Makna syukur


Allah SWT berfirman,
“Jika kamu sekalian bersyukur, maka Aku (Allah) akan memberikan tambahan nikmat kepada kamu sekalian”.
Dari Yahya bin Ya’la dari Abu Khubab dari Atha’ diceritakan bahwa ia bertemu Aisyah RA bersama Ubaid bin Umair, lalu mengatakan, “Berikanlah kami berita tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari RasuluLlah SAW yang pernah engkau lihat”.
Aisyah menangis lantas menjawab, “Keadaan RasuluLlah yang mana yang tidak mengagumkan ? di waktu malam Beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan, Wahahai putri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, saya sedang beribadah kepada Tuhanku”.
“Saya ingin lebih dekat denganmu”. Pintaku. Wanita agung ini lantas minta izin untuk mengambil gerabah air. Beliau berwudhu dan menuangkan air begitu banyak. Setelah itu RasuluLlah SAW berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku’, sujud, dan mengangkat kepala dan masih dalam keadaan menangis. Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan azan untuk mengerjakan shalat.
Aku  bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Ya RasuluLlah SAW, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang ?” Beliau menjawab, “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur. Kenapa saya tidak berbuat yang demikian, sedangkan Allah SWT menurunkan kepadaku ayat : Inna fii khalqissamaawaati……sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan siang dan malam , kapal yang berlayar di lautan (membawa) barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air tersebut bumi yang telah mati, berkeliaran di atasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi orang yang berfikir. (QS Al-Baqarah 164).
Atas pandangan ini dapat   ditarik pengertian bahwa Allah SWT selalu bersyukur, artinya Allah SWT akan membalas hamba-Nya yang bersyukur. Pembalasan ini dinamakan syukur sebagaimana firman Allah SWT :
Dan pembalasan orang yang berbuat jahat adalah kejahatan yang setimpal. (QS. Asy-Syura 40)
Menurut satu pendapat, bersyukurnya Allah SWT adalah memberikan pahala atas perbuatan pelakunya sebagaimana ungkapan bahwa hewan yang bersyukur adalah hewan yang gemuk karena selalu diberi makan. Hal ini dapat dikatakan bahwasanya hakikat syukur adalah memuji yang memberikan kenikmatan dengan mengingat kebaikannya. Bersyukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memuji-Nya dengan mengingat kebaikan-Nya.
Sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hambanya bearti Allah SWT memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah ta’at kepada Allah SWT sedangkann perbuatan baik Allah SWT terhadap hambanya adalah memberikan kenikmatan dengan memberikan pertolongan sebagai tanda syukur. Hakikat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan.
Syukur terbagi menjadi tiga, Pertama syukur dengan lisan. Yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua, syukur dengan badan, yakni bersikap selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah SWT dengan konsisten menjaga keagungan-Nya. Syukur lisan adalah syukurnya orang berilmu, ini dapat direalisasikan dengan bentuk ucapan. Syukur dengan badan adalah syukurnya ahli ibadah.
Ini dapat direalisasikan dengan bentuuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang ahli ma’rifat. Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal hanya untuk Allah secara konsisten. Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan pemberian dan menjaga kehormatan. Menurut Hamdun Al-Qashar yang dimaksud mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang.
Menurut Al-Junaid, yang dimaksud syukur adalah sebab, karena dia mencari dirinya yang telah memperoleh kelebihan. Dia selalu menghadap Allah SWT karena memperoleh bagian dirinya. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur adalah mengetahui kelemahan syukur itu sendiri.
Ada yang berpendapat, bahwa syukur di atas syukur adalah lebih sempurna dari syukur itu sendiri. Artinya kita harus memperhatikan syukur karena merasa telah mendapatkan pertolongan dari Allah SWT berupa kenikmatan.
Kita bersyukur di atas syukur dan bersyukur di atas syukurnya syukur sampai kepada sesuatu  yang tidak ada puncaknya. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah menyandarkan berbagai kenikmatan kepada Allah SWT dengan sikap merendah diri. Menurut Al-Junaid yang dimaksud syukur adalah tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pemilik kenikmatan. Sedangkan menurut Ruwaim, yang dimaksud syukur adalah melepaskan kemampuan, merasa semua itu adalah pemberian Allah bukan atas usahanya sendiri.
