Makna perjalanan


Sekarang ini, kebanyakan manusia cenderung lebih memfokuskan diri untuk memikirkan “HAL KEDUNIAWIAN” ketimbang memikirkan masalah “AGAMA”. Agama hanyalah dianggap sampingan dan dinomor “DUAKAN”. Padahal mereka itu bukannya tidak mengerti dan tidak mengetahui tentang hal tersebut, tetapi kabut tebal masih menyelimuti mata batinnya, mentari semburat polos masih bermalas-malasan terbit dan enggan menghiasi bukit thursinanya. Mereka mengakui dan mengerti bahwa “”HIDUP” didunia ini ada yang “MENGHIDUPKAN”, dan merekapun sadar bahsa ada suatu “KEKUATAN MAHA BESAR” yang mempengaruhi kehidupan mereka, namun kesemuanya itu hanya cukup sebagai “AKUAN” saja.

Begitulah segi kehidupan manusia, walaupun tidak semua manusia berakhlak demikian, namun kebanyakan dari hidup manusia lupa akan membaca “KITABNYA”, hakikat pribadinya, hakikat Tuhannya. Upaya sungguh-sungguh untuk menghayati jati diri (hakikat pribadi), serta melangkahkan kaki untuk menapaki tangga-tangga langit terdekat untuk bermukasyafah, beraudensi dengan Tuhan dianggap pekerjaan yang membuang-buang waktu dan sia-sia, hal ini sudah barang tentu sangat bertentangan dengan firman Allah dan hadist Rasulullah SAW:
“Hai manusia, sesungguhnya kamu harus mengusahakan diri dengan ketekunan yang setekun-tekunnya sehingga sampai kepada Tuhanmu lalu kamu menemui-Nya” (QS Al-Insyiqaaq 84:6).
“Barang siapa yang mengharap untuk menemui Allah, sesungguhnya janji Allah pasti akan datang. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Ankabut 29:5).
“Man Arofa Nafsahu Fakod Arofa Robbahu” – “Barang siapa kenal dirinya, maka dia akan kenal Tuhannya” (Hadist Rasulullah).

Kesibukan didalam meraih gemerlapnya dunia telah menutup dirinya, menghijab dirinya, telah menjumudkan pikirannya hingga terjerumus kedalam kesaksian palsu, bukan saksi sejati. Ingatkah peristiwa di alam azaly, dimana terjadi dialog antara Roh kita dengan Maha Roh ketika itu:
“Alastu birabbikum, Balla sahidna!” – “Bukankah Aku ini Tuhanmu, Ya benar saya bersaksi Engkau adalah Tuhanku”.

Sadarkah terhadap kalimat “SYAHADAT” yang telah kita ucapkan? Benarkah kita telah bersaksi selama ini? Apakah Syahadat kita hanya sekedar ucapan tanpa pembuktian?. Terdapat tiga golongan yang ada didalam kehidupan sehari-hari ditengah-tengah masyarakat kita. Tiga golongan tersebut adalah golongan kiri,kanan dan tengah (siratal mustaqim), sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an Surat Al-Waqiah 56:8-11- “Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu”. “Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.
Serta surat Al-Fatihah 1:6 – “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.
1. Golongan kiri
Golongan kiri adalah suatu golongan yang ditandai dengan suasana kehidupan serba gemerlap. Kehidupan manusia yang materiallistik, penuh sandiwara. Babak demi babak hidup dan kehidupannya habis untuk mengais-ais dunia. Kesuksesan, keberhasilan di dalam meraih dunia telah melemparkan mereka kedalam sifat angkuh, tinggi diri, gila hormat, mengejar pangkat dan jabatan dengan berbagai macam jalan. Mereka bangga atas semua itu.

Dengan merasa diri telah cukup terhadap kepentingan hidupnya, tercapai segala kehendaknya, hingga ia lupa segala-galanya. Sementara Tuhan sebagai satu-satunya sumber kehidupan hanya dijadikan “SESEMBAHAN” ritual serimonial belaka. Rangkaian ibadah ditujukan hanya mencari sensasi dan penghormatan semata. Gerak langkah kehidupannya masih bersifat lahiriah dan puncak ibadahnya masih menyembah kira-kira. Firman Allah:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain permainan dan senda gurau belaka, dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertaqwa, maka apakah manusia tidak memahaminya?” (QS Al-Ankabut 29:64).

