Sang cermin 1


Serat Kacawirangi terdiri dari sebelas bagian kisah binatang yang sebenarnya merupakan cerita yang menyimbolkan kehidupan manusia. Dikatakan demikian karena di dalamnya berisi ajaran tentang kesempurnaan dan keutamaan hidup manusia. Kesempurnaan manusia tercapai jika hidup semakin merohani ibarat cermin yang didominasi oleh akal budi.

Bagian pertama..pada bagian ini menceritakan percakapan kupu-kupu yang berada di sebuah taman istana yang indah. Kupu-kupu yang berada di taman itu ada yang berwarna putih, merah, kuning, ungu, hijau, biru dan hitam. Setiap kupu-kupu mengunggulkan warna yang dimilikinya. Kupu-kupu putihmengunggulkan warna putih sebagai warna yang melambangkan kesucian dan kejujuran.

Kupu-kupu merah mencela warna putih sambil mengunggulkan warna merah sebagai warna yang tidak pucat, warna merah adalah warna yang indah mencolok dan merangsang penglihatan, anak kecil pun suka warna merah, maka kupu-kupu warna merah adalah kupu-kupu yang terbagus. Mendengar percakapan kupu-kupu putih dan merah, kupu-kupu kuning berkata bahwa,

memang jika warna putih dibandingkan dengan warna merah lebih gagah warna
merah. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan warna kuning, warna merah dan putih kalah indah, buktinya emas lebih indah dibandingkan dengan tembaga maupun perak. Warna putih itu pucat, warna merah memang gagah akan tetapi membosankan, sedangkan warna kuning itu tidak membosankan dan bergengsi.

Kupu-kupu ungu menyambung pembicaraan, ia menyatakan bahwa warna kuning itu juga masih membosankan. Warna merah dan kuning itu sifatnya ladak (mencolok) berbeda dengan warna ungu jinem nganggi guwaya (anggun merona), sederhana dan anggun. Kupu-kupu hijau menyela, kalau warna yang baik itu warna putih, merah, kuning dan ungu, kenapa semua tumbuh-tumbuhan dan dedaunan ditakdirkan

hijau. Warna hijau di kebun, di sawah demikian juga taman-taman yang hijau
tidak pernah membosankan jika dipandang. Oleh karena itu, warna hijau adalah
warna paling unggul. Kupu-kupu biru membenarkan pernyataan kupu-kupu hijau, akan tetapi Tuhan menciptakan warna biru lebih unggul. Buktinya udara, langit, air lautan dan gunung-gunung berwarna bitu.

Warna bitu itu terdapat secara dominan di daratan, di lautan dan di angkasa; maka warna biru lebih unggul dari warna hijau yang hanya ada di daratan saja.
Kupu-kupu hitam berkata, bahwa warna hitam itu mengungguli semua
warna, tidak ada satu warna pun dapat mengalahkan warna hitam. Pada malam
hari semua yang ada di darat, laut maupun angkasa menjadi hitam. Tulisan dan
gambar yang bersahaja juga berwarna hitam.

Burung perkutut menyimpulkan isi cerita itu, yang disebut buruk dan baik
itu sebenarnya tergantung pada anggapan perasaan. Apa yang sedang disukai itu yang kelihatan baik. Buruknya tertutupi. Apa yang sedang tidak disukai,
kebaikannya tertutupi. Orang yang berwatak korup, semua yang sedang disukai
dia anggap baik.

Ada peribahasa, orang suka tidak kurang-kurang menyanjungnya, orang benci tidak kurang-kurang mencelanya. Karena sudah menjadi kodrat Tuhan, manusia menyukai dirinya sendiri, maka tidak ada manusia yang bosan menyanjung diri sendiri.

Bagian Kedua..
Burung perkutut melanjutkan cerita, ia bercerita tentang permata putih yang
bercahaya. Permata itu berbicara kepada semua kupu-kupu, bahwa semua warna yang dimilikinya itu bagus, hanya sayang tidak bercahaya. Tidak hanya permata, manusia sekali pun kalau tanpa cahaya tidak ada kharismanya, tidak berwibawa dan disegani. Manusia seperti itu adalah manusia yang mengejar kebaikan rupa, kesenangan dan prestise; tidak mengejar pramana (cermin yang dapat menangkap bayang-bayang hakikat), keluhuran budi dan kejujuran.

Manusia dihormati dan disegani, karena menampakkan cahaya kebeningan budi warna putih, merah, kuning, ungu dan sebagainya itu ibarat karakter manusia, sedangkan cahaya adalah ibarat dari cemerlangnya budi. Jika dibandingkan dengan permata yang warna-warni tentu saja warna kupu-kupu akan kalah cemerlang, karena kupu-kupu hanya mempunyai warna sadangkan permata mempunyai cahaya.