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syakir orang yang bersyukur adalah orang yang mensyukuri sesuatu yang ada. Sedangkan  yang dimaksud syakur (orang yang ahli bersyukur) adalah orang yang ahli mensyukuri sesuatu yang tidak ada. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, sedangkan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penolakan.
Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adlah orang yang mensyukuri pencegahan. Menurut sebagian yang lain lagi, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri pemberian, dan yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri cobaan. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud syakir adalah orang yang mensyukuri kemurahan, sedang yang dimaksud syakur adalah orang yang mensyukuri penangguhan.
Al-Junaid berkata, “saya bermain di depan Syaikh Sarry As-Saqathi ketika aku berumur  tujuh tahun. Di hadapannya terdapat sekelompok orang yang sedang membicarakan syukur. Dia mengatakan kepadaku, “Wahai anak kecil, apa itu syukur ?” Saya menjawab, ‘Tidak mempergunakan nikmat untuk bermaksiyat kepada Allah SWT’. Beliau mengatakan, “Lisanmu hampir saja mendapatkan bagian dari Allah SWT”. Kemudian Al-Junaid berkata, ‘saya selalu menangis apabila mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sariy’”.
Menurut As-Syibly, yang dimaksud syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatan-Nya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur adalah mengatur sesuatu yang telah ada mencari sesuatu yang belum ada. Menurut Abu Utsman, yang dimaksud syukur orang awam adalah orang yang bersyukur kepada yang memberikan makanan dan pakain.
Sedangkan yang dimaksud syukurnya orang khawash adalah orang yang bersyukur kepada sesuatu yang terlintas di dalam hati.
Menurut satu ungkapan, Nabi Dawud AS pernah mengatakan, “Yaa Tuhan, bagaimana saya bersyukur kepada-Mu sedangkan syukurku kepada-Mu adalah ni’mat darimu.” Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya :”Dawud sekarang Engkau telah bersyukur kepada-Ku”.
Demikian juga yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika bermunajat kepada Allah, “Yaa Allah Engkau telah menciptakan Nabi Adam dengan kekuasaan-Mu dan berbuat demikian…demikian…. Bagaimana tentang syukurku ?” Allah SWT berfirman, “Adam mengetahui hal-hal itu dari-Ku. Oleh karena itu kema’rifatannya merupakan syukur kepada-Ku”.
Menurut satu cerita, seorang laki-laki  memasuki rumah Sahal bin AbduLlah. Dia mengadukan sesuatu kepadanya, “Sesungguhnya seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mengambil barang daganganku.” Setelah itu pencuri mengatakan, “Bersyukurlah kepada Allah SWT.
Seandainya ada pencuri memasuki hatimu, sedang ia adalah setan kemudian ia merusak tauhidmu, apa yang harus kau kerjakan ?”
Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukur kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat. Sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar. Menurut yang lain, yang dimaksud syukur adalah merasa senang dengan pemberian yang belum pernah didapatkan. Al-Junaid mengatakan, Syaikh Sariy apabila hendak menolongku dia bertanya kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, “Wahai Abul Qasim, apa syukur itu ?”
“Jangan meminta pertolongan agar mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT” .
“Dari mana hal itu kau peroleh ?” “Dari tempat-tempat pengajianmu”
Menurut satu pendapat, Hasan bin Ali pernah metapkan syukur sebagai rukun. Dia juga pernah mengatakan, “Ya Tuhan Engkau telah memberikan kenikmatan kepadaku, tetapi Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang bersyukur. Engkau telah memeberikan cobaan kepadaku, namun Engkau tidak mendapati diriku sebagai orang yang sabar.
Engkau tidak pernah menghilangkan kenikmatan hanya disebabkan tidak adanya syukur dan Engkau tidak pernah menimpakan kesusahan disebabkan tidak adanya sabar. Ya Tuhan tiada Dzat Yang Maha Mulia kecuali kemuliaan-Mu”. Sebagian ulama mengatakan, “apabila engkau perpendek tanganmu untuk menghindari balasan, maka panjangkanlah lisanmu dengan bersyukur”.
Menurut satu pendapat, ada empat perbuatan yang tidak menghasilkan buah.