Disamping itu merekapun kurang cermat didalam mengaktualisasikan Sabda Rasulullah SAW: “Carilah harta dunia seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya. Dan beribadahlah engkau seolah-olah akan mati esok hari”. Begitulah bagi manusia-manusia yang telah tertutup mata hatinya oleh kesenangan dunia, lupa bahwa dirinya akan mati, lupa bahwa hasil usaha yang tak mengenal waktu itu akan ia tinggalkan.

2. Golongan kanan
Golongan kanan adalah golongan yang ditandai dengan kehidupan religius dan telah banyak dipraktekan ditengah masyarakat kita, namun demikian aktualisasinya justru banyak yang kurang sempurna. Kebanyakan manusia telah terjebak terhadap aturan-aturan yang rumit didalam rangka mencari Tuhannya. Fanatik terhadap mazhab, golongan, aliran serta atribut-atribut yang menjadi kebanggaan justru banyak ditonjolkan serta lebih dikedepankan.

Sarana dan prasarana sebagai jalan untuk menuju Tuhan senantiasa diperdebatkan. Yang satu mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, sedang yang lain menuding itu tidak benar. Debat seru menyoal sarana prasarana hanyalah membuang-buang energi, dan pada gilirannya nanti justru akan menghambat, mengaburkan esensi Tuhan itu sendiri.

Menyembah kepada Allah ditujukan untuk meraih pahala dan surga semata, sementara tujuan yang hendak dicapai adalah utamanya, bukan sarana prasarananya, pahala dan surga, kita mesti mencari yang punya surga. Firman Allah:
QS Al-Mu’minun 23:52 – “Sesungguhnya Agama Tauhid adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku”.
QS Ali Imran 3:132 – “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”.

Al-Qur’an diatas menisyaratkan agar kita senantiasa berpegang teguh kepada Agama Tauhid (Addin sejati), berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadist. Selanjutnya mengikuti jejak Rasulullah SAW untuk melaksanakan kehidupan yang religius spiritual, serta menjauhkan diri dari pertengkaran ditengah perjalanan.

3. Golongan tengah (Jalan Lurus)
Golongan tengah adalah golongan yang ditandai dengan kehidupan mempercayai “Wahdatul Wujud” menuju kepada pembuktian (Isbatul Yakin), juga telah dipraktekkan di bumi persada ini. Aktifitas dan agenda harianpun telah terisi penuh dengan usaha-usaha mendekatkan diri kepada Allah.

Konsep keseimbangan antara menggapai dunia dengan meraih tangga-tangga langit telah diupayakan sedemikian rupa. Dorongan dan iradah untuk menyibak awan, meraih bintang menggapai bulanpun telah dicobanya. Namun pengaruh yang ditimbulkan sebagai akibat keterbiasaan mengkaji ilmu syareat menyebabkan kita menjadi bingung untuk melangkah saat mengkaji ilmu ma’rifat. Kita sepertinya berada ditengah keragu-raguan. Para penempuh perjalanan rohani (bertasawuf) hendaklah menghindari sikap yang demikian

Kita dituntut untuk bersikap jujur dan bukan mencari kesalahan, bukan pula caci-makian, bukan juga merasa dirinya yang paling benar. Kita perlu berusaha membuka tutup tabir yang selalu menyelimuti/menghijab dirinya. Bagi perjalanan tasawuf hendaklah berusaha untuk mencapai tujuan kepada Tuhan, bukan mencari surga atau neraka. Bukan pula untuk bertengkar didalam perjalanan. Dan tidak terpaku dengan titik koma bacaan dan tulisan. Tuhan tidak ada didalam bacaan dan tulisan. Tuhan berada pada yang membaca dan yang menulis, apabila pelakunya mengerti tentang Tuan, suatu tanda untuk sampai ke tujuan.

