Sang cermin 2


Bagian ketujuh

1.  Rasa
Rasa itu dapat bersifat jasmaniah maupun rohaniah atau di dalam hati. Rasa itu dari bahasa Arab Rasul, itu tanpa warna yang menjadikan warna-warni itu adalah rahsa yang berbeda-beda. Jika diumapamakan rasa itu badan
sedangkan rahsa itu tangan (bagian dari badan). Rasa dapat diumpamakan batang dan rahsa itu ranting. Pernyataan seperti : gelap budinya, buruk hatinya itu salah, yang benar kegelapan itu pada angan-angan.

Budi dan hati tidak pernah gelap dan buruk. Melalui samadi orang dapat menghilangkan asap (nafsu yang warnawarni), sehingga dapat melihat rasa diri. Jika nafsunya padam sama sekali dan angan-angannya telah berhenti, maka dapat melihat warna hatinya (batin) karena terangnya hanya dari budi.

2. Budi
Budi itu cahaya yang menerangi kesadaran manusia yang akhirnya menerangi pikiran (angan-angan). Orang yang bening budinya dan diam rasanya ibarat berlian, sedangkan orang yang terang budi namun masih tebal rasanya ibaratnya mirah. Budi tidak senang-sedih, suka-benci, hanya menunjukkan pada kebenaran.

Bagian Kedelapan

Membedakan budi dengan rasa itu ibarat membedakan cahaya dengan warna. Cahaya itu penerang, sedangkan warna bukan penerang. Warna membutuhkan cahaya agar nampak merah, hijau, kuning dan sebagainya. Tanpa cahaya warna tidak tampak. Warna dan cahaya itu menjadi satu (tidak terpisahkan), namun dapat dibedakan. Demikian pula rasa dengan budi tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan.

Budi itu cahaya hidup dan rasa itu warna kehidupan. Rasa itu merasakan enak tidak enak atau suka-duka. Manusia dapat mengetahui rasa itu memerlukan budi, tetapi budi tanpa rasa tidak dapat merasakan enak-tidak enak, suka-duka dan sebagainya. Jika orang mengingat sesuatu kemudian sedih, maka yang dipakai untuk mengingat itu budi sedang yang merasakan itu rasa.

Bagian Kesembilan
Agar manusia terang budinya, maka pertama mengusahakan agar rasa
ditekan sekecil mungkin. Kedua mencari ugering dumadi (hakikat kejadian)
setelah mengetahui kemudian diikuti. Segala perbuatan jangan sampai
menyimpang dari kebenaran yang ditunjukkan budi. Ketiga, mendekatkan diri
kepada pencipta hidup, dengan bimbingan guru yang mengetahui cara
pembersihan diri. Keempat, samadi yaitu menghentikan angan-angan (pikir), rasa dan nafsu.

Bagian Kesepuluh..
Keinginan baik dituntun nafsu mutmainah, namun semua nafsu itu tidak
mengerti kebenaran, karena kebenaran itu merupakan bagian dari budi. Angen-angen (pikiran) harus awas terhadap petunjuk budi. Keinginan yang benarberdasar norma yang benar belum tentu membawa keselamatan atau perludiupayakan, karena harus mencermati petunjuk; karena rasa menuntun padakeselamatan.

Bagian Kesebelas..
Segenap hal yang tergelar pada dasarnya hanya gambaran (bayang-bayang)
yang kelihatan dalam cermin gaib, keberadaannya hanya wenang (hak), dapat
“ada” atau “tidak ada”. Keberadaannya hanya sementara waktu, dapat kembali
dalam ketiadaan. Semua jizim (kejasmanian, kebendaan, memakan tempat) atau satu-persatu (yaitu yang baik atau buruk) bukan kahanan jati (tidak sungguh-sungguh ada).

Cermin besar itu sebagai simbol dari sifat “dzat sing tanpa timbangan”.
Cermin besar tidak dapat dibandingkan dengan barang lain, karena suwung
wangwung (tidak ada apa-apanya), tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak
bercahaya dan tidak ada bangunnya. Tetapi bukan berarti segala sesuatu berasal dari kekosongan (suwung), melainkan berasal dari yang Maha Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s