Pertama, orang tuli yang berbicara. Kedua, orang yang memberikan kenikmatan kepada orang yang tidak pernah bersyukur. Tiga, orang yang menanam biji-bijian di tanah yang keras. Ke empat, orang yang menyalakan lampu di tengah sinar matahari”. Ketika Nabi Idris AS diberi ampunan, Beliau bertanya tentag kehidupan. Beliau kemudian balik ditanya oleh malaikat, “Untuk apa?”. “Untuk mensyukurinya, karena sebelumnya saya tidak pernah berbuat untuk mendapatkan ampunan”. Setelah itu Malaikat menurunkan sayapnya dan membawa Nabi Idris AS ke langit.
Dalam cerita yang lain dijelaskan salah seorang dari para Nabi menemukan batu kecil yang mengeluarkan air begitu banyak. Dia sangat mengaguminya. Maka kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. “Saya pernah mendengar Allah SWT berfirman, “Takutlah kepada api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan”. (QS. Al-baqarah 24). “Saya (batu) menangis karena takut kepada Allah SWT”. Kata sang batu.
Nabi tersebut kemudian mendoakan agar Allah SWT menyelamatkan batu itu. Setelah itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang Nabi, “Aku telah menyelamatkan batu itu dari api neraka”. Sang Nabi kemudian pergi. Dan setelah kembali dia melihat air masih memancar dari batu tersebut, karenanya sang Nabi merasa heran. Allah SWT kembali memberikan kemampuan kepada batu tersebut untuk berbicara. Maka Nabi lantas bertanya, “Mengapa engkau masih menangis ?”
“Allah SWT telah mengampuniku.” Jawab sang batu.
Nabi itu kemudian berkata seraya pergi, “Yang pertama ia menangis karena berduka cita dan takut, sedangkan yang kedua ia menangis karena bersyukur dan bahagia”. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang mensyukuri kelebihan adalah orang yang mendapatkan kenikmatan. Allah SWT berfirman, “Jika kamu bersyukur maka Aku Allah akan memberikan tambahan kepada kamu sekalian”. (QS Ibrahim 7).
Sedangkan yang dimaksud orang yang bersabar adalah orang yang mendapatkan cobaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal 46). Sekelompok orang datang kepada Umar bin Abdul Aziz. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang sedang berpidato. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Hindarilah kesombongan”. Dijawab, “Seandainya urusan ini dikaitkan dengan umur, maka tentu diantara orang-orang Islam terdapat orang yang lebih berhak memegang jabatan khalifah,” Jawab sang pemuda.
“Bicaralah”. “Kami bukan utusan raghbah (para pecinta) dan bukan pula termasuk rahbah (orang-orang yang takut kepada Allah). Yang dimaksud raghbah adalah orang-orang yang mendapatkan keutamaan, sedang yang dimaksud rahbah adalah orang yang mendapatkan keadilan.”
“Siapa kalian sebenarnya? “. Tanya khalifah Umar bin Abdul Aziz.
“Kami adalah utusan syukur. Kami datang ke sini untuk bersyukur dan berpaling”.
Menurut satu pendapat, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS “Kasihanilah hamba-hamba-Ku yang mendapatkan cobaan dan keselamatan”.
“Bagaimana halnya dengan orang-orang yang selamat ?” Tanya Musa AS.
“karena sedikitnya mereka bersyukur terhadap keselamatan yang telah Kuberikan .”Jawab Allah. Menurut pendapat yang lain, memuji ditujukan kepada jiwa, sedangkan syukur ditujukan kepada kenikmatan panca indera. Menurut sebagian ulama, memuji adalah permulaan dan bersyukur adalah tebusan.
Dalam hadits sahih disebutkan bahwasanya permulaan orang yang dipanggil ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah SWT dalam segala hal. Menurut sebagian yang lain memuji Allah SWT ditujukan kepada sesuatu yang diberikan, sedangkan syukur ditujukan kepada sesuatu yang dikerjakan.
Pengertian syukur secara terminologi berasal dari kata bahasa Arab, yang berarti berterima kasih kepada atau berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama, syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti untunglah atau merasa lega atau senang .
Sedangkan salah satu kutipan lain menjelaskan bahwa syukur adalah gambaran dalam benak tetang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.
Lain hal dengan sebagaian ulama yang menjelaskan syukur berasal dari kata ‘’syakara’’ yang berarti membuka yang dilawan dengan kata ‘’kufur’’ yang berarti ‘’menutup atau melupakan segala nikmat dan menutup-nutupinya.
Hal ini berdasarkan ayat 7 surat Ibrahim sbb : [14:7] Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Serta dalam surat An-Naml ayat 40 yang dilakukan oleh nabi sulaiman as sbb: [27:40] Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni’mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Jadi hakikat syukur yang sebenarnya adalah ‘’ menampakan nikmat dengan artian bahwa syukur adalah menggunakan pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemeberinya yaitu Allah SWT

