumohon ketulusan tuk dapat menyertaiku, sebagai kemanunggalan,
Kumohon kepahaman tuk dapat mendampingiku, sebagai perikatan,
Kumohon kebijakanmu tuk dapat melakukan, sebagai kebersamaan,
Kumohon kearifanmu tuk dapat mengingatkanku, sebagai persaudaraan.

Semua aku lakukan, … :
Karena kasih sayang yang juga engkau lakukan, dan kemauan yang engkau inginkan,
Karena kejuhudan yang juga engkau buktikan , dan keharusan yang juga engkau pahamkan,
Karena pengakuan yang engkau yakinkan, dan kewajiban yang juga engkau laksanakan,
Karena bagian ketaatan yang engkau akukan, dan keharusan yang juga engkau ingatkan,

Aku juga merupakan bagian … yang meneruskan perjalanan, melakukan petualangan,
Aku juga merupakan bagian … yang menerangi alam kegelapan, memerangi kebodohan,
Aku juga merupakan warisan … yang melanjutkan tahta kebesaran, memelihara kehormatan,
Aku juga merupakan titipan … yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan.

4 responses to “Syair sembilan

  1. Wahai … para mustika cahaya,
    Yang berjiwa juhud dan mursyid, beraroma wewangi sejati,
    Yang berjiwa lembut, cinta kasih dan kasih sayang,
    Yang berjiwa perkasa, arif dan bijaksana,
    Yang berjiwa pengembala, pengembara dan petualang cahaya,
    Yang berjiwa darma membangun dan mendirikan cahaya membangun dan menabur wewangi sejati.

    Sembah sungkem aku sampaikan, sebagai tanda hormat dan baktiku,
    Aku hadapkan diriku, mohon kemurahan, ampunan dan restumu,
    Atas kelancangan, kesombongan dan kecongkakanku,
    Mengakui engkau sebagai guruku dan aku sebagai muridmu,
    Mengakui engkau sebagai pembimbingku….dan aku sebagai asuhamu,
    Mengakui engkau sebagai pewarisku ……dan aku sebagai ahli warismu.
    Sungguh aku tahu diri juga tidaklah berani, aku tak rela dan tidaklah layak,

    Sungguh jiwaku bergetar . … dan malu tersipu,
    Tatkala kukatakan dan tuliskan engkau guruku aku muridmu, dan kau pewarisku aku ahli warismu,
    Tatkala ku sebutkan dan akui engkau waliku dan aku ahlimu, dan kau pembimbingku aku asuhanmu,
    Karena aku tahu, siapakah diriku dan siapakah dirimu.

    Sungguh tak ada maksud lain, hanya karena aku miskin dengan kata dan bahasa,
    Tak ada yang layak dikata untuk para nyawa yang telah menerangi gelap gulitanya hati, rendah dan bodohnya aku, kecuali itu,
    Dengan sinar cahaya luhur, mulia dan keagunganmu,
    Telah antarkan dan perjalankan aku kepada Aku, para Aku dan AKU,
    Dan hanya karena jalanmulah, aku dapat mengenal diri, dan para diri, dan bangunan jati diri,
    Mengetahui mutiara cahaya dan sajatining Mustika Permata Cahaya,
    Memiliki nilai arti, makna, misil, siloka dan kerahasiaan-Nya.

    Engkau yang senantiasa hadir mengantar perjalanan, mendampingi petualangan dan menyertai
    pengembaraanku di setiap sudut pencarian dan tempat persinggahan adab kerahasiaan,
    Kau terangi aku, dikala gelap gulita, dan kau tunjuki aku dikala aku tidak tahu,
    Kau tuntun aku, dikala salah yang dituju, dan kau sirami aku dikala haus dan dahaga,
    Kau temani aku, dikala sepi menyendiri, kau hibur aku dikala hati pilu, sunyi dan sepi,
    Kau suruh aku, dikala jiwaku diam kaku membeku, dan kau hardik aku dikala aku mati dan kaku,
    Kautangisi aku, dikala tersandung malu, dan kau bimbing aku dikala bimbang dan ragu,
    Kau tolong aku, dikala terjerat tipudaya, kau tawai aku dikala tersandung nafsu terhempas angkara,