Bagian Ketiga

Pada bagian ini diceritakan tentang dialog antara berlian dengan para
permata yang berwarna-warni. Berlian menyatakan kita sudah mengetahui bahwa keunggulan warna karena cahaya, tanpa cahaya warna tidak ada artinya. Berlian memberikan alternatif pilihan kepada para permata. Mereka diminta untuk memilih antara memiliki warna dengan cahaya yang sedang-sedang saja dengan tidak memiliki warna tetapi memiliki cahaya yang mengungguli semua yang memiliki warna.

Keunggulan berlian yang tidak memiliki warna, terletak pada kemungkinan untuk menampung segala warna. Tidak semua yang tidak memiliki warna dapat menampung segala warna jika tidak memiliki keunggulan cahaya. Arti dari cerita itu adalah : Manusia itu dapat memiliki daya tampung (terima), tidak cukup hanya karena kecerdasan ingatan. Namun harus tidak mempunyai watak, artinya tidak bersi kukuh dengan watak hati, seperti suka dengan itu, benci dengan ini,

Suka dengan yang menyenangkan, mengeluh di kala susah, suka yang baik dan benci yang buruk. Singkatnya punya kesenangan dan kebencian dalam hati yang tidak dapat diubah. Cahaya itu ibarat dari budi, warna itu ibarat dari rasa dan berlian itu ibarat dari orang yang cemerlang budinya tetapi tidak arogan dan dapat menundukkan keinginan pribadi. Manusia seperti itu dapat dipilih menjadi orang yang dituakan, dapat menerima atau menampung orang yang memiliki watak berbeda-beda, karena tidak memiliki watak sendiri..

Bagian Keempat..
Burung perkutut melanjutkan ceritanya. Semua permata merasa rendah diri
dibandingkan dengan berlian, apa lagi kupu – kupu. Akhirnya mereka sepakat
mengangkat berlian menjadi raja mereka. Akan tetapi, berlian berkata bahwa
masih ada wujud yang mengungguli kesempurnaannya. cahayanya  seribu  lipat dibanding dirinya. Karena dia tidak punya warna sama sekali, maka ia mampu memuat warna pun  seribu lipat, bahkan sekaligus mampu memuat semua bentuk.

Ia adalah cermin besar atau kaca benggala ageng. Cemin itu dapat dikatakan
seperti batu, kupu-kupu , berlian dan sebagainya. Akan tetapi kalau batu itu
buruk, tidak bening, dan tiga dimensi maka cermin tidak demikian. Cermin itu bening mengandung berbagai wujud, sebab cahayanya menyatu dengan rasa (rasa itu dalam bahasa Jawa dapat mengandung arti lapisan dasar cermin sehingga dapat memantulkan cahaya sekaligus dapat menangkap bayangan bentuk dan warna di depannya). Ia tanpa warna tetapi tidak kosong dan tanpa rupa (wujud).

Cerita itu mengandung arti, bahwa cermin itu ibarat/nisbatnya orang yang
sempurna. Ia lupa akan dirinya yaitu tidak pernah menonjolkan dirinya dan
keunggulan dirinya. Ia rela dikatakan rendah dan tidak menolak dikatakan unggul dan keikhalasannya tidak ditonjolkan. Ia tidak menyukai kebaikan dengan membenci kejahatan dan kesalahan atau sebaliknya menyukai kejahatan dan benci kebaikan.

Bagian Kelima..
Burung perkutut melanjutkan ceitanya tentang lempengan besi yang hendak
menyempurnakan diri. Lempengan besi itu menduga  bahwa kesempurnaan itu lengkap ada baik dan buruk, Ia ingin sebagian digosok dengan arang biar buruk,sebagian digosok dengan batu biar keruh dan sebagian digosok agar mengkilap. Berlian mengingatkan walaupun kesempurnaan itu mengandung baik dan buruk akan tetapi jalan menuju kesempurnaan itu hanya dengan kebaikan saja dan tidak boleh dicampuri keburukan.

Ia menyarankan agar lempengan besi itu rajin menggosok diri agar semakin mengkilap.Maksud dari cerita itu adalah bahwa yang dapat menampung kebaikan dan keburukan itu hanya orang yang sempurna, yang terang dan terhindar dari keburukan. Walaupun baik dan buruk itu milik Tuhan, namun untuk menuju kesempurnaan harus menghindari atau menghilangkan keburukan.

Bagian Keenam..
Burung derkuku menanyakan, jika keindahan itu ditentukan oleh cahaya
dan warna, mengapa berlian yang tanpa warna lebih unggul dibandingkan dengan permata yang berwarna.. ? Perkutut menjawab, bahwa cahaya yang tanpa warna lebih unggul daripada cahaya yang berwarna, karena dapat menerima warna kehadiran yang berbeda-beda.

Yang dapat menerima atau menampung berbagai warna itu hanya cahaya yang tanpa warna. Berlian itu ibarat manusia yang hatinya kosong dari nafsu, artinya suci, rela dan lapang dada sehingga mengikuti kehendak budi dan dapat menundukkan panca indera dan nafsunya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s