Jenis Nikmat

1. Nikmat Jasmani / Fisik
Nikmat fisik adalah suatu kenikmatan yang dirasakan oleh tubuh kita. Contohnya seperti nikmat sehat, nikmat makanan dan minuman, nikmat bersetubuh, nikmat angin sepoi-sepoi, dan lain-lain.2. Nikmat Rohani / Mental
Nikmat rohani adalah nikmat yang dirasakan oleh roh atau jiwa kita. Contoh nikmat jiwa yakni nikmat ilmu pengetahuan, nikmat akal pikiran, nikmat perasaan, dan lain sebagainya.Contoh Perilaku Bersyukur Kepada Tuhan Allah SWT

1. Bersyukur dengan Hati dan Perasaan, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya, seperti contoh dengan cara :
- Menghindari perilaku buruk yang dibenci manusia dan Allah SWT seperti kikir, ria, fasik, mungkar, keji, dendam, sombong, takabur, munafik, dan sebagainya.
- Hati selalu ingat (dzikir) kepada Allah SWT dan juga mengingat mati.
- Memiliki perasaan cinta kepada Allah SWT dan Rasulnya melebihi apapun juga.
- Mengejar kenikmatan akhirat untuk masuk surga.

2. Beryukur dengan Mulut / Ucapan, syukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nikmat yang didapat, yakni dengan cara :
- Terbiasa Membaca Al-Quran atau tadarus
- Menyebarkan dan mengajarkan ilmu yang dimiliki
- Selalu ingat Allah dengan berzikir di manapun dan kapanpun kita berada seperti tahlil, tahmid, istigfar, hauqalah, takbir, ta’awudz, dan lain sebagainya
- Senantiasa berdoa kepada Allah untuk mendoakan diri sendiri, keluarga, kerabat, musuh, dan lain sebagainya.

3. Bersyukur dengan Amal Perbuatan, yakni beramal dengan ketaatan kepada Allah
- Melakukan ibadah sholat lima waktu
- Melaksanakan ibadah puasa wajib dan sunat
- Melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangannya
- Berperang dan berjihad di jalan Allah SWT
- Belajar dan mengajarkan ilmu yang telah didapat
- Tolong-menolong sesama manusia
- Melaksanakan ibadah zakat dan haji jika mampu dan memenuhi syarat

4. Bersyukur dengan Harta Benda, adalah dengan menyalurkan hartanya kepada mereka yang membutuhkan
- Membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan finansial
- Menabung di bank syariah yang jauh dari praktek riba
- Membangun mushala, masjid, sekolah, jembatan, dan sebagainya
- Menyumbang dana untuk membiayai perang jihad
- Membuat rumah sakit umum
- Mendirikan panti asuhan dan panti jompo islam
5. Bentuk shukur orang yang memperoleh kenikmatan berupa jabatan dan kekuasaan adalah dengan memberikan perlindungan, keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran terhadap orang-orang yang ada dalam kekuasaannya.

Manfaat dari syukur adalah menjadikan anugerah kenikmatan yang didapat menjadi langgeng, dan semakin bertambah. Ibn ‘Ata’illah memaparkan bahwa jika seorang salik tidak menshukuri nikmat yang didapat, maka bersiap-siaplah untuk menerima sirnanya kenikmatan tersebut. Dan jika dia menshukurinya, maka rasa shukurnya akan menjadi pengikat kenikmatan tersebut.