    Engkaulah yang telah menyiram kasih dan mencurahkan sayang,
    Engkaulah yang telah mewariskan cahaya dan mewasiatkan wewangian,
    Kau berikan segumpal kalbu setumpuk rasa, kau sampaikan salam dan do’a restumu,
    Kau curahkan cinta dan kasih sayang-mu, dan kau titipkan amanat wasiat bekal perjalananku,
    Kau serahkan tongkat pusaka perjalanan tauhid-mu , dan kau wariskan keris pusaka darma juhud-mu,
    Kau serahkan pakaian pusaka kebesaranmu, dan kau wariskan kendaraan pusaka petualanganku,
    Kau serahkan pelita cahaya penerang hidupmu, dan kau wariskan ilmu perbekalan perjalananku

    Mohon ampun …., atas kebodohan dan kelancanganku, Sungguh …,
    Ku tak sanggup merendahkan harkat, derajat dan martabatmu, dan tak kuasa merendahkan keluhuran, kemualiaan dan keagunganmu,
    Ku tak rela menodai kesucian, tak berani mengganggu kebesaran jatidiri dan bangunan kesejatianmu
    Sungguh …, bukannya karena itu ….…, bukan karena itu,
    Tapi hanya karena ragaku miskin dengan kata, bahasa dan pengetahuanku.

    Aku hormat atas harkat, derajat dan martabatmu, bangga atas kebesaran nama dan jatidirimu,
    Aku junjung darma kaluhuran, ke muliaan, keagunganmu, dan pelihara atas amanat dan wasiatmu,
    Aku lanjutkan perjalanan dzikir dan langkah do’amu dan aku teruskan petualangan sholatmu.

    Aku senantiasa berharap……
    Semoga diberi-Nya kuasa untuk itu, agar engkau tak kecewa karena aku,
    Semoga diberi-Nya izin dan restu untuk itu ., agar engkau bangga karena aku,
    Semoga diberi-Nya kehendak untuk itu ….…, agar engkau tenang tentram karena aku,
    Semoga diberi-Nya ridha untuk itu ……, agar engkau senang dan bahagia karena aku.

    Aku senantiasa berharap …, atas kebesaran dan keagungan-Nya,
    Aku senantiasa berdo’a ….., atas ke murahan, kebesaran dan kemuliaan-Nya,
    Aku senantiasa memohon …,atas kemurahan dan kasih sayang-Nya.

    Semoga kiranya engkau tetap abadi bertahta dalam si nggasana agung dan mulia,
    Singgasana kerajaan cahaya nyawa …di dalam kerajaan cahaya Kekasih Yang Mahamulia.

    Wahai mustika cahaya pemegang tahta pewaris cahaya …. Sang Penghulu Cahaya …… !

    Kubuka ketulusanku .…..…, tuk jalan dan perjalanan cahayamu,
    Kubuka kelapanganku …….., tuk dilalui cahayamu,
    Ku bersimpuh tulus …………, tuk meraih percikan cahayamu,
    Kusujudkan khusyuk………, tuk menyerap percikanmu,
    Kutegakkan niat dan tekad …, tuk menyelami cahayamu,
    Kulangkahkan kehendak ……, tuk menaburkan benih cahayamu.

    Cahayamu kubuka lebar,karena kebutuhan untuk jalan pembukakegelapan,
    Cahayamu kutaburkan karena kewajiban untuk penerang kegelapan,
    Cahayamu kusampaikan …karena keharusan untuk penebus kebodohan,
    Cahayamu kuwasiatkan …, karena amanat untuk harta peninggalan,
    Cahayamu kusampaikan …, ka rena wasiat untuk perbuatan,
    Cahayamu kuberikan … …, karena keyakinan untuk pegangan.

    Semua aku lakukan ;
    Karena kemurahan, sebagaimana yang telah engkau buktikan,
    Karena keharusan, sebagaimana yang engkau ajarkan dan pengakuan yang engkau yakinkan,
    Karena kewajiban, sebagaimana yang engkau tugaskan, dan kasih sayang yang engkau contohkan,
    Karena bagian, sebagaimana yang engkau lakukan, dan keinginan yang engkau wasiatkan.

    Aku merupakan bagian yang meneruskan perjalanan, menerangi ke gelapan, memerangi kebodohan,
    Aku hanya merupakan warisan…., yang melanjutkan tahta kebesaran tauhid darma kejuhudan,
    Aku hanya merupakan titipan.…., yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan dari keyakinan.