Disamping itu sikap yang ada selama ini atas penilaian bahwa Allah Maha Ghaib, hendaklah berangsur-angsur kita tingkatkan menjadi Allah Maha Pasti, Dia Maha Besar, Maha Halus dan Maha Esa dan Dia pula yang berada pada setiap makhluk ciptaannya. Para penempuh perjalanan dengan bertasawuf untuk tingkat pemula pada umumnya sering mengalami kesulitan didalam menterjemahkan ayat-ayat mutasyabihat/ma’rifat (makiyah).

Hal ini sangatlah wajar sebagaimana telah digambarkan dalam Al-Qur’an:
“Dialah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu, diantaranya ada ayat-ayat yang “Mukhamat” dan yang lain “Mutasyabihat”. Maka adapun orang-orang yang hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang Mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang dalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada yang mutasyabihat semua itu dari sisi Tuhan kami”. (QS Ali Imran 3:7)
“Tidak seorang manusia dapat menerima rahasia Tuhan, kecuali dengan wahyu (ilham) atau dibalik tabir, atau diutusnya Utusan, lalu dengan izin-Nya diwahyukannya tentang apa-apa yang dikehendaki-Nya”. (QS Asy-Syura 42:51).

Menterjemahkan ayat-ayat/ma’rifat, mutasyabihat dan pencarian terhadap Tuhan terkadang masih membingungkan bagi orang yang sedang bertasawuf tingkat pemula. Berbagai ragam pertanyaan yang senantiasa muncul dibenak mereka perihal siapakah Tuhan, dimanakah keberadaan Tuhan, benarkah Tuhan dapat ditemui, dan bermacam-macam istilah lain yang sering dijumpai dalam bertasawuf sangat mempengaruhi dalam berpikiran.

Beberapa masalah yang berkaitan dengan Tuhan yang sering kita ketahui diantaranya:
“Allah adalah Cahaya diatas Cahaya” (QS An-Nur 24:35)
“Allah itu Esa” (QS Al-Baqarah 2:163)
“Allah itu tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” (QS Asy-Syuura 42:11)
“…Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (QS Thoha 20:46)

kebimbangan dan keraguan akibat tidak terjawabnya permasalahan diatas, maka tumpukan permasalahan itu menjadi “nyampah” di bukit thursinanya. Hal ini bila kita biarkan terus menerus akan mempengaruhi pencerahan rohani kita. Dihalaman muka telah disinggung tentang adanya kekuatan Yang Maha Besar mempengaruhi kehidupan kita. Kekuatan Yang Maha Besar itulah yang sering kita sebut sebagai Tuhan, Allah Azza Wajalla.

Untuk mempermudah memecahkan masalah Ketuhanan, baiklah kita menelaah hal-hal yang biasa sehari-hari ada disekitar kita dan juga sering kita temui:
1. Sebuah Hitungan (Ilmu Pasti) Sebagai Perumpamaan
Telah kita ketahui bersama bahwa angka itu terdiri dari angka Nol (0) sampai angka sembilan (9). angka Nol (0) adalah merupakan angka yang paling terkecil. Sedangkan angka sembilan (9) adalah merupakan angka yang terbesar. Angka Nol (0) berarti “kosong” atau “nihil” atau “tidak ada”. Namun kenyatannya wujudnya ada, dan angka ini tidak bisa dibuang begitu saja meskipun mempunyai makna “kosong”. Tetapi pada prakteknya angka Nol (0) sesungguhnya mempunyai makna yang “sangat besar” nilainya. Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan angka yang lain.
Sebagai contoh:
Dalam angka 1000 angka ini terdiri dari angka satu (1) ditambah dengan angka Nol (0) tiga buah dibelakangnya. Tetapi bila angka Nol (0) yang terakhir itu kita buang, hasilnya: nilai dari 1000 kini hanya tinggal 100. Ini berarti sebuah angka Nol (0) yang dihilangkan tadi nilainya adalah 900 yaitu 1000 –100 (seribu dikurangi 100).
Dari kenyataan yang ada, maka dapatlah disimpulkan: angka Nol (0) itu berdiri sendiri artinya “tidak tampak” atau “tidak ada” alias “kosong” tapi pada kenyataannya “ada dan berwujud”. Dan bila angka Nol (0) itu sebagai pembanding dari suatu rangkaian angka-angka, maka nilai Nol (0) itu adalah lebih besar dari nilai yang ada. Nol (0) ditulis dalam bentuk lingkaran-lingkaran yang sempurna. Dalam lingkaran itu titik awal bertemu dengan titik akhir. Nol (0) merupakan angka “kasunyatan”, angka kebenaran, angka yang absolut. Angka sempurna yang tidak dapat dinilai lagi, karena memang nilainya tidak terhingga. Itulah Allah.