Allah berfirman: (Jika kalian bershukur [atas nikmat-Ku) niscaya akan kutambah [kenikmatan itu]).
Jika seorang salik tidak mengetahui sebuah nikmat yang diberikan Allah kepada-Nya, maka dia akan mengetahuinya ketika nikmat tersebut telah hilang. Hal inilah yang telah diperingatkan oleh Ibn ‘Ata’illah.
Lebih lanjut Ibn ‘Ata’illah menambahkan hendaknya seorang salik selalu bershukur kepada Allah sehingga ketika Allah memberinya suatu kenikmatan, maka dia tidak terlena dengan kenikmatan tersebut dan menjadikan-Nya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.
Meskipun pada dasarnya semua kenikmatan pada hakikatnya adalah dari Allah, shukur kepada makhluk juga menjadi kewajiban seorang salik. Dia harus bershukur terhadap apa yang telah diberikan orang lain kepadanya, karena hal ini adalah suatu tuntutan shari‘at, seraya mengakui dan meyakini dalam hati bahwa segala bentuk kenikmatan tersebut adalah dari Allah.
Pengejawantahan syukur tetap harus dilandasi dengan menanggalkan segala bentuk angan-angan dan keinginan. Akal adalah kenikmatan paling agung yang diberikan Allah kepada manusia. Karena akal inilah manusia menjadi berbeda dari sekalian makhluk. Namun, dengan kelebihan akal ini pula manusia memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah. Dengan akal ini manusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak. Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan menginginkan suatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal inilah yang harus ditiadakan dalam pengejawantahan shukur.Allah swt. berfirman:“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat pemberian Ku) kepadamu.” (Q.s. Ibrahim: 7)

Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya’la dari Abu Khabab, dari Atha’ yang berkata, “Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, ‘Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!’ Beliau menangis dan bertanya, ‘Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan? Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku.

Setelah beberapa saat, beliau berkata, ‘Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!’ Aku menjawab, “Saya senang berdekatan dengan Anda,’ tapi aku mengizinkannya. Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku’ dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis.
Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh. Aku bertanya kepada beliau, ‘Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?’ Beliau menjawab, ‘Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku:
‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.’ (Q.s. Al Baqarah: 164).”Dengan ayat ini, Allah swt. memiliki sifat syakur. Artinya, memberi pahala hamba yang bersyukur, sebagai balasannya adalah diterimanya syukur itu sendiri. Sebagaimana difirmankanNya, “Balasan bagi tindak kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (Q.s. Asy Syura: 40).

Dikatakan bahwa bersyukurnya Allah adalah pemberian balasan yang melimpah bagi amal yang sedikit, seperti kata pepatah, “Seekor binatang dikatakan bersyukur, jika ia mencari makanan melebihi jerami yang diberikan kepadanya.” Kita mungkin dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji Sang Pemberi kebaikan dengan mengingat ingat anugerah yang telah diberikan Nya. Jadi bersyukurnya seorang hamba kepada Allah swt.

adalah pujian kepada Nya dengan mengingat ingat anugerah Nya kepadanya. Sebaliknya, bersyukurnya Allah swt. kepada hamba Nya adalah dengan mengingat kebaikan hamba kepada Nya. Kebaikan si hamba adalah kepatuhan kepada Allah swt, sedangkan kebaikan Allah adalah memberikan rahmat Nya kepada si hamba dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur kepada Nya. Syukur seorang hamba, Pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan dalam hati atas anugerah dan rahmat Allah swt.

Syukur dibagi menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam latar musyahadah dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan. Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum ‘arifin bersyukur dengan istiqamah mereka terhadap Nya di dalam semua perilaku mereka.

Abu Bakr al Warraq berkata, “Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah terhadap, anugerah tersebut dan menjaga penghormatan.”
Hamdun al Qashshar menegaskan, “Bersyukur atas anugerah adalah bahwa engkau memandang dirimu sebagai parasit dalam syukur.”
Al-junayd berkomentar, “Ada cacat dalam bersyukur, karena manusia yang bersyukur melihat peningkatan bagi dirinya sendiri; jadi ia sadar di sisi Allah swt. lebih dari bagian dirinya sendiri.”

