Makna cinta ketuhanan


Ahli Makrifat itu tidak memiliki makrifat jika ia tidak mengenal Allah dari segala 
sudut dan dari segala arah mana saja ia menghadap. Ahli Hakikat hanya ada satu arah yaitu ke arah Yang Hakiki itu sendiri. “Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah” (Al-Qur-an)

“Ke mana saja kamu memandang”, apakah dengan indera atau akal atau khayalan, maka di situ ada Wajah Allah “.

Persoalan kita kenal dan tahu tentang ahli makrifat dan apakah ma’rifat itu tidak timbul di sini. Petah berkata-kata dan efisien dalam berhujah berkenaan dengan apa yang terkait dengan mereka tidak diperlukan di sini.

Apa yang perlu di sini adalah kesadaran diri kita tentang pekerjaan dan kondisi mereka. Mereka cuma ada satu pandangan saja yakni “Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah”

Tahu dan bisa tidak sama dengan “yang sadar diri”. Yang sadar ke pekerjaan diri mereka dan yang sadar dengan kondisi diri mereka.

Bila diminta mereka berkata, maka mereka akan berbicara sesuai pekerjaan diri mereka dan sesuai kondisi diri mereka. 

Bukan dengan sangka-sangkaan ilmunya, bukan dengan cerita itu dan cerita ini, tetapi disampaikan oleh kesadaran tentang pekerjaan dirinya dan kondisi dirinya.

Mereka mengatakan dalam kondisi sadar diri dan berbicara dengan bahasa pekerjaan dan kondisi dirinya.

Ini bukanlah soal Mengenal Allah apabila hijab itu tersingkap, tetapi adalah soal mengenalNya dalam hijab itu sendiri ………. Kesempurnaan adab itu ialah memerlukan hijab itu dipelihara ………

Berhadapan dengan yang buta tidaklah harus kebenaran itu dipertahankan. Tidak usah mendebat, jauh sekali dari berjidal karena itu adalah hal-ahwal mereka yang buta. 

Biarkan si buta melalak-lalak mempertikaikan barang yang kita miliki. Namun kita susun mengatur perihal barang milik kita dengan kata-kata yang benar, si buta akan tetap tidak akan dapat nampak “barang pesaka ‘yang kita simpan. Pemahaman mereka tentang barang pesaka ini tidak sama dengan mata yang melihat dan menyaksikan keujudannya.

Bersabarlah dengan lidah yang kelu tanpa bahasa.

Jika pemberian yang sedikit itu sudah kita hilang kesabaran diri, bagaimana mungkin untuk menanggung sesuatu yang lebih besar.

Yakinilah wahai saudara-saudaraku. Semoga Allah memberikan petunjukNya kepada Anda bahwa …….

Hanya Cinta kepada Allah yang bisa mengakhiri perselisihan ini. Hanya Cinta yang bisa membantu ketika Anda meraung meminta tolong dari cengkeraman mereka. Mulut bisu dalam Cinta; perselisihan tidak ada. Si ‘asyik kuatir untuk menjawab balik perselisihan itu, karena takut mutiara ruhani (mistik) itu keluar dari mulutnya.

Umpama burung hinggap di atas kepala Anda dan Anda kuatir ia terbang lari. Anda tidak bergerak atau menghembuskan nafas yang kuat. Anda tahankan diri Anda agar tidak terbatuk. 

Semua itu takut burung itu terbang. Kalau ada orang bertanya, Anda letakkan jari di mulut yang tertutup memberi sinyal “diam”.

Cinta Ketuhanan ibarat burung itu. Ia membuat Anda tidak mau membuka mulut. Ibarat ketel yang panas dan mendidih airnya. Tudung ketel itu Anda menutup supaya airnya tidak keluar.

Fudhoil bin Iyadh seorang wali Allah berkata kepada seorang pria;

“Jika seseorang bertanya kepada mu apakah kamu cinta kepada Allah, hendaklah kamu diam karena jika kamu kata:” Saya tidak cinta kepadaNya “, maka kamu kafir dan jika kamu berkata,” Saya cinta “, maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu.”

Fahamilah WAHAI DIRIKU …………

One response to “Makna cinta ketuhanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s