2. Matahari Sebagai Perumpamaan
Kita perhatikan keadaan alam yang ada disekeliling kita, dan kita ambil “matahari” sebagai contoh perumpamaan. Matahari adalah sebagai “sumber Cahaya” yang memberikan penerangan kepada alam sekitarnya. Ketika kedudukan matahai persis diubun-ubun langit, dengan cahayanya yang memancar tanpa terhalang awan sedikitpun, ambillah beberapa gelas yang telah diisi air putih. Letakkan gelas tersebut ditengah-tengah pelataran rumah kita.

Kenyataan yang terjadi adalah bayangan matahari terlihat ada didalam gelas tersebut sesuai dengan jumlah gelas yang tersedia. Kita tambah lagi gelas yang telah diisi air putih pula dan letakkan gelas itu ditempat yang sama secara berjauhan, maka bayangan matahari juga akan muncul di gelas tersebut.

Sedangkan kita mengetahui dan meyakini bahwa matahari itu hanyalah satu. Andaikan gelas yang ada itu kita pecahkan, kemudian air putih yang ada dalam gelas tersebut tumpah ke tanah lapangan, maka kini muncul pertanyaan kemana perginya matahari yang berada digelas tersebut?

Sebagaimana diatas bahwa cahaya adalah sifat dari matahari yang mengakibatkan adanya bayangan dari matahari itu sendiri. Maka bila seandainya air yang berada dalam gelas itu “keruh” maka bayangannyapun akan “buram”, bila airnya bergoyang, maka bayangannyapun akan beriak-riak, tetapi bila airnya “tenang dan jernih”, maka bayangannyapun akan “tampak nyata”.

Hal ini tak bedanya dengan manusia dan sifat Allah. Bila qalbu (batin)nya gelap, maka akan gelap pulalah pengetahuannya terhadap sifat Tuhannya, terkadang hilang pulalah kepercayaan kepada Tuhan dan tidak mempercayai akan kekuasaan Tuhan. Bila batinnya goyang (ragu-ragu) maka akan jadilah manusia yang meragukan akan sifat-sifat Tuhan dan kekuasaan-Nya. Tetapi sebaliknya, bila batinnya mantap, hatinya bersih dan jernih, iman dan keyakinannya kuat, maka segala sifat yang dikehendaki Tuhanpun akan tampak nyata dan berbekas dalam jiwanya. Manusia seperti inilah yang mempunyai ketenangan jiwa, mempunyai nafsu mutmainah dalam dirinya, hidup dengan penuh gairah dan semangat, tak mengenal putus asa.

Sifat Tuhan melingkupi segala hasil ciptaan-Nya, seperti sifat matahari yaitu “Cahaya” yang menerangi semua gelas yang berisi air berapapun jumlahnya, semua akan kena sinarnya dan seluruhnya akan mendapat bayangannya. Dalam kehidupan manusiapun tak ada bedanya. Manusia seluruhnya diliputi oleh sifat si “Penciptanya”, dan sebagai bayangan si “mataharinya”. Bukan bayangan Tuhannya, melainkan “zat hidup ciptaan Tuhan” yang terdapat didalam tubuh setiap umat-Nya. Dan bila si tubuh itu telah hancur maka “zat hidupnya” itupun akan kembali kepada di “Penciptanya” yaitu Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s