Abu Utsman berkata, “Syukur berarti mengenal kelemahan dari syukurnya itu sendiri.” Dikatakan, “Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik Nya. Dan taufiq Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga.”
Dikatakan, “Bersyukur adalah menisbatkan anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan.”

Al-junayd mengatakan, “Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat.” Ruwaym menegaskan, “Bersyukur adalah engkau menghabiskan seluruh kemampuanmu.” Dikatakan, “Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada.”

Dikatakan, “Orang yang bersyukur berterimaksih atas pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih karena tidak diberi.” Dikatakan juga, “Orang yang bersyukur berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih atas kemelaratan.”
Dikatakan, “Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda.”

Al-junayd menjelaskan, “Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku, ‘Wahai anakku, apakah bersyukur itu?’ Aku menjawab, ‘Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Nya.’ Ia mengatakan, ‘Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak’!” Al-junayd mengatakan, ‘Aku senantiasa menangis mengingat kata kata as Sary itu.”
Asy-Syibly menjelaskan, “Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri.”
Dikatakan, “Syukur adalah kendali yang ada serta jerat bagi apa yang tiada.”

Abu Utsman berkata, “Kaum awam bersyukur karena diberi makanan dan pakaian, sedangkan kaum khawash bersyukur atas makna makna yang datang di hati mereka.”

Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, “Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepacla Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri adalah nikmat dari Mu?” Allah mewahyukan kepadanya, “Sekarang, engkau benar benar telah bersyukur kepada Ku.”

Dikatakan bahwa Musa as. mengatakan dalam doa munajatnya, “Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada Mu?” Allah Menjawab, “Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada Ku.”
Diriwayatkan bahwa salah seorang Sufi mempunyai sahabat yang ditahan oleh Sultan.

Sufi itu diminta supaya datang, dan sahabatnya itu mengatakan kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah swt.! ” Lalu sahabatnya itu didera, dan ia menulis surat kepada si Sufi, “Bersyukurlah kepada Allah swt.! ” Kemudian seorang Majusi yang sedang sakit perut didatangkan dan dibelenggu, salah satu borgol rantainya dikenakan pada kaki sahabat, dan borgol lainnya dikenakan pada kaki Majusi. Pada malam hari, si Majusi sering bangun, yang berarti sahabat itu terpaksa ikut bangun sampai si Majusi selesai melepaskan hajatnya.
Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya, “Bersyukurlah kepada Allah swt.!” Sahabatnya (si Sufi) bertanya, “Berapa lama engkau akan mengatakan kalimat ini: Cobaan apa yang lebih berat dari ini?” Sahabatnya menjawab, “Jika sabuk yang dikenakan orang kafir pada pinggangnya dikenakan pada pinggangmu, sebagaimana belenggu kakinya juga dikenakan pada kakimu, maka apa yang akan engkau perbuat?”
Seseorang mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, “Seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!” Sahl berkata, “Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid, apa yang akan engkau perbuat?”.Dikatakan,
“Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya.”
“Syukur adalah menyibukkan diri dalam memujiNya karena Dia telah memberimu apa yang engkau tidak pantas menerimanya.”Al-Junayd menuturkan, “Manakala as-Sary berkehendak untuk mengajarku, biasanya ia mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku. Suatu hari ia bertanya kepadaku, ‘Wahai al-Junayd, apakah syukur itu?’ Aku menjawab, ‘Syukur adalah jika tidak satu bagian pun dari nikmat Allah swt. digunakan untuk bermaksiat kepada Nya.’ Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana engkau sampai pada (pengetahuan) ini.’ Aku menjawab, ‘Bersama majelis-majelis Anda’.”

Diceritakan bahwa al-Hasan bin Ali pernah bergayut pada sebuah tiang dan bermunajat, “Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat aku, namun tidak Engkau dapati aku bersyukur. Engkau telah mengujiku, namun tidak Engkau dapati aku bersabar. Namun Engkau tidak mencerabut nikmat karena aku tidak bersyukur, dan tidak melanggengkan bencana ketika kutinggalkan kesabaran. Tuhanku, tidak ada yang datang dari Yang Maha Pemurah, kecuali kemurahan.”