    Wahai para mustika cahaya pemegang tahta pewaris cahaya ….Sang Bangunan Cahaya …… !

    Kumohon kelapangan tuk kusampaikan cahayamu .., sebagai kewajiban,
    Kumohon ketulusan tuk kuberikaan cahayamu ……, sebagai amalan,
    Kumohon pengertian, tuk ku titipkan cahayamu …, sebagai perbekalan,
    Kumohon keridhaan, tuk ku wariskan cahayamu …, sebagai kekayaan,
    Ku mohon kepahaman, tuk ku teruskan cahayamu …, sebagai keharusan.

    Semua aku lakukan, … :
    Karena kasih sayang yang engkau contohkan,
    Karena kemurahan yang engkau buktikan, dan keharusan yang engkau ajarkan,
    Karena pengakuan yang engkau yakinkan, dan kewajiban yang engkau tugaskan,
    Karena bagian yang engkau lakukan, dan keinginan yang engkau ingatkan.

    Aku merupakan bagian … yang meneruskan perjalanan,
    Aku merupakan bagian … yang menerangi alam kegelapan, yang memerangi kebodohan,
    Aku merupakan warisan … yang melanjutkan tahta kebesaran,
    Aku merupakan titipan … yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan.

    Wahai para mustika cahaya pemegang tahta ahli waris cahaya …. Sang Penabur Cahaya….!

    Kumohon ketulusan tuk dapat menyertaiku, sebagai kemanunggalan,
    Kumohon kepahaman tuk dapat mendampingiku, sebagai perikatan,
    Kumohon kebijakanmu tuk dapat melakukan, sebagai kebersamaan,
    Kumohon kearifanmu tuk dapat mengingatkanku, sebagai persaudaraan.

    Semua aku lakukan, … :
    Karena kasih sayang yang juga engkau lakukan, dan kemauan yang engkau inginkan,
    Karena kejuhudan yang juga engkau buktikan , dan keharusan yang juga engkau pahamkan,
    Karena pengakuan yang engkau yakinkan, dan kewajiban yang juga engkau laksanakan,
    Karena bagian ketaatan yang engkau akukan, dan keharusan yang juga engkau ingatkan,

    Aku juga merupakan bagian … yang meneruskan perjalanan, melakukan petualangan,
    Aku juga merupakan bagian … yang menerangi alam kegelapan, memerangi kebodohan,
    Aku juga merupakan warisan … yang melanjutkan tahta kebesaran, memelihara kehormatan,
    Aku juga merupakan titipan … yang memelihara harta kekayaan dan kejayaan.

  2. Untukmu tujuh

    Posted by Sandal jepit.. on 23 Mei 2012

    Wahai malaikat…..……, pengembala cahaya penyiram jiwa !
    Wahai setan…….….…., pengembala api pembakar jiwa !
    Wahai jin……….……., pengembala asap penutup jiwa !
    Wahai siluman………., pengembala malam penganut kegelapan !
    Wahai binatang…….…, pelayan jiwa pendamping raga !
    Wahai tanaman…….…, pelayan jiwa penyerta raga !

    Sungguh ….., engkau semua sangatlah berguna dan berjasa dalam darma Sang Mahakuasa,
    Karena engkaulah sang tercipta, yang dicipta sebagai kendaraan darma Sang Mahakuasa,
    Engkaulah pemberi arti dan makna dalam hidup dan warna dalam kehidupan insan manusia,
    Engkaulah pemberi corak dalam karya, keaneka ragaman dalam darma, dan pemberi rasa dalam dzikir dan do’a insan manusia.

    Karena dirimu ……,

    Aku dapat mengerti dan memahami, mengetahui dan menyadari,
    Aku dapat tahu diri dan menjaga diri, memelihara diri dan kehormatan diri,
    Aku senantiasa berjalan dalam perjalananku dan engkau senantiasa berjalan mengikutiku,
    Aku senantiasa berjalan melewati rintanganku dan engkau senantiasa bekerja membuat upaya.