Dikatakan, ‘Jika tangan mu tidak bisa engkau gunakan, maka engkau mesti lebih banyak mengucap syukur dengan lisanmu. “
Dikatakan pula, “Ada empat amal yang tidak berbuah: Mempercayakan rahasia kepada orang yang bisu, memberi nikmat kepada orang yang tidak mau bersyukur, menebar benih di tanah yang tandus, dan menyalakan lampu di bawah cahaya matahari.”

Juga dikatakan bahwa ketika Idris as. memperoleh kabar gembira pengampunan, beliau memohon diberi panjang umur. Ketika ditanya tentang permohonannya itu, beliau menjawab, “Agar aku dapat bersyukur kepada Nya, karena sebelum ini aku telah berjuang hanya untuk memperoleh ampunan.” Kemudian salah satu malaikat mengembangkan sayapnya dan membawanya ke langit.

Diceritakan bahwa salah seorang Nabi – semoga Allah swt. melimpahkan salam kepadanya – berjalan melewati sebuah batu kecil yang memancarkan air, yang membuatnya kagum. Kemudian Allah menjadikan batu itu berbicara kepadanya, katanya, “Ketika aku mendengar Allah swt. berfirman, ‘Takutlah neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.’ (Q.s. At Tahrim: 6). Aku pun menangis karena takut.”

Nabi itu kemudian mendoakan, agar Allah swt. melindungi batu itu dari api neraka, dan Allah lalu mewahyukan kepadanya, ‘Aku telah menyelamatkannya dari neraka.” Maka Nabi itu lalu meneruskan perjalanannya. Ketika kembali melewati batu itu, ia melihat air menyembur darinya seperti sebelumnya, yang membuatnya heran. Allah swt. menjadikan batu itu bisa berbicara, dan Nabi itu lalu bertanya, “Mengapa engkau masih menangis sedangkan Allah telah mengampunimu?” Batu itu menjawab, “Sebelumnya adalah tangis takut dan sedih, sekarang adalah tangis syukur dan gembira.”
Dikatakan, “Orang yang bersyukur selalu meningkat karena ia berada di hadapan nikmat.”Allah swt. berfirman,
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat Ku) kepadamu.” (Q.s. Ibrahim: 7).
Orang yang sabar berada bersama Allah, karena ia berada di hadirat kesaksian kepada Nya yang memberikan cobaan.
Allah lalu berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang orang yang sabar” (Q.s. AI Anfal: 46).

Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar berkata kepadanya, “Coba, yang tua-tua dulu berbicara! ” Mendengar itu si pemuda berkata, “Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda.” Maka Umar berkata, “Bicaralah!
Pemuda itu menjelaskan, “Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami, dan tentang soal takut, keadilan. Anda pun telah mengamankan kami dari ketakutan.” Maka Umar pun bertanya kepadanya, “Lantas, siapa kalian ini?” Ia menjawab, “Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur.
Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang.” Dan mereka lalu bersenandung:
Alangkah malangnya bahwa syukurku adalah diam.
Atas apa yang telah kau lakukan,sedangkan kebaikanmu berbicara.
Aku melihat anugerah dari mudan aku menyembunyikan; karenanya, di tangan yang pemurah jadi pencuri.Diceritakan bahwa Allah swt. menyampaikan wahyu kepada Musa as, ‘Aku melimpahkan rahmat kepada hamba hamba Ku: Mereka yang mendapat cobaan maupun mereka yang terampuni.” Musa bertanya, “Mengapa pula terhadap mereka yang terampuni?” Allah swt. menjawab, “Dikarenakan kecilnya syukur mereka atas dihindarkannya mereka dari penderitaan itu.”
Dikatakan, “Pujian itu bagi nafas, dan syukur atas nikmat nikmat anggota badan.”Dikatakan pula, “Pujian sebagai permulaan dari Nya, dan syukr sebagai tebusan darimu.” Dalam hadis shahih disebutkan, “Yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka yang selalu memuji kepada Allah swt. dalam segala hal.”
Dikatakan, “Pujian hanya bagi Allah terhadap apa yang diberikanNya, dan syukur atas apa yang diperbuat oleh Nya.”

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s