    Wahai Insan Manusia.…,
    Engkaulah …
    Pengembala bumi pengasuh jiwa dan raga; pengembala langit pengasuh akma, sukma dan nyawa,
    Pengembala darma syaréat lahir, syaré’at batin, hakékat lahir, hakékat batin dan ma’rifat,
    Kesejatian khalifah darma Bocah Angon Sang pengembala kehidupan dunia dan akhérat,
    Kesejatian khalifah darma Bocah Angon Sang pengelola malaikat, setan, jin, siluman, binatang
    tanaman dan semua makhluk yang ada di jagat raya.

    Sungguh engkau yang sempurna dari yang menyempurnakan…
    Engkaulah Sang Tercipta, yang dicipta sebagai misil siloka Sang Maha Pencipta,
    Engkaulah Sang Darma, yang dicipta sebagai misil siloka makhluk jagat raya dan alam semesta,
    Engkaulah Sang Makhluk Jagat Raya dan alam semesta, yang dicipta sebagai misil siloka Kitab Mahasejati dari Sang Mahasejati.

    Engkaulah kiranya …..
    Sabda, kalam, ayat, dan suratan, dari kitab semesta Sang Maha Kuasa,
    Pemberi arti dalam mencari, pembuka makna dalam menggali, pengantar jalan dalam perjalanan misil
    siloka dan penuntun jalan menuju kerahasiaan Sang Maha Kuasa,
    Engkaulah pintu, jalan dan jembatan menuju kerajaan abadi Sang Hyang Maha Widi.

    Karena dirimu ……,

    Aku dapat mengetahui, memahami, menyadari, siapa aku, Aku dan AKU
    Aku senantiasa berjalan dalam perjalananku dan engkau senantiasa berjalan mengikutiku,
    Aku senantiasa berjalan melewati rintanganku dan engkau senantiasa bekerja membuat tahu.

    Wahai bumi, yang menjadi tempat pijakanku !
    Wahai langit, yang menaungi perjalanan tauhidku !
    Wahai air, yang mengairi kehidupan juhudku !
    Wahai api, yang menghidupkan tenagaku !
    Wahai angin, yang menyertai desah nafasku !
    Wahai siang, yang menerangi pertualangan hidupku !
    Wahai malam, yang menyertai perjalanan matiku !
    Wahai waktu, yang mengikat usiaku mengurung umurku !
    Wahai bulan, yang mengikuti derap langkah kakiku !
    Wahai bintang, yang mengamat – amati hidupku !
    Wahai mentari, yang menerangi akal dan pikiranku !
    Wahai surga, yang mengolok – olokanku !
    Wahai neraka, yang menakut-nakutiku !

    Engkaulah kiranya ……

    Yang jadi saksi atas langkah dan perjalananku,
    Yang menjadi kendaraan dalam petualangan tauhid darma juhudku,
    Yang membangunkan jiwaku dan mendampingi perjalananku,
    Yang mewarnai petualanganku dan yang memberi pengetahuanku,
    Yang menghidupkan akal dan pikiranku dan menyempurnakan ilmu dan pengetahuanku.

    Engkau senantiasa bertasbih, mensucikan kebesaran-Nya untuk aku,
    Dan aku pun bertasbih, mensucikan keagungan dan kemuliaan-Nya untuk kamu,
    Engkau bersujud, sebagai pengabdianmu kepada-Nya melalui aku,
    Dan aku pun bersujud, sebagai penyembahan kepada-Nya, untuk kebaikanmu,
    Engkau taat atas perintah-Nya dan aku pun taat sebagai ahli-Nya,
    Engkau patuh atas sabda-Nya dan aku pun patuh pada amanat dan wasiat-Nya,
    Engkau juhud kepadaku karena-Nya dan aku juhud kepada-Nya,
    Engkau hidup untuk aku…… dan aku pun hidup untuk AKU,
    Engkau mati demi aku .…….dan aku tetaplah hidup abadi tanpa kamu,
    Engkau jadi saksi atas hidupku dan aku pun menjadi saksi.atas matimu.

    Sungguh… aku ridha atas baktimu darma kejuhudanmu,
    Sebagaimana engkau ridha atas perjalanan tauhid dan petualangan darma juhudku.

  3. ikhlaskan ilmu ini, saya mohon copy saudara.. tolong berikan izajah demi insan yang serbah kurang ini.. wsalam..

  4. Silahkan Saudara Redha….Jangan Merasa Sungkan…Ikuti Suara Hati Terdalam….Sehingga Dapat Merasakan ketenangan Jiwa…………Salaaam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s